Kisah Cinta Arumi

Kisah Cinta Arumi
Aroma khas pelakor


__ADS_3

Arumi meminta Widya untuk menemaninya ke kampus Abyan, mereka memesan taksi online untuk ke kampus Abyan mengajar.


"Ganggu gak ya wid?" Tanya Arumi takut mengganggu suami nya yang sedang di kampus.


"Harus nya senang kali, istri nya datang untuk melihat suaminya yang sedang bekerja.


"Tapi di kampus, atau ke kantor ya?"


"Kita lihat dulu, kamu kan udah tahu ruangan nya gus Abyan dimana."


Arumi mengangguk, sahabatnya itu benar. Memang seharusnya suaminya senang jika dirinya kesana.


"Kamu tahu kan mi letak ruangan nya gus Aby, nanti malah di bawa nyasar."


"Aku ini ingatannya kuat wid, dulu yang di tunjukin sih tinggal belok kanan dan kiri."


Widya kurang percaya dengan sahabatnya kali ini, ke ruangan dosen aja seperti nyari alamat.


"Kok sepertinya bukan disini ya kemarin," ucap Arumi.


"Mana aku tahu, katanya tadi ingat dimana. Lah ini kok jadi nyasar ke gudang."


Arumi hanya cengengesan, ia menggaruk kepalanya. "Seperti nya ingatan aku melemah, aku tanya sama mahasiswa nya aja."


"Apa aku bilang, sok ingatan kuat segala untung sahabat aku satu-satu nya, kalau bukan sudah aku tinggal pulang."


"Ojo nesu-nesu toh koncoku tersayang, nanti cepat tua." Arumi tertawa melihat sahabatnya ngedumel.


"Sok jawa juga, padahal orang melayu."


"Suami kita itu orang jawa, jadi harus tahu bahasanya."


"Jangankan jawa, sunda thailand korea china aku bisa semua." Ucap Widya dengan gaya sombong nya.


"Anak hukum sombong, aku bisanya bahasa qalbu. Bahasa isyarat kayaknya kurang bisa." Arumi seperti berpikir dan sedikit memanyunkan bibirnya.


"Aku sombong karena aku hanya bisa terima kasih nya aja, dari beberapa negara."


"Memang banyak sekali orang sombong, padahal tidak mempunyai skill dari yang di sombongkan. Tidak ada yang bisa kita sombongkan sebenarnya, tidak ada gunanya."


"Benar mi, kalau aku sebenarnya tidak sombong, hanya saja sebagai motivasi bagi orang-orang yang mau belajar. Jadi lebih giat lagi dan mempunyai semangat untuk belajar, misalnya aku bilang bisa dua atau tiga bahasa, mereka akan belajar lima bahasa sekaligus."


"Masyaa Allah, semoga kita masih bisa menyampaikan atau memberi semangat tentang motivasi yang baik untuk generasi yang selanjutnya."


"Aamiin."


"Tapi ngomong-ngomong, dari tadi kita belum tanya dimana ruangan gus Abyan."


"Oh iya wid sampai lupa dimana tempatnya."


"Pelupa, kalau udah pada dasarnya pelupa emang gak bisa." Widya menggelengkan kepalanya melihat Arumi terkekeh, sahabatnya itu begitu pelupa.


Setelah menemukan seseorang untuk meminta tolong mengantarkan mereka, akhirnya ada seorang mahasiswa yang mengantarnya.


"Wih, siapa tuh cewek dua? Cantik juga mereka." Tanya mahasiswa yang melihat nya.


Karena Arumi dan Widya akan melewati mereka, mahasiswa empat orang itu saling berhadapan dua orang disisi kanan, dan dua orang lagi disisi kiri. Mereka seperti pintu gerbang untuk menyambut Arumi dan Widya.

__ADS_1


"Na, mau kemana?" Tanya nya basa basi sambil melirik dua wanita cantik di hadapannya.


"Mau ke ruangan pak Abyan, mereka berdua ingin menemui pak Abyan di ruangan nya."


"Kirain teman kamu, kenalin ke kita dong an."


Anna yang juga tidak mengenal Arumi dan Widya melirik nya.


"Kami kesini tidak ingin berkenalan dengan siapapun, kami hanya ingin menemui bapak Abyan." Ketus Widya.


"Semakin tertantang, bagaimana jika kami yang ingin berkenalan?"


"Kami permisi, tidak ada waktu untuk meladeni kalian."


"Sudah lah kalian ini, kenapa mengganggu tamu pak Abyan."


"Hanya ingin berkenalan saja tidak boleh, namanya siapa sih?" Tanya lagi salah satu temannya yang lain.


"Boleh, tapi setelah menemui pak Abyan."


"Oke, kami tunggu disini. Silahkan lewat tuan putri." Mereka memberi jalan untuk ketiga wanita itu, agar bisa cepat berkenalan.


"Disini ruangan pak Abyan, aku pergi dulu ya."


"Makasih Anna," ucap Arumi membuat Anna menatap nya.


"Bukankah memang nama kamu, Anna?" Tanya Arumi dan diangguki oleh Anna.


"Kenapa kamu bisa tahu?"


"Aku hanya menebaknya, mereka tadi memanggilmu dengan An dan na."


"Kita langsung masuk aja wid," ucap Arumi yang memegang knock pintu.


"Eh assalamu'alaikum."


"Oh iya, assalamu'alaikum." Arumi masuk dengan Widya sambil tersenyum.


"Wa'alaikum salam." Abyan bangun dari duduk nya, yang disitu juga ada teman wanita nya.


Arumi dan Widya saling pandang, merasa curiga dengan yang dilihatnya. Karena wanita itu bersender di kursi Abyan, tapi setelah Arumi masuk baru menegakkan badannya.


"Sayang, kamu datang kesini?" Tanya Abyan, namun Arumi masih menatap teman wanita Abyan.


"Eh saya keluar dulu pak, nanti akan saya lihat lagi apa yang perlu di pelajari."


"Baiklah," jawab Abyan melirik wanita itu.


"Tercium khas Aroma pelakor," lirih Widya menyipitkan matanya, sangat terasa bagi Widya yang banyak mengetahui wanita seperti itu.


Wanita itu melirik Arumi, memperhatikan penampilannya dari atas sampai ke bawah sampai ia menutup pintu.


"Sepertinya Arumi pernah melihat wanita itu?" Arumi mengingat lagi, menyuruh otak nya bekerja lebih cepat.


"Eh, itu wanita itu dosen disini, yang pernah membuat kamu cemburu."


"Pantas saja, dari tatapan matanya seperti tidak suka dengan Arumi, dan seperti menyukai mas Aby."

__ADS_1


"Kamu ini ada-ada saja sayang, mana ada dia suka, dia hanya meminta bantuan mas."


"Apa tidak ada lagi selain mas Aby? Bukannya dosen disini banyak? Lalu kenapa sampai begitu cara belajarnya, tidak bisakah duduk di kursi sendiri seperti ini. Kalian di tempat yang tertutup, bukan mahramnya bisa menimbulkan fitnah jika terus-terusan."


"Sayang, kamu jangan marah-marah dulu. Mas minta maaf, bukan seperti itu tadi dia duduk, hanya saja ingin lebih jelas melihatnya dan dia berdiri di samping mas duduk."


"Alasan apapun, jika wanita dan laki-laki di dalam satu ruangan tetap tidak bisa di toleransi. Dalam keadaan apapun, apalagi sudah memiliki istri atau suami."


"Apa dia sudah memiliki suami?" Tanya Arumi yang sudah menahan rasa marah nya sedari melihat tatapan wanita tadi.


"Dia sudah bercerai dengan suami nya."


"Berarti seorang janda? Astagfirullah mas."


"Ayo kita pulang wid," ajak nya pada Widya.


"Sayang, kamu mau kemana? Kita nanti pulang bersama, tidak perlu pulang sekarang."


"Bukannya lebih bagus Arumi pulang? Lebih banyak kesempatan untuk kalian berdua."


"Astaghfirullah."


"Arumi, tunggu mi." Ketemu lagi dengan ke empat mahasiswa tadi, Arumi yang tadinya jalan santai, makin mempercepat langkahnya.


"Katanya mau kenalan, kenapa buru-buru."


"Menyingkir kalian, jangan sekalipun menyentuhnya."


"Siapa nya pak Abyan?"


"Is-


"Saya sepupunya, permisi." Arumi setelah menjawab itu langsung pergi meninggalkan Widya dan Abyan yang masih terkejut dengan jawaban Arumi.


"Kenalkan ke kita dong pak sepupunya."


"Gawat, singa hamil sedang marah." Widya cepat menyusul sahabatnya.


"Bahaya, ini masalah besar buat aku." Abyan juga mengejar Arumi yang langsung ke parkiran mobil.


Gara-gara keterkejutannya, lagi-lagi Abyan tertinggal. Arumi dan Widya sudah memasuki mobilnya, entah dari mana istrinya itu mendapatkan kunci nya.


Arumi sudah melajukan mobil nya keluar dari pekarangan kampus.


"Sayang, kenapa kamu bawa mobil mas?" Teriak Abyan yang melihat mobilnya sudah melaju menjauh.


"Kenapa kamu bawa mobil gus Aby, mi?"


"Biar kapok, terserah dia mau sama janda itu. Aku gak mau mikirin mas Aby, aku mau senang aja menikmati masa kehamilanku tanpa terganggu dengan pemikiran yang membuat aku down."


"Tapi emang benar sih, masa gus Abyan berduaan di dalam ruangan."


"Jangan kompor wid, kamu buat aku gak fokus nyetir."


"Ah iya, fokus-fokus tralala." Arumi tertawa dengan sahabatnya.


Selalu dukung othor bebu sayang, annyeong love...

__ADS_1


See you...


__ADS_2