
"Ma, Zahra sangat senang Yusuf mengkhitbah Zahra," ucapnya tersenyum bahagia.
"Iya sayang, yang kamu harapkan akhirnya tercapai. Tapi bukankah kamu bilang, dulu Yusuf dekat dengan Arumi?"
"Zahra gak tau ma, tapi yang penting sekarang, Zahra adalah calon istrinya Yusuf, sudah lama Zahra mengharapkan Yusuf tau perasaan ini, bahwa Zahra lah yang pantas dia cintai, bukan Arumi." Ia memang telah lama mengharapkan Yusuf.
Namun karena Yusuf dekat dengan Arumi, ia memilih untuk mendekati Yusuf dengan cara selalu mengikuti kemana Yusuf pergi, ia juga selalu meminta bantuan Yusuf agar bisa dekat. Maka dari itu, Zahra jarang bertemu kedua sahabatnya itu dan lebih memilih masuk di universitas dan fakultas yang sama dengan Yusuf, dari pada satu universitas dengan sahabat nya.
"Kamu, memang anak mama." Senyum nya memeluk anaknya itu.
"Pokoknya, Zahra tidak akan membiarkan siapapun merebut Yusuf," ucapnya tersenyum miring.
"Tenang saja sayang, mama tidak akan membiarkan anak mama kehilangan orang yang di cintai, mama akan selalu mendukungmu apapun itu alasannya."
"Makasih ma, mama yang terbaik," ucap Zahra mengacungkan dua jempolnya.
Tring... tringg...
Suara ponsel Arumi berdering yang lupa ia silent, saat ini ia berada di ruang praktek yang baru saja akan menyelesaikan tugas nya, namun suara dari ponsel nya mengganggu teman yang lain.
"Pak, saya boleh izin keluar ruangan sebentar?"
"Cepat, lalu kembali segera!"
"Baik pak." Arumi langsung keluar, untuk mengangkat panggilan telepon nya itu.
"Assalamu'alaikum zy," salam ayah dari seberang telepon.
__ADS_1
"Wa'alaikum salam ayah."
"Apakah kamu sedang sibuk sekarang?"
"Zy lagi praktek ayah, ada apa?"
"Berarti, ayah ganggu dong ini?" tanya ayah takut mengganggu anaknya yang sedang praktek.
"Gak apa, tadi sudah izin sebentar dari ruang praktek."
"Begini zy, ayah dengan bunda akan ke pesantren sore ini, ayah ingin kamu juga ke sana nanti zy," ucapnya sambil menoleh ke istri nya yang sedang tersenyum sambil tepuk tangan.
Entahlah bunda Faza terlihat begitu senang.
"Insyaa Allah yah zy usahain, kalau misalnya selesai lebih awal, zy langsung ke pesantren. Harusnya kan malam ini jadwal zy juga mengajar."
"Makasih ayah, zy masuk dulu ya."
"Oh iya, ayah sampai lupa kamu lagi praktek."
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikum salam."
"Gimana yah, apa zy mau ke pesantren?" tanya bunda Faza yang selalu antusias. Apalagi tentang Arumi dan Abyan ini, ia ingin mereka menjadi pasangan, ummi Dalilah pun juga setuju sekali.
Sebenarnya, mereka berdua memang ada rencana mau di jodohkan, dan kebetulan sekali Yusuf tidak jadi melamar Arumi, di dahului abah untuk Abyan putranya.
__ADS_1
"Katanya sih insyaa Allah bun, karena sekarang masih praktek, gak tau mungkin malam selesainya."
Huuufhhh bunda Faza menghela nafas panjang.
"Bunda jangan terlalu berharap, nanti kalau misalnya zy menolak, bunda pasti yang kecewa."
"Bunda yakin, zy akan terima Abyan."
"Terserah bunda saja lah."
"Kan bunda yang perempuan, kenapa ayah yang bilang terserah?"
"Gantian lah, bosen juga dari ayah muda sampe sekarang, dengar nya terserah terus jawabnya."
"Siapa yang bilang terserah waktu ayah muda?"
"Udah lah bun, nanti pasti gak selesai-selesai, di ungkitnya berbulan-bulan, bisa juga bertahun-tahun atau mungkin sampai kita punya cucu, padahal bunda sendiri yang mulai duluan." Ayah berbicara tanpa melihat bunda, yang sudah menahan rasa kesal nya.
"Terserah ayah lah," ucap nya.
Lalu meninggalkan suaminya itu sendirian.
"Tuh kan, apa aku bilang? pasti akhirnya dia sendiri yang kesal, harus ngalah kalau gini, susah bujuknya juga, bisa tidur diluar seminggu ini mah, nasib-nasib."
"Bun, bunda," panggil nya juga ikut masuk menyusul bunda Faza.
Kasian ayah, bakal tidur di luar satu minggu gara-gara kata terserah 🤣.
__ADS_1
Bersambung 💃💃💃