
Malam hari setelah shalat isya' Arumi sudah kembali lebih dulu dari masjid, ada tugas yang harus ia kerjakan. Abyan masuk ke kamar nya langsung merebahkan dirinya di ranjang. Arumi meliriknya, kenapa tidak menyapa nya pikir Arumi.
Arumi menutup laptop nya lalu menghampiri Abyan di ranjang.
"Mas Aby, kamu kenapa?" tanya Arumi di sisi ranjang.
Abyan membuka matanya melirik Arumi, "Mas kenapa?"
"Kenapa mas Aby tidak menyapa Arumi?"
Abyan mengernyitkan dahinya, lalu mendudukkan dirinya menatap Arumi.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya nya membuat Arumi bingung.
"Lah, Arumi kenapa? Arumi hanya bertanya kenapa mas Aby tidak menyapa Arumi sejak sore tadi."
"Kamu tidak pa-pa kan, tadi mbak laila bicara begitu sama kamu?" Abyan takut istrinya itu tersinggung dengan ucapan kakak ipar nya.
"Apa yang salah dengan ucapan ning laila mas? tidak ada. Arumi tidak merasa tersinggung dengan ucapan ning laila. Lagipula Arumi sudah menikah, pantas jika orang menunggu Arumi hamil."
"Apa kamu tidak tersinggung dengan ucapan nya?" Abyan kembali bertanya pada Arumi, ia hanya takut istrinya mengalami stres sebelum mengandung.
Arumi tersenyum menanggapi ucapan Abyan. "Mas Aby, rezeki itu sudah di atur sama Allah, tidak akan tertukar. Keberuntungan seseorang berbeda-beda, kita hanya menunggu giliran saja. Yang perlu kita lakukan adalah berdo'a dan ikhtiar mas, bukan mengeluh dan membandingkan dengan keberuntungan orang lain."
Abyan terharu dengan jawaban istrinya, ia menarik Arumi ke dalam pelukan nya sambil mengecup dahinya lembut.
"Maafkan mas, sayang. Harusnya mas yang menguatkan kamu, bukan meragukan ketentuan Allah."
Arumi membalas pelukan Abyan sambil mengelus bahunya.
"Lalu, kenapa sejak sore tadi mas Aby tidak menyapa Arumi?" tanya Arumi melepas pelukannya.
Abyan belum menjawab pertanyaan Arumi, ia hanya menatap lekat istrinya.
"Mas cemburu ya? Arumi tadi nanya mas Affan?" tanya Arumi tersenyum sambil mencolek dagu Abyan.
"Siapa juga yang cemburu." Ucap Abyan memalingkan wajahnya.
__ADS_1
"Cie cemburu sama Arumi." Arumi menggoda suaminya itu agar mengaku jika ia memang cemburu.
"Memang nya kenapa kalau mas cemburu?"
"Berarti mas memang cemburu?"
"Mas cemburu, karena mas yang nungguin kamu, tapi kamu malah nanyain orang lain."
"Tapi kan mas Affan itu abang mas Aby, bukan orang lain."
"Tetap orang lain di dalam hubungan kita, sayang." Abyan menarik hidung Arumi.
"Yang bilang mas Affan di dalam hubungan kita, siapa?" Tanya Arumi
"Memang tidak ada yang mengatakan jika mas Affan di dalam hubungan kita."
"Lalu, tadi mas bilang di dalam hubungan kita apa maksudnya?"
"Tidak ada maksud apa-apa."
"Arumi, bicara apa kamu?" Ada kilatan kemarahan di mata Abyan.
"Arumi bertanya mas? misalnya ada seseorang yang-
"Diam!" Bentak Abyan membuat Arumi terkejut, tidak pernah Abyan membentaknya.
"Mas" ucap Arumi menatap Abyan.
"Kamu cepat tidur! mas mau keluar." Abyan keluar meninggalkan Arumi yang masih memegang dadanya.
Arumi berkaca-kaca, menangis melihat kepergian Abyan. Bagaimana bisa Abyan membentaknya, lalu meninggalkan tanpa meminta maaf lebih dulu padanya.
...******...
"Eh ngapain di kamar ku?" tanya Najib yang melihat Abyan merebahkan tubuhnya di ranjang miliknya.
"Numpang tidur jib."
__ADS_1
"Lah, kamu kan punya kamar sendiri."
"Untuk malam ini, aku disini."
"Kamu sedang bertengkar dengan ning Arumi?" tanya Najib
"Nggak."
"Jangan pernah membuat istri kamu menangis by, wanita itu rapuh kita tidak boleh membentak nya." Abyan hanya mendengarkan Najib bicara.
"Istri kamu sendiri by, kenapa kamu tinggal?" tanya Najib. Karena Abyan sudah memiliki kamar sendiri, di tambah ada istrinya di dalamnya.
Tetap tidak ada jawaban Abyan.
"Apa mau tukar tempat? aku aja yang di kamar kamu?" Canda Najib membuat Abyan membuka matanya menatap Najib tajam.
"Bercanda saja by," jawabnya cengengesan.
"Coba saja kalau berani, aku adukan ummi biar di gorok."
"Ummi kan sayang sama aku."
"Coba sekarang! aku panggil ummi." Abyan mendudukkan dirinya berpura-pura akan memanggil ummi.
"Ti-tidak, aku hanya bercanda, jangan baperan gitu dong."
"Nah tahu takut....." Ucapnya kembali tidur.
"Ancaman nya mau bilang ummi, dasar tukang ngadu," gumam Najib melirik Abyan.
"Apa?"
"Nggak."
Abyan tersenyum melirik Najib yang kembali menatap laptop nya. Sangat mudah untuk menakut-nakuti sahabat nya itu.
Selalu dukung othor bebu sayang, annyeong love.
__ADS_1