Kisah Cinta Arumi

Kisah Cinta Arumi
Om om teman bonyok


__ADS_3

"Bapak, ibu. Kalau boleh Widya tahu, siapa yang melamar Widya?" Tanya Widya. Karena orang tuanya tidak pernah mengatakan siapa yang melamar nya tempo hari. Sekarang ia menyesal tidak masuk waktu itu dengan Arumi.


"Kalau kamu siap mengetahui, bapak akan memberitahu."


"Widya siap tahu, tapi tidak untuk menikah di waktu dekat ini pak." Widya akan menerima nya siapapun orang itu, dari pada menunggu seseorang yang terlalu lama hanya memberi harapan. Namun jika disuruh menikah dalam waktu dekat ini, dirinya belum siap.


"Kenapa kamu belum siap wid?" Tanya ibu.


"Widya ingin menyelesaikan kuliah Widya dulu buk."


"Arumi saja belum menyelesaikan kuliah nya, tapi sudah menikah. Kamu juga bisa menikah sambil kuliah."


Widya tidak menjawab nya, memang benar yang di katakan ibunya, tidak ada alasan untuk menolak. ia bisa menikah sambil kuliah.


"Widya siap menikah, tapi tidak waktu dekat ini saja buk. Jika ada waktu lagi orang yang melamar Widya itu datang kesini, tolong beri tahu Widya, supaya Widya tahu siapa orang itu." Widya memang sangat penasaran dengan orang yang melamarnya.


"Tenang saja wid, yang melamar ini teman ibu dan bapak." Ibu berkata sambil melirik suaminya dan tersenyum. Widya yang mendengar itu sontak membulatkan matanya kaget.


"APA...? Teman ibu sama bapak?"


"Kenapa sih wid, kalau teman ibu sama bapak yang melamar kamu?"


"Siapa om itu bu, pak? Om agus, om sapto, om surya, om slamet atau om-


"Shutttt kenapa kamu panggil nama-nama teman bapak, wid?"

__ADS_1


"Lah, bukan nya teman bapak yang mau menikah dengan Widya?"


"Teman bapak dan ibu kali ini masih muda," jawab bapak tersenyum.


"Ibu sebenarnya juga mau kalau dia lamar ibu," ucap ibu.


"Ingat umur ya andah, saya yang single di rumah ini bukan orang yang sudah bersuami."


"Tapi Widya masih penasaran sama orang nya, Widya gak mau ya! kalau dijadikan istri kedua." Lanjutnya.


"Yang lamar kamu itu, om ladu singh." Ucap ibu tertawa terbahak-bahak.


"Mengobrol dengan ibu dan bapak ini, seperti main teka teki, lama sampai ke intinya. Mending Widya berangkat kuliah biar makin pinter jadi pengacara terbaik."


"Mengobrol dengan ibu dan bapak ini, juga dapat melatih otak wid."


"Assalamu'alaikum," ucapnya berlari keluar.


"Wa'alaikum salam." Jawab mereka bersamaan.


"Bicara belum selesai juga, udah pergi aja tuh anak," gerutu ibu melihat anaknya yang sudah pergi.


"Mending ngobrol sama bapak aja, iya kan pak?" Tanya nya melirik suaminya di samping, namun sudah kosong.


"Bapak pergi kerja dulu buk, assalamu'alaikum." Ucapnya sudah keluar pintu rumah.

__ADS_1


"Wa'alaikum salam. Ternyata anak sama bapak sama saja, tinggallah ibu sendiri disini."


"Kuingin marah melampiaskan, tapi ku hanya lah sendiri disini." Ibu bernyanyi lalu beranjak dari kursi menuju dapur.


...******...


"Wajah kamu kenapa di tekuk gitu Wid?" Tanya Arumi menatap sahabatnya tidak seperti biasanya.


"Aku galau tahu mi, masa iya aku mau tahu yang lamar aku siapa, tapi gak dijawab."


"Nanti juga pasti tahu Wid, lagian biar menjadi rahasia dulu, lalu ketemu nya nanti di waktu akad."


"Aku juga gak mempermasalahkan itu sih sebenarnya, yang jadi masalah sekarang itu adalah orang yang melamar aku."


"Maksudnya? orang yang lamar kamu kenapa?" Tanya Arumi penasaran.


"Orang itu teman bapak dan ibu," ucapnya dengan wajah sedih menatap Arumi.


"Ya Allah, aku harus sedih apa tertawa Wid?" tanya Arumi bingung mengekspresikan dirinya bagaimana.


"Kamu ketawa dulu gak apa mi, lalu bersedih." Mereka tertawa sebentar dan setelahnya sedih, berpelukan dengan Widya yang di lamar oleh teman bapak dan ibunya.


Arumi juga bersedih saat ini, karena Abyan tak kunjung membujuk nya.


"Laki-laki mah gitu, setelah di dapat lalu di lupakan." Batin Arumi.

__ADS_1


selalu dukung othor bebu sayang, annyeong love.


__ADS_2