
Arumi, dan Widya telah tiba di cafe lebih dulu. Baru setelah nya Zahra memarkirkan mobilnya dekat mobil Widya di parkir. Arumi dan Widya menunggu Zahra sebelum masuk kedalam, mereka akan masuk bersama. Walaupun Widya sedikit terpaksa, itu semua Arumi yang membuat nya tetap berdiri di luar.
"Kenapa kalian tidak masuk lebih dulu?" Tanya Zahra melihat kedua sahabatnya masih diluar.
"Kita nunggu, makanya masih disini." Jawab Widya ketus.
Arumi menyenggol Widya, sahabat nya itu sekarang tidak suka dengan Zahra.
"Maaf Wid, gak apa jika kalian lebih dulu masuk." Ucap Zahra tak enak.
"Dari tadi kek, udah pegel juga." Widya langsung masuk meninggalkan kedua sahabatnya itu di luar. Namun beberapa detik setelah nya kembali lagi.
"Ayo mi masuk! Nanti kamu kenapa-kenapa." Melirik Zahra. Widya sudah tidak mau percaya saat ini, karena Zahra pernah membuat Arumi menangis dengan kata-kata nya.
"Widya," ucap Arumi.
"Gak apa mi, ayo masuk duluan aja." Zahra tersenyum pada Arumi, ia mengerti jika Widya marah dengan nya.
"Ayo kita sama-sama ra!" Arumi mengajak Zahra yang menyuruh Arumi lebih dulu mengikuti Widya.
"Tapi mi-
"Ayo Zahra!" Arumi tetap memaksa Zahra agar mengikuti nya. Widya yang melihat itu lebih dulu berjalan masuk.
Akhirnya Zahra masuk bersama Arumi di belakang Widya.
"Mau pesan minum apa?" Tanya Arumi pada kedua sahabatnya.
"Samakan aja mi." Jawab Zahra tersenyum sambil melirik Widya.
"Mas, biasa yah." Ucap Widya memesan seperti biasa.
"Siap mbak Widya, pesannya tiga kan?" Ucapnya yang memang sudah kenal dengan mereka yang sering ke tempat ini, dulu.
Widya melirik Zahra, sebenarnya ia ingin seperti dulu bersama sahabatnya. Namun perkataan Zahra menyakiti hati nya dan Arumi, itu tidak bisa dengan mudah untuk dirinya memaafkan Zahra.
"Mbak Zahra, baru kelihatan mbak?" Tanya nya melirik Zahra yang diam saja.
__ADS_1
"Oh iya, aku sibuk kuliah. Aku beda kampus soalnya sekarang."
"Jadi pesanan nya seperti biasa aja yah?" Tanyanya lagi pada mereka.
"Iya, seperti biasa aja." Jawab Arumi sambil tersenyum.
"Have fun yah, aku masuk dulu siapin minuman nya." Mereka mengangguk tersenyum.
Setelah orang yang menanyakan minum pergi, mereka bertiga hanya diam. Arumi yang jadi penengah sekarang, harus bisa membuat suasana nya tidak canggung.
"Zahra, bagaimana hubungan kamu sama Yusuf, ra?" Tanya Arumi. Widya juga ikut melirik kearah Zahra, ia juga ingin tahu hubungan antara Yusuf dan Zahra.
Bukannya menjawab, Zahra malah menangis dengan pertanyaan Arumi. Ia merasa bersalah pada sahabatnya itu.
Zahra memegang tangan Arumi lalu menciumnya. Karena tiba-tiba, Arumi menarik tangannya.
"Zahra, kamu kenapa seperti itu?" Tanya Arumi menjauhkan tangannya.
"Arumi, aku minta maaf. Aku berdosa selama ini sama kamu. Menjauhkan kalian akibat kebodohan ku sendiri." Air mata Zahra mengalir, ia merasa sangat bodoh meninggalkan kedua sahabatnya.
"Zahra, bangun! Jangan seperti ini." Arumi membantu Zahra bangun, kembali ke tempat duduknya.
Lalu melirik Widya.
"Aku juga mau minta maaf sama kamu Wid, walaupun mungkin kesalahan yang aku buat tidak bisa semudah itu kalian maafkan. Tapi aku benar-benar tulus kali ini meminta maaf." Ucapnya melihat seseorang mengantar minuman. Zahra berhenti sejenak sambil menoleh ke samping, agar tidak terlihat jika dirinya sedang menangis oleh orang.
"Silahkan minumannya mbak."
"Terima kasih."
Setelah merasa orang itu telah pergi, Zahra mulai akan melanjutkan lagi ucapannya.
"Aku sekarang sedang mengandung, dengan usia kandungan satu bulanan." Ucapnya mengelus perutnya.
Widya yang merasa Zahra sedang memamerkan kandungan nya, segera memotong lagi ucapan yang akan di ucapkan Zahra.
"Tidak perlu pamer, ra. Arumi juga sedang mengandung lebih tua dari usia kandungan kamu."
__ADS_1
"Bukan itu maksud aku Wid."
"Lalu apa?"
"Wid, kita dengarkan dulu apa yang mau Zahra sampaikan." Arumi memegang tangan Widya. Hingga membuat sahabat nya itu menghela nafas ke samping.
"Maka dari itu aku minta maaf dengan kalian. Aku mengandung bukan karena Yusuf sudah mencintai ku." Ucapnya kembali meneteskan air mata. Arumi dan Widya saling menatap.
"Aku memberi minuman dengan dicampur serbuk perangsang, pada Yusuf. Tapi bukan bahagia yang aku dapatkan, Yusuf semakin membenciku."
"Zahra."
Zahra mencoba tersenyum pada sahabatnya. "Aku akan bahagia dengan calon anakku, selalu itu yang aku pikirkan. Tapi setiap Yusuf bicara dengan bunda nya, membuat hati ini sangat sakit. Yusuf begitu mencintai kamu, Arumi. Walaupun bunda selalu memberikan pengertian pada Yusuf, tetap di pikiran nya saat ini hanya kamu."
Widya yang menatap sahabatnya merasa iba, Zahra terlihat sangat menyedihkan, ia sedang hamil namun harus berpikiran seperti itu.
Bukan hanya Zahra sebenarnya, Arumi juga sama. Apalagi suaminya akan menikah lagi pikirnya.
"Kamu jangan bersedih seperti itu ra, ingat saat ini kalau kamu sedih, calon anak kamu juga akan merasakan itu."
"Aku sangat minta maaf, aku pernah mengatai kamu yang tidak-tidak mi."
"Aku memaafkan itu ra, hanya perkataan itu saja aku tidak masalah. Kamu dan Widya adalah sahabat aku, kita harus saling memaafkan." Ucap Arumi memeluk Zahra.
"Terima kasih mi, kamu sudah mau memaafkan aku." Ucapnya melirik Widya yang diam saja menatapnya sedari tadi.
"Widya," ucapnya menatap Widya, begitu juga dengan Arumi.
Widya langsung menghampiri Zahra dan memeluk nya. "Aku maafkan kamu ra, aku hanya emosi dengan apa yang kamu lakukan dulu pada Arumi." Zahra membalas pelukan Widya, Arumi juga ikut memeluk kedua sahabatnya.
Selalu dukung othor bebu sayang, annyeong love...
Baca juga cerita bebu yang lain 😘
IG : @istimariellaahmad98
See you...
__ADS_1