
Saat subuh Abyan lebih dulu terbangun, melihat Arumi yang masih setia memeluknya tidak terganggu dengan gerakan Abyan yang mulai memindahkan tangan istri nya itu dari tubuhnya.
"Mas," panggil Arumi saat Abyan membalikkan badannya dan hendak turun dari ranjang.
Abyan menoleh menatap Arumi yang mengucek matanya khas orang bangun tidur.
"Mau kemana?"
"Sudah subuh sayang, mas mau mandi siap-siap untuk shalat."
"Kenapa gak ajak Arumi?" Matanya berkaca-kaca menatap Abyan yang memandanginya.
"Biasanya kan memang seperti itu, kamu atau mas yang duluan bangun, pasti langsung mandi. Setelah selesai mandi baru di bangunin."
"Iya, tapi kan sekarang bisa mandi nya bareng. Kenapa kamu gak mau mandi bareng aku?" Tanya nya sambil meneteskan sebulir bening dari mata indahnya.
Abyan bingung menatap Arumi, kenapa hanya masalah mandi saja istrinya itu menangis pikirnya.
"Kalau gak mau mandi bareng gak apa, Arumi mau mandi di bawah." Arumi hendak turun dari ranjang, dengan cepat Abyan menahannya.
"Kamu kenapa? Siapa yang gak mau mandi bareng sama kamu? Ayo kalau mau mandi, setelah itu kita shalat." Arumi mengelap air mata sambil memanyunkan bibirnya seperti anak kecil.
Setelah mandi dan shalat mereka berdua turun untuk menemui orang tuanya. Abyan yang ke ruang tamu dan Arumi ke dapur untuk membantu bunda memasak.
"Masak apa bun?"
"Gimana tidurnya, nyenyak?" Tanya bunda melirik anaknya.
"Nyenyak dong, apalagi setelah makan masakan bunda."
"Kirain gak bisa tidur, karena hampir satu meja di habisin."
"Karena di letakkan di meja, coba aja di kasur, pasti bunda bilang zy makan sekasur."
"Ada-ada aja kamu zy. Suami kamu mana?"
"Tadi ke depan temui ayah." Arumi menutup hidungnya dengan tangan.
"Kenapa zy?" Tanya bunda melihat Arumi yang menutup hidungnya.
"Bau bawang nya menyengat bun, kenapa bau sekali?" Ucap Arumi. Ia merasa bau bawang lebih tajam dari biasanya.
Bunda Faza mencium bawang di tangannya. "Perasaan sama aja, gak berubah."
"Bun, zy ke depan yah? Disini bau banget." Arumi langsung keluar menemui ayah dan juga suaminya.
"Anak itu pasti sedang malas bantuin masak, ada aja alasannya." Bunda Faza menggelengkan kepalanya.
"Lagi ngomongin apa sih?" Tanya Arumi sambil duduk bersender ke bahu Abyan.
__ADS_1
"Kamu gak bantuin bunda masak?" Tanya Abyan yang melihat istrinya bersender di sampingnya.
"Di dapur bau nya gak enak banget mas, bawang nya menyengat banget." Arumi memeluk lengan suaminya itu.
"Anak nakal, pasti kamu malas bantuin bunda masak kan?"
"Zy gak bohong ayah, baunya gak enak banget sumpah." Mengangkat jari nya yang membentuk v.
"Kenapa kamu jadi aneh dan malas akhir-akhir ini?" Tanya Abyan membuat Arumi yang tadi bersender langsung mendongak menatap suaminya.
"Malah ngomong gitu kamu by," batin ayah yang menatap wajah Arumi yang mulai berubah.
"Kamu bilang apa?" Tanya Arumi untuk memastikan.
"Mas bilang, kenapa kamu-
Abyan tersadar dengan pertanyaan nya melirik ayah salman yang mengedikkan bahu.
"Tega banget mas Aby, ngatain Arumi aneh dan malas." Arumi menjauh dari Abyan.
"Bukan ngatain, maksud mas-
"Zy naik yah, zy siap-siap mau ke kampus." Arumi sudah berdiri dari duduknya.
"Kenapa pagi sekali?" Tanya ayah.
"Agar cepat lulus praktek bedahnya." Ayah salman terkaget mendengarnya, tatapan mata Arumi sangat menyeramkan saat mengatakan bedah.
"Kamu kejar sana ke kamar nya, wanita memang suka begitu."
"Baik yah, Aby nyusul Arumi dulu ke atas." Abyan berpamitan sebelum meninggalkan ayah mertuanya.
"Good luck" Ayah salman terkekeh menatap Abyan yang merasa bersalah.
...******...
Abyan masuk ke kamarnya menatap Arumi yang memainkan ponselnya di ranjang. "Sayang."
Tidak ada respon dari Arumi. "Mas minta maaf"
"Kenapa minta maaf?" Tanya Arumi melirik Abyan.
"Aku salah," ucap Abyan pelan.
"Apa kesalahannya?"
"Sebenarnya gak tahu, tapi mungkin karena pertanyaan mas tadi di bawah."
Tiba-tiba ponsel Abyan berdering. "Sebentar, mas angkat telepon dulu."
__ADS_1
"Masih sempat-sempatnya," gumam Arumi.
"Assalamu'alaikum, halo." Abyan menatap Arumi yang seperti ingin tahu, siapa yang menelepon nya.
"Wa'alaikum salam, bagaimana by? Apa sudah siap semua?"
"Besok kita berangkat, saya sudah bersiap untuk keberangkatan nya."
"Baiklah, apa kamu sudah memberi tahu ning Arumi?"
"Belum jib, setelah ini saya akan memberi tahu nya." Abyan memandang Arumi yang menunggu apa yang di bicarakan oleh mereka.
"Yasudah, aku tutup dulu telepon nya, assalamu'alaikum."
"Wa'alaikum salam," jawabnya mengakhiri sambungan telepon.
"Ada apa?" Tanya Arumi.
"Eh, ada yang ingin mas katakan."
"Langsung saja katakan, apa yang ingin mas katakan?"
"Mas harus ke luar kota, mas disana mengisi acara di salah satu pondok pesantren bersama Najib."
"Arumi ikut," ucapnya tersenyum.
"Tidak bisa sayang, mas hanya akan berangkat bersama Najib. Lagipula kamu disini sedang praktek."
"Bisa di tunda, mas Aby kan kenal dengan profesor Arumi."
"Kenal, tapi masalahnya dia tidak tahu kalau kamu istri mas, dan lagi mas sudah pesan tiket untuk mas dan Najib saja."
"Arumi bisa pesan sendiri."
"Maaf sayang, lain kali saja kamu boleh ikut. Untuk sekarang kamu disini saja tidak apa, karena jika di rumah kita kamu hanya sendiri."
Arumi juga tidak bisa memaksa Abyan agar dirinya bisa ikut, ia hanya menghela nafas pelan. "Hati-hati saja disana, selalu telepon Arumi. Jangan lirik wanita lain, walaupun banyak yang lebih cantik dari Arumi."
Abyan meletakkan tangan Arumi di dadanya. "Kamu rasakan detak jantung ini, hanya berdegup kencang saat bersama mu."
"Ih mas Aby, gombal." Arumi mencubit dada Abyan yang tadi di pegangnya.
"Tunggu mas pulang, mas tidak akan lama disana." Abyan memeluk Arumi.
"Arumi akan selalu menunggu mas, jangan terlalu lama disana." Arumi memandangi wajah Abyan yang langsung di hadiahi kecupan di kening nya oleh Abyan.
"Hanya tiga hari, kamu tunggu mas disini selama tiga hari." Arumi mengangguk tersenyum.
Abyan gemas dengan istrinya itu, ia langsung mencubit hidung Arumi pelan dan kembali memeluknya.
__ADS_1
Selalu dukung othor bebu sayang, annyeong love.