Kisah Cinta Arumi

Kisah Cinta Arumi
Pisah kamar


__ADS_3

Arumi yang sudah bersama sahabat nya, ingin sekali tidur berdua mengingat saat masih di pondok dan saat masih belum lajang. Awalnya Abyan dan Najib melarang mereka tidur bersama, karena pasti akhirnya kedua suami itu yang akan tidur di kamar tamu. Tapi Widya juga menyetujui permintaan Arumi, akhirnya mereka hanya bisa pasrah dengan keadaan yang menyiksa batin.


"Ya Allah, baru aja pengantin baru dan mungkin akan menyusul Aby, tapi malah terpisahkan malam ini."


"Saya juga begitu jib, bukan hanya yang pengantin baru saja yang merasa terpisahkan."


"Ini karena permintaan ning Arumi, by."


"Memangnya kalau gak di izinkan dia akan baik-baik saja? Tidak jib. Saya yang jadi sasaran, dan keponakan kamu itu akan ileran katanya."


"Itu mah emaknya aja yang mau merusak malam indah ku by."


"Kamu nikmati saja malam indah nya di lain waktu, kalau gak terima sana bilang sendiri sama Arumi." Abyan yang sudah berbaring mencoba memejamkan matanya.


"Mana berani aku tuh ada Widya, yang ada di pelototin. Makin berhari-hari tidak bisa merasakan malam yang indah."


"Itu derita kamu sendiri jib."


"Bagaimana kalau nanti malam kita pindah istri kita by?"


"Maksudnya?" Abyan yang mulai memejamkan matanya kembali membuka mata.


"Maksud aku, kalau mereka sudah tidur aku bawa Widya kesini, dan kamu balik ke kamar kamu."


"Terus, kamu melihat aurat istri saya? Begitu juga dengan saya yang melihat aurat istri kamu?"


"Tapi iya juga, terus gimana dong?"


"Tidur jib, tidak ada gunanya tidur sampai larut hanya untuk memikirkan masalah memindahkan istri. Tidak akan bisa, yang ada kita kena amukan wanita hamil."


"Baru permulaan sudah begini, bagaimana sampai sembilan bulan lamanya."


"Sabar jib, kamu belum merasakan semuanya."

__ADS_1


Najib hanya menghembuskan nafasnya pelan, sedangkan Abyan kembali menutup matanya.


"Pasti suami kita sedang membicarakan kita berdua wid."


"Jelas banget mi, gak suudzan tapi yakin lagi ngomongin kita."


"Kamu nyangka gak sih wid, kita sahabatan dan jadi ipar." Arumi melirik Widya yang berada di sebelah nya, mereka menatap langit-langit kamar.


"Aku gak nyangka banget, lagian kamu tahu sendiri ustadz Najib tidak peka sama sekali."


"Semoga suami kita tetap istiqomah dengan satu istri, aku gak mau banget punya madu mi." Lanjut nya.


"Kita harus selalu berdo'a wid, katanya ujian nya suami yang mempunyai banyak uang ialah wanita diluaran atau bisa di bilang pelakor."


"Aamiin mi, baru aja nikah malah mikir ada pelakor yang mengganggu. Kita harus selalu memberikan perlakuan yang bisa membuat suami kita betah dan tidak melirik wanita lain."


"Insyaa Allah, suami kita bisa menjaga pandangan nya."


"Iya mi, aku percaya sama Allah akan selalu berpikir baik dan positif, bahwa suami kita akan menjaga marwah nya. Begitu juga kita yang harus menjaga marwah suami."


"Insyaa Allah. Sekarang waktunya tidur, besok kita bisa ngobrol lagi di kampus." Arumi yang mendengar kampus langsung sedih, karena dirinya belum bisa masuk, akibat di liburkan selama satu bulan.


Widya yang merasa salah dalam ucapan nya melirik Arumi. "Aku minta maaf mi, maksud aku kita masih bisa ngobrol di depan sebelum aku pulang."


"Aku gak apa kok wid, ini juga karena aku sendiri yang merahasiakan pernikahan ku dengan mas Aby."


"Sekarang tidur ya, bumil tidak boleh begadang."


"Iya anti Widya." Arumi menirukan suara anak kecil, tersenyum pada sahabatnya. Sebelum sama-sama memejamkan matanya.


Subuh tiba, mereka shalat berjama'ah di mushola rumah. Setelahnya menyiapkan makan untuk sarapan pagi.


Widya dan Najib pamit untuk pulang, tinggallah Abyan dan Arumi di rumah. "Mas gak kerja?"

__ADS_1


Abyan mencium perut Arumi dan berbaring di dekatnya sambil memeluk tubuh istrinya itu.


"Mas Aby, gak kerja?" Tanya Arumi sekali lagi.


"Mas hari ini mau peluk istri dan anak mas, karena semalam mas gak ada peluk kalian berdua." Ucapnya sambil sesekali mencium perut Arumi yang berlapis daster.


"Tumben, biasanya gak ada ngelus perut Arumi." Abyan langsung mendongak mendekatkan wajahnya dengan wajah Arumi.


"Kamu mau mas ngelus perut kamu? Kamu suka ya kalau di elus gini perutnya?"


"Bukan Arumi yang suka, tapi anak kita mas."


"Kasihan sekali kamu nak, umma kamu yang menginginkan elusan tangan appa, tapi kamu yang di fitnah."


"Enak aja, orang memang anak kita yang menginginkan nya. Tapi kamu tadi bilang apa mas? Umma, appa?" Abyan mengangguk.


"Iya, panggilan dari anak kita nanti."


"Kenapa umma dan appa?"


"Biar seperti di korea itu, mas di panggil appa. Kalau kamu kan bunda dan ummi sudah ada, jadi di panggil nya umma aja."


"Mas Aby tahu juga ternyata hits sekarang panggil appa. Jangan bilang mas juga nonton drama, atau penyuka idol."


"Mas lebih suka cerita islami, lebih suka membaca Al-qur'an, lebih suka melihat ulama-ulama besar. Mengetahui sesuatu belum tentu menyukai nya, dan juga suka melihatmu, sayang."


"Sangat tidak ramah kalimat akhir, di ucapkan di depan perut umma. Nanti anak kita pintar menggombal seperti appa nya."


"Insyaa Allah jika untuk orang tersayang nya tidak apa, yakinlah bahwa kita bisa membimbing. Kamu adalah madrasah pertama bagi anak kita, maka mas sebagai suami kamu juga akan berperan penting menjadi kepala madrasah kamu di dalam rumah tangga kita."


Arumi meneteskan air matanya terharu, insyaa Allah Abyan pilihan dari Allah dan adalah jodoh terbaik nya. Allah memberikan jodoh yang juga mampu membimbing nya ke jalan yang lebih baik lagi, sama-sama tuk menuju surga nya. Abyan tersenyum dan kembali memeluk istrinya.


Selalu dukung othor bebu sayang, annyeong love...

__ADS_1


See you...


__ADS_2