Kisah Cinta Arumi

Kisah Cinta Arumi
Abyan yang tidak peka


__ADS_3

Abyan ingin pulang saja dari pondok pesantren, bukan tidak betah. Namun apa yang di inginkan istrinya akan di kabulkan oleh orang tuanya. Arumi sangat senang jika yang di inginkan langsung di berikan, tidak perlu lagi meminta izin agar suaminya membolehkan.


Malam ini adalah yang tidak di inginkan Abyan pun kembali terulang, bagaimana tidak? Istrinya meminta Affan yang baru saja datang untuk memasakkan nya.


"Sayang, mas bisa masakin buat kamu. Sekarang masak masakan mas atau Almira saja ya?" Abyan menatap Arumi yang terlihat memohon pada keluarga nya yang selalu memberi izin.


"Arumi menginginkan masakan mas Affan, pasti mas Affan gak keberatan kan? Ini kan kemauan ponakan nya." Arumi mengusap perutnya sambil tersenyum.


"Turuti saja, apa susahnya hanya memasak." Ucap abah yang tersenyum menatap menantunya yang sedang mengidam.


"Affan mau bah, tapi suaminya yang tidak mengizinkan." Affan melihat Abyan yang hanya melirik nya sebentar. Karena Abyan sedikit cemburu terhadap istrinya yang hanya menginginkan masakan orang bukan masakannya, ia langsung berdiri dan menuju kamarnya.


"Mas Aby," ucap Arumi.


"Mas maaf ya, sepertinya Arumi tidak jadi makan masakan mas Affan. Arumi sekarang pengen ke kantin depan sama Widya, ayo ikut aku wid!" Arumi tersenyum lalu pamit keluar bersama Widya, untuk pesan di kantin pondok.


"Abyan itu, istrinya mengidam semuanya dilarang. Kasihan Arumi setiap yang di inginkan tidak terpenuhi." Abah menatap kepergian menantunya.


"Ummi yang akan coba bicara dengan Aby, dia belum bisa jadi suami yang peka apa yang di inginkan istrinya. Ummi tahu sedang hamil seperti ini, tapi tidak terpenuhi keinginan nya, rasanya tuh sedih sekali."


"Coba ummi yang bilang dengan Aby, siapa tahu dia akan mengerti istrinya." Ummi mengangguk dan berdiri menuju kamar anak keduanya.


"Mas Aby kenapa gak peka banget sih, kasihan tahu mbak Arumi." Ucap Almira memanyunkan bibirnya.


"Gak usah di manyun-manyunin tuh bibir, tambah jelek."


"Mas Najib, Almira ini imut. Jadi di gimanain aja mukanya tetap imut."


"Kayak marmut?"

__ADS_1


"Kalian ini ada saja yang mau di perdebatkan." Affan sudah bosan melihat dua adiknya yang selalu berdebat jika bersama.


"Al mirip marmut kan mas? Dia bilang sendiri tadi."


"Imut, bukan marmut mas Najib."


"Marmut." Najib berjalan keluar, namun Almira mengejarnya mengikuti abang angkat nya itu.


"Mereka memang seperti kucing dan tikus."


Laila yang menggendong Afila hanya diam saja, sejak Arumi meminta suaminya memasak. Ia seperti tidak suka dengan Arumi yang seperti ingin di manja oleh semua keluarga suaminya.


...******...


"Aby, ummi boleh masuk?"


"Ada apa ummi?"


"Apa ummi tidak boleh ke kamar kamu? Bukankah ummi sering masuk kesini?"


"Iya, hanya saja tidak seperti biasanya. Apa ada yang ingin ummi sampaikan?"


Ummi Dalilah tersenyum, jika dengan dirinya, Abyan akan peka bahwa ada sesuatu yang ingin di sampaikan.


"Nak, kamu sudah dewasa. Tiga putra ummi sudah besar semua dan sudah menikah. Affan sudah memiliki anak, dan kamu akan segera memiliki nya juga. Tapi, kenapa anak ummi ini tidak pernah mengerti saat istrinya yang sedang mengidam menginginkan sesuatu. Wanita yang sedang mengandung itu sangat sensitif, kita yang sebagai orang terdekatnya harus membuatnya selalu bahagia, jika dia sedang sedih akan berpengaruh pada kandungannya."


Abyan hanya mendengarkan apa yang di ucapkan ummi. "Arumi adalah anak tunggal dari teman dekat ummi, mereka menyerahkan nya kepada kita, terutama kamu sebagai suaminya. Mereka membahagiakan nya saat belum berkeluarga. Tapi ummi lihat kamu begitu banyak larangan, ummi tidak menceramahi hanya saja memberitahu yang benar, nak."


"Aby ngerti ummi, tapi kenapa selalu kepada orang lain? Kenapa tidak mengidam dengan Aby?"

__ADS_1


"Ada saatnya, lagipula namanya mengidam itu hanya keinginan dan kemauan dari si calon anak. Mana bisa istri kamu meminta yang tidak di inginkan atau mengada-ngada." Ummi menggelengkan kepalanya, ternyata anaknya tidak mengetahui banyak hal, apalagi tentang seorang wanita.


"Lalu, Abyan harus bagaimana ummi?"


"Istri kamu pergi ke kantin bersama adik ipar kamu, ia memilih tidak memenuhi keinginan nya, agar suaminya tidak marah."


"Aby tidak marah, tapi kesal dengan permintaan nya."


"Kalau kamu tidak ingin memenuhi keinginan nya, biar Arumi selama mengandung tinggal disini, kamu saja yang kembali kerumah sendiri."


"Tidak bisa begitu dong ummi, Aby kan suaminya. Seorang istri harus ikut dengan suaminya, kemanapun suaminya pergi."


Ummi menggelengkan kepalanya. "Abyan, tidak seperti itu nak. Istri kamu juga bisa untuk menolak walaupun itu akan dosa menolak permintaan suaminya. Ummi jadi kasihan sekarang dengan istri kamu, kalau ummi yang jadi Arumi, ummi akan pulang kerumah orang tua ummi."


"Lalu sekarang Aby harus gimana, ummi?" Tanya Abyan menatap ummi nya.


"Ummi kalau seperti ini mending bicara dengan Afila."


"Jadi Aby harus nyusul Arumi?"


Ummi Dalilah beranjak dari duduknya. "Biar ummi saja yang menyusul istri kamu."


"Oh salah lagi, Aby akan berangkat sekarang."


"Berangkat sekarang paling juga istri kamu sudah kenyang di kantin, di manjain orang-orang di luar." Ummi berjalan keluar, begitu juga Abyan yang sudah siap menyusul istrinya.


Selalu dukung othor bebu sayang, annyeong love...


See you...

__ADS_1


__ADS_2