Kisah Cinta Arumi

Kisah Cinta Arumi
Masih hidup


__ADS_3

"Sayang, kamu tidak sedang bermimpi. Ini mas suami kamu," ucap Abyan mengangkat dagu Arumi, agar istrinya itu menatapnya.


Arumi menghentikan tangis nya, menatap wajah Abyan lekat. Membelai wajah Abyan dengan tangan nya, ia kembali menangis.


"Kenapa kamu menangis?"


"Kenapa ini seperti nyata mas? Jangan tinggalkan Arumi." Abyan langsung memeluk Arumi erat, ia tidak mau melihat istrinya kembali bersedih mengingat dirinya dulu sering membuat Arumi menangis.


"Jangan terlalu erat mas, ada anak kita disini." Arumi membawa tangan Abyan agar mengusap di perut rata nya.


Kini Abyan yang meneteskan air mata nya, ia sangat senang saat mengetahui Arumi sedang mengandung anaknya. "Ternyata di mimpi Arumi, mas Aby bisa terharu juga?" Arumi terkekeh pelan, melihat wajah suaminya yang menangis.


"Sayang, mau mas katakan berapa kali kalau ini nyata, bukan mimpi." Arumi mencubit lengan dan juga pipinya, ia merasakan sakit.


"Jadi, ini nyata? Bagaimana bisa? Kenapa mas bisa sampai subuh begini?" Tanya Arumi yang melihat jam dinding ternyata pukul 04:00 dini hari.


Flashback on


"Ponsel saya mati jib, saya belum sempat mengecas nya. Boleh saya pinjam ponsel mu?" Ucapnya saat mereka masih di perjalanan menuju bandara, namun dalam keadaan macet di jalan pagi itu.


"Handphone aku juga mati by, aku juga lupa tidak membawa power bank dari rumah."


"Saya harus menghubungi Arumi, sepertinya kita akan telat sampai."

__ADS_1


"Perkiraan juga begitu by, tapi kita tidak bisa menghubungi nya, karena ponsel kita sama-sama mati."


Abyan menghembuskan nafasnya pelan, ia takut istrinya itu menunggu dan khawatir jika belum ia kabari.


Mereka sampai di bandara saat sudah keberangkatan ke kota J dengan pesawat Airair x L-1485 telah berangkat, ia telat 15 menit. Mereka harus kembali memesan tiket pesawat dengan jadwal keberangkatan malam, dengan keadaan ponsel tidak bisa menyala mereka hanya diam menunggu keberangkatan malam. Padahal mereka bisa mengecasnya, namun apalah daya jika lupa sudah menyerang.


Akhirnya mereka berangkat jam 01:00 dini hari, karena delay mereka hanya makan dan shalat di masjid sambil membaca Al-qur'an sebentar.


Tak lama Abyan dan Najib sampai di bandara kota mereka tinggal, mereka menempuh perjalanan sekitar 1 jam 30 menit. Abyan dan Najib segera memanggil taksi bandara untuk mengantarnya, sebelum kerumah mertuanya Abyan singgah di pondok untuk menemui orang tuanya terlebih dahulu.


"Assalamu'alaikum," ucap salam Abyan dan Najib di ndalem. Mereka bersama beberapa santri tidur hanya sebentar, untuk kembali mendo'akan Abyan dan Najib.


"Wa'alaikum salam." Mereka semua berdiri menyambut kedatangan Abyan dan Najib, terutama keluarganya yang langsung menghampiri mereka untuk memeluknya.


"Alhamdulillah kami selamat, kami juga baru mengetahui berita itu di bandara. Alhamdulillah karena terlambat sampai ke bandara akibat macet, kami masih di beri umur panjang bisa bertemu kalian semua disini."


"Terima kasih untuk para santri sudah mendoakan putra-putra abah, sekarang kalian boleh istirahat." Abah menyuruh para santri untuk istirahat, karena hampir semalaman mereka tidak tidur.


Abah mengajak keluarga nya untuk berbincang sedikit mengenai mereka yang terlambat ke bandara dan delay sampai bisa tiba dini hari di kota nya. Setelah hampir setengah jam Abyan pamit untuk pulang, ia juga sedikit mendengar kabar dari keluarganya dan segera ingin mendengar langsung berita tersebut dari istrinya.


Flashback off


"Alhamdulillah, Arumi kira mas tidak akan kembali lagi. Arumi begitu senang dengan hasil testpack, namun Arumi begitu terpukul saat ada berita tentang pesawat yang mas tumpangi hancur."

__ADS_1


Abyan mengelap air mata Arumi yang mengalir di pipi mulus nya. "Iya sayang alhamdulillah, mas juga minta maaf karena tidak kepikiran meminjam ponsel untuk menghubungi kamu. Saat itu di pikiran kami hanya pulang dengan selamat, tidak berpikir lagi masalah ponsel yang tidak bisa menyala."


"Tidak masalah mas, yang terpenting mas sudah sampai dengan selamat."


"Kamu beneran sedang mengandung sayang?" Tanya Abyan.


"Arumi juga belum tahu pasti mas, karena Arumi hanya mengetahui lewat tes kehamilan."


"Besok kita ke rumah sakit."


"Maaf mas, untuk besok Arumi belum bisa ke rumah sakit. Arumi masih ada praktek penting untuk nilai Arumi juga."


"Menurut kamu, besok saya tidak ada acara penting?" Tanya Abyan mengingatkan Arumi pada masa mereka akan menolak hari pernikahan yang di tentukan.


Arumi tersenyum mengusap wajah Abyan. "Kenapa malah tersenyum?"


"Arumi ingat, dimana mas juga berkata seperti itu saat keluarga kita menetapkan tanggal pernikahan." Abyan ikut tersenyum mengingat dirinya bersikap dingin terhadap Arumi.


Abyan memeluk Arumi kembali, "kamu jangan sampai kelelahan saat praktek di kampus. Kalau merasa badan kamu kurang sehat langsung istirahat atau langsung hubungi mas, jangan sampai telat makan juga. Mas takut terjadi apa-apa dengan calon anak kita." Arumi mengangguk saat tangan Abyan mengusap lembut perut ratanya, ia bahagia suaminya itu sudah bisa menerimanya.


Selalu dukung othor bebu sayang, annyeong love.


jangan lupa rateee

__ADS_1


__ADS_2