Kisah Cinta Arumi

Kisah Cinta Arumi
Sakit hati


__ADS_3

Arumi sudah selesai di sore hari, ia akan segera pulang untuk cepat menemui suaminya dirumah. Berterima kasih atas uang transfer nya, karena membuat Arumi bisa membayar uang semester.


Mengendarai mobil nya dengan kecepatan sedang, sambil terus tersenyum mengingat wajah tampan suaminya itu. Ia bersyukur dapat di cintai seseorang yang sudah menjadi suaminya saat ini.


Mobil Arumi telah memasuki pekarangan rumah nya, ia melihat mobil suaminya itu sudah terparkir di halaman rumah. Arumi yakin, suaminya sudah pulang sejak tadi dari kampus.


"Assalamu'alaikum," ucap Arumi dari luar.


Namun sepertinya tidak di jawab, dan Arumi langsung masuk saja tanpa menunggu ada yang membuka.


"Mungkin mas Aby di ruang kerjanya," pikir Arumi menuju ruang kerja Abyan.


Arumi baru saja ingin mengetuk pintunya dengan tersenyum, namun terhenti. "Saya sudah bilang jib, saya belum bisa mencintai Arumi. Saya mengatakan itu hanya agar Arumi tidak sakit hati," ucapan Abyan seperti petir yang menyambar.


Seperti pertama kali dirinya mulai menerima Abyan, saat dirinya menjadi seorang istri. Namun saat ini, di hancurkan oleh pembicaraan suaminya bersama saudara angkat sekaligus sahabat nya di dalam ruang kerja.


"Astaghfirullah," Arumi memegang dadanya sesak sekali, terasa tercekat sesuatu di dalam dadanya itu.


Air mata yang sudah lama tidak ia keluarkan, kini kembali tumpah saat mendengar sendiri dari mulut suaminya.


Arumi berjalan pelan keluar dari dalam rumahnya itu, menuju mobilnya dan melajukan nya kembali.


"Tapi jib, saya sudah mulai membuka hati sekarang, bukankah harusnya memang seperti itu? seorang suami mencintai istrinya?"


"Tidak salah by, yang salah itu jika sudah memiliki istri, tapi masih mencintai orang lain. Kalau kamu sudah mulai membuka hati kamu untuk istri kamu, itu sangat bagus."


"Iya jib, saya kasihan dengan Arumi jika saya tetap tidak mencintai nya. Tapi sudah sore begini kenapa belum pulang ya?"


"Mungkin, sedang di perjalanan."

__ADS_1


"Bisa jadi dia baru keluar, kamu mau minum jib?" tanya Abyan terkekeh, saat dirinya baru menawarkan minuman.


"Dari sejak rapat, sampai ngobrol lama baru ditawari minum. Ning Arumi cepat pulang, kasi aku air."


Abyan tertawa melihat sahabatnya itu.


...******...


"Mas Aby, Arumi gak nyangka sama kamu mas, kenapa harus bohong jika kamu belum bisa cinta sama Arumi," ucapnya sambil menangis saat mengendarai mobil nya.


"Aku sangat senang saat kamu berkata mencintai Arumi, tapi sekarang kamu hancurkan saat aku mendengar ucapan, bahwa kamu hanya berbohong agar aku tidak sakit hati." Arumi menghentikan mobilnya di tepi jalan, ia menangis terisak-isak.


Tringg tring...


Suara ponselnya menghentikan suara tangis, dan hanya menyisakan isakan nya. Arumi melihat siapa yang menelepon nya, saat tau itu dari Abyan, Arumi kembali meletakkan ponselnya dan melanjutkan tangisannya itu.


Setelah beberapa menit, ia mencoba menenangkan dirinya. Kali ini tujuan utamanya adalah rumah ayah dan bunda, Arumi akan pulang kerumahnya.


...******...


"Wa'alaikum salam," sahutnya dari dalam.


"Zy, bunda kangen banget sama kamu," ucap bunda faza setelah membuka pintu.


"Zy juga kangen sama bunda," memeluk bundanya erat.


"Sama ayah gak nih?" tanya ayah Salman yang baru keluar.


"Tentu saja zy juga kangen banget sama ayah," beralih memeluk ayahnya.

__ADS_1


"Kamu sendirian nak?" tanya ayah karena tidak melihat Abyan.


"Zy- zy sendirian aja ayah, mas Aby sedang kerja dengan ustadz Najib. Mungkin nanti akan menyusul."


"Kamu tidak berbohong kan zy?" tanya bunda melihat gerak gerik anaknya itu.


"Bunda apaan sih, untuk apa zy berbohong. Mas Aby memang sedang bekerja bun," ucapnya tidak menatap bundanya.


"Yaudah, kita masuk dulu."


"Kamu baru dari kampus langsung kesini? kamu sudah izin kan zy?" tanya bunda.


"Zy sudah izin dengan mas Aby bunda, zy mau naik ke kamar, zy mau mandi dulu."


"Baiklah, kamu mandi dulu, setelah itu turun lagi yah, bunda sama ayah kangen banget sama kamu." Karena mereka sudah berapa minggu tidak bertemu, mereka sangat merasa kehilangan sosok anak yang sering mereka manjakan dirumahnya.


"Iya bunda, zy bersih-bersih dulu ke atas."


Di jawab anggukan kepala oleh ayah dan bunda.


Arumi berjalan cepat naik ke atas menuju kamarnya, mengunci pintunya rapat.


Menuju ranjang yang sudah lama tidak ia tempati.


Kembali menangis, mengingat ucapan Abyan yang terngiang di telinganya saat ini. Arumi tidak mungkin bisa melupakan ini, ia sudah mencintai suaminya, dan melupakan Yusuf yang ia cintai terlebih dahulu, karena menurutnya mereka sekarang sudah memiliki pasangan masing-masing.


Namun apa yang ia dapat? ia mendapatkan rasa sakit lagi.


Selalu dukung othor bebu sayang, annyeong love.

__ADS_1


Vote nya jangan lupa sayang, besok hari senin nih. Othor kerja juga, mungkin pulang kerja capek, jadi semangat lagi.


__ADS_2