Kisah Cinta Arumi

Kisah Cinta Arumi
Poligami tidak dilarang, namun banyak tidak menyetujui berpoligami


__ADS_3

Semenjak Naila ke pondok, Arumi belajar untuk ikhlas jika suaminya akan mempunyai istri lagi. Arumi tahu apa yang berbeda dari suaminya, pandangan matanya terhadap Naila. Walaupun Abyan mengatakan hanya partner kerja di kampus. Tapi untuk mempersiapkan hati dan pikiran nya supaya jika terjadi hatinya telah siap.


Banyak dari wanita mungkin tidak ingin, jika suaminya berpoligami. Apalagi berpoligami tidak di haramkan. Namun Arumi akan mengizinkan itu, mungkin dari dirinya ada yang kurang membuat suaminya puas. Arumi hanya akan terus memperbaiki diri, dan bersabar.


"Sayang, kamu mau kita kerumah kamu dulu atau langsung pulang kerumah kita?" Tanya Abyan bersiap untuk bekerja.


"Arumi ingin kerumah bunda dulu mas, nanti sore kalau mas Aby sudah selesai kerja boleh jemput Arumi."


"Baiklah. Barang kamu mana lagi yang mau dibawa?" Tanya nya untuk membantu mambawakan barang istrinya.


"Hanya itu saja, Arumi tinggalkan beberapa gamis dan khimar disini. Supaya jika kesini dan tidak membawa baju jadi tidak perlu khawatir."


"Seperti disini tidak ada gamis saja, wanita nya ada lima, empat orang selain kamu."


"Tapi bukankah lebih baik itu memang milik kita sendiri, jika akan memakai milik orang lain itu banyak orang yang sungkan, kecuali yang memang sudah terbiasa memakai milik orang lain dan tidak merasa malu." Ucap Arumi memberi tahu Abyan. Seperti hal nya dirinya, jika orang yang malu pasti akan sungkan, kecuali orang yang sudah terbiasa. Namun bukan Abyan namanya jika langsung peka dengan yang diucapkan istrinya.


"Tapi jika sudah tidak ada lagi pilihan? Tidak mungkin kalau tidak membutuhkan milik orang lain."


"Butuh mungkin, tapi tidak untuk di jadikan hak milik." Abyan menatap Arumi.

__ADS_1


"Maksud Arumi, banyak jika sudah di pakai orang, kita juga mungkin sudah tidak lagi membutuhkannya, atau malah akan memberikannya."


"Tinggal beli lagi kan gampang."


"Sangat gampang membelinya, tapi tidak dengan kualitas yang sama. Bisa saja sama, tapi pas nya di badan kita mungkin sudah berubah tidak akan sama persis."


"Baiklah ibu dokter, saya kalah. Appa minta maaf sayang." Abyan duduk di dekat Arumi dan mencubit pipi istrinya lembut.


"Ayo kita langsung berangkat! Mas juga harus langsung berangkat nanti, ketemu di proyek dengan Najib."


"Pinggang Arumi sudah mulai sakit, padahal masih belum besar ya." Arumi mengusap punggung nya yang terasa pegal, Abyan mengusapnya dan meniup pinggang Arumi pelan.


"Tidak perlu berterima kasih mas, banyak wanita diluar sana yang mengharapkan seperti Arumi. Bisa mengandung dan mendapatkan suami yang perhatian terhadap istrinya, serta peka dengan apa yang di inginkan istrinya. Walaupun terbilang aneh permintaan nya, mas Aby tetap berusaha menjadi suami dan ayah yang siap siaga untuk memenuhi semua yang Arumi inginkan."


"Itu memang sudah tugas dan kewajiban seorang suami, ada yang masih mau menyakiti istri nya, mereka tidak tahu jika seorang wanita itu butuh kasih sayang suaminya, tidak untuk di sakiti." Ucapnya masih dengan tangan yang mengusap pinggang Arumi.


"Tapi jika kamu tahu aku sakit mas, sakit jika kamu tidak memperdulikan aku saat ada dosen Naila. Aku butuh perhatian kamu bukan hanya saat kita berdua, tapi saat ada wanita yang mau merebutmu dariku."


"Sayang," panggil Abyan melihat istrinya termenung.

__ADS_1


"Hah? Apa mas?" Tanya nya terkejut.


"Kita berangkat kerumah bunda dan ayah, kenapa kamu malah melamun?"


"Tidak, Arumi hanya menatap wajah tampan suamiku ini."


"Jangan menggombal sayang, mas sudah mau berangkat kerja."


"Loh, kenapa jika Arumi yang merayu mas tidak boleh? Bukannya itu memang faktanya mas Aby lelaki yang tampan?"


"Iya, mas tampan dan kamu cantik. Sudah sangat cocok dan serasi. Ayo kita langsung berangkat!" Abyan membantu Arumi berdiri, padahal Arumi juga bisa sendiri.


Mereka berpamitan kepada abah dan ummi, lalu pada yang lainnya. Mereka berangkat dengan mobil Abyan, karena mobil Arumi dirumahnya, sudah jarang digunakan semenjak dirinya hamil.


Namun di perjalanan Arumi menyuruh Abyan untuk menghentikan mobilnya, ia seperti melihat seseorang untuk memastikan lagi. Abyan bingung siapa yang istrinya lihat, ia tidak mengenal siapapun saat mengikuti arah pandang yang Arumi tuju.


Selalu dukung othor bebu sayang, annyeong love...


See you...

__ADS_1


Jangan lupa ada grup bebu sayang, dan baca juga cerita bebu yang lainnya.


__ADS_2