
Jam sembilan malam Abyan dan Arumi pamit, karena sedang hamil takut kecapean. Ayah dan bunda juga pamit pulang bersamaan dengan Abyan dan juga Arumi.
Sepupu Farid sangat senang berada di sana, karena mendapatkan kenalan dengan orang yang ramah seperti ke empat orang wanita di keluarga Abrar.
Keluarga Arumi telah sampai di rumah nya, Arumi mendudukkan dirinya di sofa ruang tamu. Ia merasa lelah berada di keramaian, dan juga duduk disana lalu berjalan lagi di dekat banyak orang.
"Kamu gak apa 'kan?" Tanya Abyan yang juga duduk di dekat Arumi.
"Arumi gak apa, hanya sedikit lelah." Jawabnya menatap Abyan masih dengan pakaian lengkap nya yang berniqab.
"Kamu bawa istri kamu ke kamar aja by, kalian bersih-bersih dan shalat lalu istirahat." Ayah menyuruh Abyan untuk membawa Arumi masuk ke kamar, agar bisa beristirahat disana.
"Ayo sayang! Istirahat di kamar."
"Sebentar mas, Arumi duduk sebentar lagi." Abyan mengajak Arumi untuk ke kamar, namun Arumi masih merasa lelah dan ingin tetap duduk untuk sebentar lagi.
Ayah dan bunda Faza juga Anisa juga duduk disana, menunggu Arumi sampai masuk ke kamarnya.
"Bunda dan ayah kalau mau masuk dan bersih-bersih duluan aja, Arumi masih ingin duduk disini." Ucapnya melihat orang tua dan adiknya ikut duduk.
__ADS_1
"Kita ingin duduk juga, sampai kamu masuk ke dalam baru kita ikut masuk." Jawab ayah yang memang akan menunggu putri tersayang nya. Bunda juga Anisa sama, mereka sayang dengan Arumi apalagi saat melihat kelelahan seperti itu mereka kasihan.
"Ayo mas, Arumi mau masuk ke kamar. Terlalu lama menunda untuk shalat isya'." Arumi mengajak Abyan untuk masuk ke kamarnya, karena mereka sejak tadi menunda untuk shalat isya'.
"Kita berjamaah di mushola, atau kamu mau di kamar aja?" Tanya ayah yang juga akan bersiap ke kamar.
"Di mushola aja yah, kita sama-sama." Jawab Arumi, seperti nya sudah kuat untuk kembali berdiri. Karena juga saat sampai dirumah dari perjalanan terasa panasnya berpakaian, apalagi Arumi menutupi hampir seluruh nya. Hanya tinggal di bagian mata dan tangannya saja.
Setelah membuka pakaian nya, Arumi mengganti nya dengan daster. Ia juga mengambil mukenah nya sesudah berwudhu dan berjalan menuju mushola rumahnya.
Mereka sekarang berada di ruang keluarga, sambil menonton tv kesukaan Anisa film kartun. Mereka akan mengobrol sebentar, sebelum tidur.
"Bunda, jangan kasih tahu kak zy dan mas Aby. Anisa malu kalau bunda dan ayah bilang sama mereka."
"Ayah diam aja loh ini, bunda yang buka suara."
"Tapi nanti ayah ikutan."
"Cita-cita apa? Bukannya hanya cita-cita, kenapa harus malu?" Tanya Arumi. Bukankah hanya cita-cita, kenapa adiknya itu harus malu.
__ADS_1
"Karena cita-cita nya ini bukan tentang dirinya yang ingin menjadi apa, tapi yang pantas untuk siapa."
"Maksud bunda?"
"Adik kamu dulunya ingin bercita-cita ingin menikah dengan orang yang seperti Abyan dan keluarga nya. Tapi tadi saat di pernikahan Akbar dan khayra, sudah berubah cita-cita." Abyan dan Arumi yang mendengar tersenyum, sambil melihat Anisa yang mengerucutkan bibirnya.
"Seperti apa yang di inginkan sekarang?" Tanya Arumi lagi penasaran cita-cita adiknya yang berubah-ubah.
"Sekarang dia menginginkan suami orang arab, atau orang luar negeri. Kata nya paling tidak orang Indonesia, tapi blasteran." Bunda menceritakan semua keinginan dan Anisa seorang yang pemilih juga. Bunda suka jika Anisa manyun seperti itu sambil menonton film kartun nya. Ayah hanya diam saja sesuai dengan ucapan awal, namun ikut tertawa mendengar yang bunda ceritakan.
Arumi dan Abyan tertawa mendengar nya, mereka tidak habis pikir yang dicita-citakan oleh Anisa lumayan tinggi juga.
Setelah mengobrol lama, mereka beristirahat untuk kembali memulai aktivitas besok pagi.
Selalu dukung othor bebu sayang, annyeong love...
Baca juga cerita bebu yang lain 😘
IG : @istimariellaahmad98
__ADS_1
See you...