
"Sayang, nanti kalau sudah selesai hubungi mas." Ucapnya sebelum Arumi turun dari mobil.
"Arumi takut menggangu mas Aby, kalau misalnya mas sibuk tidak masalah, Arumi bisa nebeng Widya atau naik taksi online."
"Jangan! Mas khawatir kalau kamu pesan taksi online, apalagi kamu sedang hamil."
"Terserah mas Aby saja, kalau mas sibuk nanti Arumi telepon ayah atau bunda suruh jemput Arumi."
"Kalau itu boleh, lebih aman."
"Arumi masuk dulu ya, takut teman mas lebih awal datangnya."
"Beliau mengerti kalau kamu sedang hamil, sudah mas beritahu dia."
"Hebat. Tapi Arumi tahu bahwa teman mas Aby itu ada maunya."
"Jangan suudzan sayang. Ayo langsung masuk kelas!" Arumi mengangguk dan mencium punggung tangan Abyan. Sebelum keluar Abyan juga mencium kening Arumi.
"Kamu hati-hati di jalan mas."
"Iya. Belajar yang benar."
"Siap Mas dosen suami." Ucap Arumi membuat Abyan terkekeh, dan mengucap salam. Lalu mobil Abyan melaju sambil melambaikan tangannya.
Arumi yang melihat mobil suaminya menjauh, ia berjalan masuk ke kampus.
__ADS_1
"Assalamu'alaikum ibu Arumi." Entah tahu dari mana wanita itu jika Arumi masuk kampus hari ini? Apa dia sudah mengikutinya?.
"Wa'alaikum salam, maaf saya harus segera masuk." Arumi dengan langkah cepat menuju kelas. Namun wanita itu mengejarnya.
"Ibu Arumi, tunggu sebentar!" Ucapnya menahan tangan Arumi.
"Apa maksud anda dosen Naila?" Tanya Arumi pada Naila. Sepertinya ia datang disaat Abyan sudah pergi dari kampus.
"Saya harus cepat ke kelas, saya ada kelas sekarang."
"Saya tahu, anda tidak akan berangkat di jam yang sudah mepet seperti ini. Anda tidak perlu beralasan untuk menghindari saya." Ucapnya seperti mengetahui bahwa Arumi menghindarinya.
"Apa yang sebenarnya anda inginkan? Tidak perlu semakin membuat saya terlambat."
"Tidak. Sebenarnya saya hanya ingin memberitahu anda, bahwa saya siap menjadi istri kedua dari bapak Abyan." Ucapnya dengan gaya centilnya.
"Saya sangat berterima kasih, atas izin dari anda. Sebenarnya hanya itu saja, saya permisi calon madu." Ucapnya pergi tanpa mengucap salam.
"Astaghfirullah, kuatkan hamba menghadapi semua ini. Jika mas Aby ingin menikah lagi, tolong jangan sampai air mata ini terlihat oleh mereka. Berikan ketegaran pada hamba ya Allah." Arumi menatap Naila yang sudah menjauh darinya.
"Mi, kamu gak masuk? Profesor sebentar lagi datang."
"Eh iya sin, aku mau masuk kok." Arumi langsung masuk diikuti Sindy dari belakang dan juga teman yang lain.
...******...
__ADS_1
"Yusuf, apa kamu sudah mencintai istri kamu? Sudah pasti iya, kan Zahra sudah hamil." Ucap bunda yusuf, karena menantunya sedang mengandung. Tentu saja menurutnya Yusuf sudah mencintai Zahra.
"Yusuf hanya terus belajar bun, belum mencintai Zahra. Masalah Zahra sedang hamil saat ini, itu bukan karena keinginan langsung dari yusuf, Zahra telah menjebak Yusuf dengan memberikan minuman yang sudah diberi serbuk perangsang." Terang Yusuf pada bunda nya, bahwa dirinya belum mencintai Zahra sepenuhnya. Ditambah dengan kelakuan nya kali ini membuat Yusuf jijik dengan istrinya itu.
"Nak, Zahra tidak menjebak kamu. Dia hanya ingin menjadi istri kamu seutuhnya, dia tidak mau kamu selalu memikirkan wanita lain."
"Tetap saja itu menjebak namanya, Yusuf masih belajar melupakan Arumi, bun."
"Hustt, Yusuf jangan sampai istri kamu mendengarnya, dia sedang hamil anak kamu." Bunda Yusuf takut jika menantunya itu mendengar obrolan nya bersama Yusuf. Bunda takut menantunya itu bersedih, apalagi ada calon cucu nya di dalam rahimnya.
"Yusuf tidak mencintai Arumi lagi bun, bahkan akan mencoba mencintai Zahra. Tapi, dia selalu bertindak tidak sabaran, membuat Yusuf seperti melihat seorang penggoda."
"Astaghfirullah, Yusuf. Tidak ada seorang istri berdosa menggoda suaminya. Bagaimana mungkin kamu mengatakan bahwa kamu di goda oleh istri kamu?" Bunda tidak habis pikir pada anak nya, sampai sekarang Yusuf tetap saja dengan pendiriannya tanpa mau mendengarkan saran dari bunda.
"Entahlah bun, saat ini Yusuf merasa hidup Yusuf hancur. Itu semua salah Yusuf sendiri, kenapa tidak Yusuf sendiri yang mengkhitbah."
"Tidak perlu di sesali lagi, sekarang kamu hanya harus fokus dengan istri dan calon anak kamu." Yusuf menghela nafasnya panjang, ia tidak tahu lagi menjalani hidup nya yang seharusnya bukan jalannya.
Zahra menutup mulut dengan tangan nya, ia sedari tadi mendengar percakapan bunda dan Yusuf. Air mata nya mengalir begitu saja, ia sudah menuduh sahabatnya sendiri menggoda Yusuf, padahal Yusuf sendiri yang mencintai Arumi. Sekarang dirinya yang seperti penggoda di mata suaminya sendiri, ia mengelus perutnya yang masih sangat rata, usia kandungan yang masih satu bulan lebih. Akibat perbuatan nya sendiri, dua sahabatnya menjauh darinya. Akibatnya pula, sahabat sekaligus suaminya tidak menganggapnya. Bagaimana caranya ia meminta maaf pada Arumi dan Widya, saat dirinya sudah mengatakan tidak ingin memiliki sahabat seperti mereka.
"Aku minta maaf Arumi, Widya. Aku bukan sahabat yang baik, aku merebut Yusuf dari kamu saat aku sudah tahu lama bahwa kalian sudah sangat dekat." Zahra dengan pelan berjalan ke kamarnya.
"Aku harus meminta maaf pada mereka, tapi tidak untuk sekarang. Aku harus mempunyai mental yang cukup kuat untuk meminta maaf, kalau tidak sebelum aku bicara sudah menangis." Zahra mengelap air matanya, ia sangat kuat saat mamanya sendiri juga di cap sebagai pelakor. Dari sejak ia masih kecil sudah merasa dikucilkan, maka dari itu mamanya mengajarkan menjadi anak yang kuat dan tidak mudah untuk menangis.
Selalu dukung othor bebu sayang, annyeong love...
__ADS_1
Jangan lupa baca cerpen bebu, semoga bermanfaat, dan bergabung di grup bebu.
See you...