
Arumi meminta izin dengan Abyan agar dirinya pulang bersama Widya. Setelah sudah mendapatkan izin dari Abyan, mereka langsung menuju rumah Widya. Karena tujuan Arumi ke rumah Widya dulu, ia sudah rindu dengan ibu sahabatnya itu.
"Aku udah lama banget gak ke rumah kamu wid," ucap Arumi menatap sahabat nya itu di dalam mobil.
"Kamu kan memang setelah menikah, gak ada waktu buat main ke rumah."
"Iya, gimana mau main wid, sekarang ngurusin suami."
"Oh iya, sekarang kan mainnya sama suami ya mi? dapat enaknya, pahala nya juga dapat." Widya terkekeh sambil fokus menyetir.
"Alhamdulillah, yang dikerjakan suami istri itu berkah dan banyak pahala nya."
"Aamiin, semoga berkah lillahi ta'ala." Arumi tersenyum menatap Widya yang juga sambil meliriknya.
Mereka telah sampai di depan gerbang rumah Widya, mereka turun untuk segera menemui orang tuanya di dalam.
"Bapak, ibu. Saya kesini tidak seperti biasanya yang hanya datang ingin mengobrol, saya datang kali ini untuk melamar Widya sebagai istri saya." Ucapnya tiba-tiba tanpa ada keraguan sedikitpun.
Arumi dan Widya sudah di depan pintu, mereka belum masuk untuk mendengar jawaban bapak dari luar.
"Bapak pasti nunggu jawaban aku lah, masa iya langsung nerima atau nolak tanpa persetujuan ku." Ucap nya menoleh ke arah Arumi yang di samping nya.
"Ayah juga gitu kok, nunggu aku sendiri yang jawab." Widya hanya tersenyum mengangguk-angguk kan kepalanya.
"Kita langsung ke pondok aja yuk mi, aku yakin bapak pasti nungguin aku."
"Kenapa kamu yakin sekali wid? bagaimana kalau bapak langsung nerima tanpa memberitahu kamu dulu."
"Aku percaya sama bapak, apapun keputusannya aku akan menerimanya."
"Anak baik. Baiklah, kita langsung ke pondok aja! mungkin mas Aby sudah disana."
"Bucin terus, ingat tempat ya! disana banyak santri yang lihat kamu sama gus Abyan, bukan cuma aku yang mau pindah ke planet mars."
Mereka mengobrol sampai masuk kembali ke mobil yang tadi di depan gerbang.
"Tapi aku penasaran sama orang yang lamar kamu wid, kenapa suaranya seperti tidak asing."
"Semuanya di telinga kamu gak asing mi, memang nya siapa?" tanya Widya terkekeh.
Arumi menggelengkan kepalanya, "gak tahu." Widya hanya menggelengkan kepalanya mendengar jawabannya.
__ADS_1
Tapi Arumi tetap merasa suara seseorang yang melamar sahabatnya itu, tidak asing di telinga nya. Seperti sudah lama mengenal, namun siapa pikirnya.
Arumi dan Widya telah sampai di depan pondok pesantren, mereka turun dari mobil. Arumi terkejut saat tangannya ada yang menahannya.
"Sayang," panggilnya.
Arumi menoleh tersenyum mengenal suara yang memanggilnya. "Mas Aby."
"Kenapa lama sekali, mas sedari tadi sampai nya." Abyan mengecup kening Arumi membuat Widya dan beberapa para santri yang melihatnya menundukkan kepalanya.
Arumi memukul lengan Abyan pelan. "Mas Aby, kita sedang di halaman pondok pesantren."
"Kenapa memangnya? kita suami istri yang sah." Abyan berpikir terserah jika orang ingin membicarakannya. Lagipula yang ia lakukan itu pada istrinya, bukan pada orang lain.
Iri mah bodo amat pikir othor haha.
"Gus Affan juga datang mas?"
"Kenapa menanyakan lelaki lain di depan suami kamu?" tanya nya dengan dingin.
"Bukan begitu, maksud Arumi-
"Kenapa mi, gus Abyan?" tanya Widya menghampiri sahabatnya itu yang sedang menatap kepergian suaminya.
"Aku kan nanya gus Affan, terus mas Aby bilang mau masuk duluan."
"Itu namanya dia marah mi, gus Aby tidak suka kamu menanyakan laki-laki lain."
"Aku hanya bertanya abangnya wid, apa yang salah?" Arumi tidak mengerti dengan suaminya, padahal yang di tanya juga abangnya sendiri bukan orang lain.
"Namanya juga cemburu, abang nya sendiri pun tetap bisa di cemburui."
"Masuk saja wid, masalah mas Aby nanti bisa aku atasi." WIdya mengangguk saja dan berjalan bersama Arumi menuju ndalem. Padahal Arumi juga belum tahu dirinya bisa mengatasi Abyan atau tidak.
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikum salam." Ummi menghampiri Arumi dan Widya yang baru saja tiba.
Mereka mencium punggung tangan ummi bergantian.
"Kenapa baru datang nak, ummi sudah rindu dengan kalian."
__ADS_1
"Kita mi? kan menantu ummi hanya Arumi."
"Kamu juga calon mantu ummi," jawab ummi tersenyum menatap wajah Widya yang bingung.
"Kenapa masih disana ummi? tidak di ajak masuk." Abah yang melihat istrinya hanya mengajak Arumi dan Widya mengobrol di dekat pintu.
"Ummi lupa kalau belum duduk bah," balas nya cengengesan.
Arumi dan Widya mencium tangan abah bergantian, lalu duduk di dekat Laila istri dari gus Affan yang sedang memangku anaknya.
"Ning, boleh Arumi yang gendong Afila?" tanya Arumi gemas dengan Afila yang baru memasuki usia satu tahun.
Laila tersenyum mengangguk, lalu menyerahkan Afila pada Arumi.
"Afila sudah besar yah, makin gemoy badannya." Arumi tersenyum sambil terus berbicara dengan Afila di pangkuannya.
Abyan baru saja keluar dari kamarnya, menatap Arumi bercanda dengan Afila sedikit menarik sudut bibirnya, lalu duduk di dekat ummi dan abah.
"Sebentar lagi Afila akan punya dedek," ucap Laila membuat Arumi melirik nya.
"Ning hamil lagi?" tanya nya tersenyum, namun Laila menggeleng kan kepalanya.
"Lalu, dedek dari siapa ning?"
"Dari kamu." Arumi yang tadinya tersenyum bingung, langsung pura-pura main lagi dengan Afila.
"Arumi belum hamil ning," jawabnya sambil memaksakan senyumnya, lalu menunduk kembali menatap Afila.
Laila yang merasa di perhatikan oleh semua orang yang ada disana, termasuk suaminya. Merasa tidak enak sudah bertanya seperti itu pada Arumi.
"Maafkan aku mi, bukan maksud aku berkata seperti itu."
"Tidak masalah ning, wajar. Karena saya sudah hampir lima bulan menikah." Abyan melihat wajah istrinya yang berubah sendu, melirik Affan tajam.
"Sayang, kamu ambil Afila, Arumi lelah sedari tadi memangku nya." Laila mengambil Afila dari tangan Arumi.
"Aby masuk dulu abah, ummi." Mereka mengerti Abyan tidak suka, ada seseorang menyinggung perasaan nya ataupun istrinya.
Hanya Widya dan Arumi yang tidak mengerti dengan yang terjadi, mereka berdua hanya tersenyum menatap Afila.
Selalu dukung othor bebu sayang, annyeong love.
__ADS_1