Kisah Cinta Arumi

Kisah Cinta Arumi
Paham salah


__ADS_3

Arumi hanya menyerahkan tugas laporan nya, lalu setelah absen ia izin untuk kembali. Arumi ingin menemui suaminya ke kampus. Arumi tetap memikirkan kejadian saat baru saja ia sampai tadi, Yusuf selalu menemuinya, ia sangat kasihan dengan Zahra. Pantas saja jika Zahra menuduhnya sebagai pelakor, karena mungkin di pikiran Zahra hanya Arumi satu-satunya wanita yang selalu membuat Yusuf ingin menceraikan nya.


Arumi telah sampai di parkiran kampus, tempat dimana suaminya mengajar, ia turun dari mobil, lalu berjalan untuk mencari tahu keberadaan Abyan.


Arumi melihat dua mahasiswa yang seperti tidak asing baginya, wajah mahasiswa itu Arumi seperti pernah melihat nya.


"Permisi," Arumi menghampiri dua mahasiswa yang ia lihat.


"Iya, siapa ya?"


"Maaf, saya mencari ruangan bapak Abyan. Apa kalian bisa mengantar saya?"


Kedua mahasiswa itu menatap bingung ke arah Arumi.


Arumi menatap dirinya, takut ada yang salah dengan penampilan nya, namun tidak ada yang salah pikirnya.


"Ada apa mencari bapak Abyan?" tanya nya seperti tidak suka.


"Saya istrinya," jawab Arumi tersenyum.


Kedua mahasiswa itu melongo, "ah iya, gue baru inget Vi, mbak ini kan istri pak Abyan."


"Iya gue juga mikir tadi kayak pernah lihat," balasnya.


"Apa kalian bisa mengantar saya?" tanya Arumi lagi. Karena mereka sibuk dengan obrolan nya sendiri.


"Mari buk saya antar."


"Panggil saja saya Arumi," Arumi tersenyum, lalu mengikuti kedua mahasiswa itu, untuk di antar ke ruangan Abyan.


"Terima kasih," ucap Arumi setelah sampai di depan ruangan Abyan.


"Sama-sama mbak, kita permisi dulu." Arumi menjawab dengan mengangguk dan tersenyum.


Arumi berbalik hendak mengetuk pintu, namun pintu nya tidak tertutup rapat. Arumi berniat untuk memberikan kejutan pada Abyan, ia memegang handle pintu dan mendorong nya.


Namun betapa terkejutnya Arumi, saat melihat suaminya di dalam ruangan terlihat memegang tangan seorang wanita. Senyuman Arumi hilang seketika, "Mas Aby."


Abyan dan wanita yang berada di dalam menoleh ke arah Arumi.


"Arumi," Abyan terkejut saat menemukan istrinya berada di ambang pintu.

__ADS_1


"Apa yang mas Aby lakukan?" tanya Arumi saat tangan Abyan masih memegang tangan wanita itu.


Abyan menyadari tatapan Arumi pada tangannya, dengan cepat ia melepaskan tangan nya dari wanita itu.


"A-arumi kamu ngapain kesini?"


Arumi hanya tersenyum menahan sesuatu yang akan meluncur dari pelupuk matanya.


"Kenapa kalau Arumi kesini? mas Aby merasa terganggu? baiklah. Arumi pergi! permisi," Arumi kembali menutup pintu nya cepat dan berbalik menuju dimana mobilnya di parkir.


"Arumi... Hei, bukan begitu, ini kamu salah paham," ucap Abyan mengejar Arumi yang sudah berlalu mempercepat langkah kakinya.


"Arumi. Berhenti! mas mau jelasin, ini salah paham."


Arumi tetap tidak menggubris perkataan Abyan, ia tetap mempercepat langkah nya.


Namun langkah kaki Abyan lebih lebar dari pada Arumi, Abyan menahan tangan Arumi sambil menghadangnya.


Arumi hanya diam tidak berkata apapun, perasaan yang masih kacau menurut nya akan lebih tenang ketika ia bercerita pada suaminya. Namun yang terjadi perasaan nya semakin berkabut.


"Arumi, dengarkan mas mau jelasin dulu. Apa yang kamu lihat tadi, itu salah paham," Abyan mencoba mengatakan yang sebenarnya pada Arumi, namun istrinya tidak merespon sama sekali.


Arumi masuk ke dalam mobilnya cepat, Abyan mengejar Arumi, namun Arumi lebih dulu masuk sampai Abyan hanya mengetuk-ngetuk jendela mobil Arumi.


"Arumi, ini salah paham. Dengarkan mas dulu! Arumi."


Arumi hanya meliriknya, lalu kembali melajukan mobilnya meninggalkan area kampus.


"Arumi, ini salah paham," lirihnya yang sudah jelas tidak akan terdengar oleh Arumi. Abyan mengusap wajah nya kasar, istrinya kembali marah dengannya setelah kejadian kemarin.


...******...


Abyan sudah selesai mengajar, ia mempercepat laju mobilnya agar segera sampai di rumah mertuanya.


"Assalamu'alaikum," ucapnya tersenyum ramah saat pembantu rumah Arumi yang membukanya.


"Wa'alaikum salam."


"Arumi, sudah di atas bi?" tanya nya.


"Iya, non Arumi diatas. Seperti nya sedari pulang belum keluar dari kamarnya," ucapan bibi membuat Abyan pamit masuk pada bibi.

__ADS_1


Abyan takut untuk mengetuk pintu kamar Arumi, ia takut istrinya kembali menghindar dan tidak bicara padanya.


"Assalamu'alaikum, Arumi." Pada akhirnya Abyan mengetuk pintu kamar Arumi.


"Wa'alaikum salam," Arumi membuka pintu kamar nya tersenyum.


"Mas sudah pulang?" Arumi menyambut Abyan seperti biasanya, ia mencium tangan suaminya itu lalu mengambil tas yang di pegang Abyan.


"Arumi, mas-


"Mas pasti lelah kan? sudah Arumi siapkan air hangat nya, setelah itu kita turun dan makan." Arumi masuk membawa tas Abyan.


Abyan bingung dengan istrinya, bukannya tadi istrinya itu marah. Lalu kenapa malah biasa saja sekarang.


Arumi menoleh menatap suaminya yang masih di depan pintu, "Mas Aby, kenapa tidak masuk? sudah tidak mau di kamar ini?"


Abyan buru-buru masuk mendengar ucapan Arumi, walaupun masih dalam kebingungan dengan istrinya.


"Kamu sakit?" tanya Abyan.


Arumi mengernyitkan dahinya bingung dengan pertanyaan Abyan, ia mendekati Abyan dan mengambil tangannya, menempelkan punggung tangan Abyan di dahinya, agar bisa merasakan apakah Arumi sedang demam atau tidak.


"Apa Arumi panas?" Abyan menggelengkan kepalanya.


"Mas Aby kenapa sih? udah sana mandi dulu, setelah itu makan, eh salah sholat dulu." Abyan hanya mengangguk, Arumi menggeleng tersenyum mendorong suaminya untuk masuk kamar mandi.


"Kenapa begini? harusnya kan marah ya? tadi aja gak mau dengar penjelasan aku."


"Tapi lebih bagus begini sih, karena tadi juga memang salah paham, dari pada aku nya di cuekin." Abyan langsung mengguyur tubuhnya dengan air.


"Astaghfirullah, ya Allah. Aku tidak bisa begini, aku tidak mau membuat mas Aby semakin melakukan perbuatan tidak baik. Jika aku pura-pura tidak sakit hati, apa mungkin mas Aby akan terus menyakiti perasaan ku?" Arumi tadinya ingin biasa saja, namun ia tidak sanggup, Arumi harus mogok bicara lagi.


Ia ingin Abyan menjelaskan nanti, ia juga tidak ingin suudzan dengan suaminya.


Jangan suudzan mi, dosa lu.


Terserah saya thor, itu suami saya. Memangnya, othor yang tidak ada suami.


Iya tidak ada, awas yah mau aku buat kamu nangis kejer baru tau.


Selalu dukung othor bebu sayang, annyeong.

__ADS_1


__ADS_2