Kisah Cinta Arumi

Kisah Cinta Arumi
Peluang tidak akan datang dua kali


__ADS_3

Sebelumnya


"Itu Aby datang." Mereka tersenyum Abyan membawa makanan untuk sang istri. Namun terkejut saat melihat siapa yang ikut di belakang Abyan.


Mereka semua melirik Arumi yang juga terkejut, mengapa suaminya membawa seorang wanita ke ndalem pondok.


"Assalamu'alaikum," ucap Abyan tersenyum.


"Wa'alaikum salam."


"Aby, kamu membawa siapa kemari?" Tanya abah yang memang tidak tahu dengan wanita itu.


"Ngapain mas Aby membawa wanita ini, kesini?" Tanya Almira tak suka dengan wanita yang bersama abangnya.


"Almira, kamu tidak sopan. Dosen Naila ini tamu, jaga ucapan kamu!" Arumi yang memang tidak selera makan, kembali tidak ingin memakan yang di belikan suaminya. Apalagi suaminya bukan sibuk memberikan makanan nya agar sang istri cepat mengisi perutnya, malah berdebat seperti membela tamu spesialnya.


"Maaf saya kemari, hanya ingin bersilaturahmi dan ada urusan penting dengan pak Abyan." Ucapnya tentu saja membuat Almira dan Widya memutar matanya malas.


"Bersilaturahmi dengan suami orang."


"Harus sekali malam ini?" Tanya Widya.


"Tidak juga. Kebetulan tadi saya beli makanan di depan dan ketemu pak Abyan, jadi sekalian ikut kemari."

__ADS_1


"Mas, makanan buat mbak Arumi." Almira berdiri untuk mengambil kresek yang ada di tangan Abyan. Naila menatap tak suka kearah Arumi, namun sesekali tersenyum untuk menutupi wajah tak suka nya.


"Oh iya mas lupa, kamu kan belum makan. Tapi Dosen Naila juga bungkus makanan untuk sekalian makan bareng kita. Biar sama-sama dan kamu juga bisa mengenal dosen Naila." Ucap Abyan sambil tersenyum tanpa memikirkan perasaan istrinya dengan apa yang di ucapkan.


"Aby, apa yang kamu lakukan? Bukannya kamu tadi ingin makan bersama istri kamu saja?"


"Maaf pak, mungkin saya mengganggu acara makan malam bapak bersama ibu Arumi." Arumi tersenyum, bagus jika sudah merasa menjadi pengganggu.


"Tuh tahu." Almira dan Widya bersamaan. Naila menajamkan matanya melihat Almira dan Widya.


"Aroma pelakor menyeruak di seluruh ruangan," lirih Widya.


"Oh tidak. Sama sekali tidak mengganggu, kita malah senang jika ada teman baru. Iya kan sayang?" Abyan seperti tidak masalah jika harus makan bertiga dengan orang asing.


"Nggak. Mbak Arumi mau makan dengan Almira di kamar, jika mas Aby ingin makan bersama orang itu terserah. Ayo mbak!" Ajak Almira mengajak Arumi untuk ke kamarnya dan di ikuti oleh Widya.


"Bukannya memang tidak baik, jika seorang wanita bermalam di tempat temannya yang sudah berkeluarga? Apalagi saat malam." Kali ini Affan yang berucap menatap Naila tajam.


"Namanya juga orang tidak tahu malu mas." Najib juga ikut menimpali. Ucapan Najib sangat menyakiti hati Naila, namun itu jika untuk orang yang tahu akan malu. Naila kan memang tidak tahu malu, jadi hanya tak suka saja dengan ucapan Najib.


"Duduk saja dulu sebentar, tidak baik tamu hanya berdiri saja." Abah menyuruh Naila untuk duduk, beliau merasa kasihan jika seorang wanita bertamu hanya berdiri.


"Anda sudah disini dosen Naila, jadi tidak perlu sungkan. Makanan nya nanti juga keburu dingin, jika harus di bawa pulang dulu." Ummi Dalilah hanya mneggelengkan kepalanya melihat anaknya mementingkan wanita itu, tanpa memikirkan istrinya yang sedang hamil.

__ADS_1


"Kalian tetap disini, jangan biarkan Aby hanya berdua dengan seorang wanita. Ummi mau melihat MENANTU ummi, sudah makan atau belum." Ummi dalilah berdiri untuk melihat Arumi di dalam kamar Almira.


Abyan hanya nampak berfokus pada Naila, sambil membuka bungkus makanan yang tadi sudah ia pisahkan dengan milik Arumi.


Affan dan istri nya, Najib juga abah masih setia disana menemani mereka berdua makan. Abyan seperti sedang terpengaruh, otaknya mungkin kali ini tidak dapat berpikir bahwa istrinya sedang menanti di dalam kamar Almira.


"Ummi, apa wanita itu sudah pergi?" Tanya Almira. Arumi juga Widya menatap ummi untuk menunggu jawaban nya.


Ummi menatap makanan yang ada di depan menantunya masih utuh, tidak di sentuh sedikitpun. "Kenapa kamu belum memakannya?"


"Arumi tidak selera ummi, dari tadi mas Aby yang memaksa agar bisa membelikan sesuatu untuk Arumi." Tentu membuat tiga orang di dekat Arumi saling pandang, apa Abyan sudah janjian? Atau memang kebetulan, pikir mereka.


"Kamu makan saja dulu, kasihan calon bayi kamu kalau perut kamu di biarkan kosong." Ummi Dalilah tidak ingin menantu dan calon cucunya merasakan lapar.


"Iya mbak, harus makan yang banyak. Jangan pikirkan masalah lain, yang terpenting itu mbak dan ponakan Al sehat dan bahagia."


"Iya mi, kamu hanya harus fokus dengan kandungan kamu. Tidak perlu membebani pikiran kamu dengan sesuatu yang merugikan kamu sendiri."


"Tenang aja, Arumi akan menjaga kesehatan Arumi. Arumi juga akan makan ini." Membuka makanan nya, membaca do'a lalu melahapnya.


"Enak juga, Arumi kira tidak selera, tapi ini menambah selera makan Arumi." Semuanya tersenyum menatap Arumi lahap dengan makanan nya.


Untuk readers bisa bergabung di grup bebu yah.

__ADS_1


Selalu dukung othor bebu sayang, annyeong love...


See you...


__ADS_2