
Eisha melihat fotonya bersama Eka dan Yuna saat Eisha berusia 12 tahun.
Eisha bersiap kembali lagi ke kantor.
Yuna membaringkan tubuhnya dan menghembuskan nafas panjang.
"Apa aku bisa menaklukan keluaga Eka? haaaa"
Yuna memegang kepalanya.
Alvin membukakan pintu untuk Eisha.
Semua yang di ruangan berdiri,nyaitu para tetua dan kedua saudara tiri Eisha dan Eka.
Edis melihat Eisha dengan senyuman dan juga bangga pada Eisha, karena masih bisa berdiri kokoh dan bertahan pada tekanan para tetua dan Ayah mereka yang begitu tegas.
Setelah rapat selesai , saat mereka ingin keluar tiba-tiba Abizar dan kedua Istrinya Sarah dan Nadia masuk.
Mereka semua terkejut dengan kedatangan Abizar dan kedua istrinya.
"Kalian boleh pergi" kata Abizar.
Mereka semua menunduk lalu pergi ke luar, tinggal Eisha dan kedua saudaranya.
Eisha menatap ayahnya dengan datar, Eisha kembali duduk dengan malas.
"Jika anda ingin berbicara bukan masalah pekerjaan , lebih baik kita bicarakan di rumah Mr, Asad"
Eisha memerikasa kembali berkas yang baru saja mereka rapatkan.
Abizar duduk.
"Kapan adikmu akan kembali kesini?"
"Sebentar lagi, tapi dia tidak sendiri"
Mereka semua melihat Eisha
"Apa ada lagi yang ingin anda bicarakan Mr,Asad?" Tatap
Abizar mengerutkan dahinya
"Jika tidak ada lagi saya permisi ,saya masih banyak pekerjaan"
Eisha berdiri beranjak pergi.
"Tindakaan tidak sopan macam apa ini? Begini caramu bersikap pada orang tuamu?"
Eisha berjalan pergi.
"Dann aku belum berdiri dari tempat dudukku"
Abizar berdiri lalu melihat Eisha ya sedang membelakanginya
"Haaaaa" eisha berbalik
Eisha bertatapan dengan ayahnya, lalu tersenyum
"Mr,Asad ini bukan rumah anda, ini perusahaan saya" Tatap
"Eisha" tegur Sarah ibu kandung Eisha dan Eka juga istri pertama Abizar.
"Ya" jawab eisha pelan lalu melihat ibunya
"Haaa..Maaf saya tidak punya waktu untuk berdebat dengan anda, saya sangat sibuk. Permisi"
Eisha berbalik pergi di ikuti oleh kedua saudara laki-lakinya denan senyum tipis mereka.
Mereka tercengang dengan sikap Eisha.
"Haaaa,apa dia benar putriku?" Pikir Abizar sambil tersenyum kecil.
Yuna berfikir keras untuk tindakan dan yang ingin dia katakan nanti saat berhadapan dengan keluarga Eka, Yuna sampai tertidur.
Besoknya, teman-teman Yuna berkumpul di depan kamarnya.
"Ayo bangunkan dia" Ayu memegang tangan Eka.
Yuna menarik pintunya dengan kuat sampai semau teman-temannya terkejut.
Reky, Fredik, Anif dan Aris sampai jatuh kebawah.
"Ahkkkk" Teriak mereka semua
__ADS_1
"Lu semua ngapain di depan kamar gw?" Yuna menatap teman-temannya dengan datar.
"Itu... sarapan" kata Ayu gugup.
Kadi dan Ekka menghampiri Yuna.
"Yun,jam berapa kamu tidur semalam?" Tanya Kadi.
"Entah" Yuna keluar dari kamarnya lalu menutup pintu kamarnya lagi.
"Ayo sarapan" ajak Arya.
Mereka semua pun turun untuk sarapan.
2 jam kemudian , mereka bertemu lagi dengan keluarga Kadi di sebuah restoran.
"YUNA RAHADIAN DUNGGA" panggil Cristian yang melihat Yuna dari tadi hanya diam dan bengong.
"Ya?" Yuna terkejut dengan panggilan ayah Kadi.
"Kau sakit?" Tanya ayah Kadi
"Ah tidak , maafkan saya"
Rian menatap yuna "Haaa, buang-buang waktu"
Yuna menatap tajam Rian, Yuna tersenyum kesal.
"Yang lainya tolong keluar" Yuna menatap teman-temannya
Semua teman-teman Yuna berdiri
"Hmm mampus yuna mulai serius" Bisik Fredik.
Semua teman-teman Yuna mengangguk, mereka semua keluar.
"Tuan RIAN DANIEL KAREL ,anda juga keluar"
"Apa?!! Aku?"
"Iya ANDA" Penuh tekanan dan tatapan yang begitu tajam.
Keluarga Kadi terkejut dengan tatapan Yuna pada Rian.
Yuna yang tenang hanya menatap ayah Kadi dengan datar.
"Haaa, maaf Paman jika anda tersinggung, tapi saya hanya perlu bicara dengan anda dan bibi bukan dengan kedua anak paman ini" Menatap kedua kakak Kadi.
Rey tersenyum "tapi kami keluarga pihak laki-laki"
"Saya tau tapi....huftt baiklah, saya akan mulai"
"Kenapa kau yang banyak bicara? Kenapa bukan dia?" Rian melihat eka.
Eka terkejut.
"Haishh" Yuna mulai kesal.
Rian terkejut begitu juga dengan yang lainya
"Yuna tenanglah" Bisik Eka
Kadi tersenyum puas melihat Yuna yang tidak ada rasa takut menatap Rian yang di kenal sangat sombong dan tidak memikirkan perasaan orang lain.
"Tuan Rian bisakah anda menutup mulut anda?"
Rian berdiri dan menatap tajam Yuna, Melvi memegang tangan ayah Kadi dan menatapnya.
Cristian hanya diam mengamati begitu juga dengan Rey dan Kadi sedangkan Eka dan Melvi sangat khawatir.
"Kasar sekali kau" Rian kesal
Yuna tersenyum "Saya bisa lebih kasar dari ini jika anda tidak bisa diam"
Eka terkejut dan menarik tangan Yuna pelan, Eka melihat Kadi yang hanya dengan santainya minum minumannya begitu juga dengan Rey dan Cristian.
"Aku tidak merestui hubungan ini"
Eka terkejut begitu juga dengan Melvi.
Yuna tersenyum "Maaf saya tidak butuh pengakuan anda"
"Tapi dia anakku dan juga kakak anak itu" Cristian menatap Yuna
__ADS_1
"Ah,benar" melihat ke arah lain
"Haaa, bisa-bisanya paman punya anak seperti dia"
"Apa?!!" Rian sangat marah.
Rian mengambil gelas, Kadi juga memegang gelas
Melvi berdiri.
"Bagaimana kabar Yudha?!" Tanya Rey.
Mereka semua melihat Rey , kecuali Cristian.
"Oh, Anda mengenal Kakak saya?"
Rian kaget lalu menatap Yuna
"Iya, dia sangat terkenal di sini" Rey meliat Rian sambil tersenyum
"Sesekali kami bertemu, katanya dia berhenti dari perkerjaanya ya?"
Yuna mengangguk.
"Kau adik Yudha?"
"Yuna Rahadian,Yudhan Rahadian"
Rian terkejut.
"Shitt ,hampir aja" Pikir Rian.
Rey tertawa kecil.
"Haaa, baikalah mari kita mulai"
Rian kembali duduk dengan tenang.
Setelah berbicara dan ada perdebatan selama satu jam karna Kadi berpindah agama, Eka dan Kadi pun di restui oleh kelurga Kadi.
"Lalu bagaiman keluarga Eka?" Tanya Melvi.
"Itu..." Eka terdiam
"Yuna sudah bicara dengan kakaknya Eka"
Eka dan Kadi terkejut, lalu melihat Yuna
"Lalu bagaiman tanggapannya?" tanya melvi.
Yuna tersenyum dan mengangguk lalu melihat Eka.
"Katanya yang penting adiknya bahagia dan senang, Kak Eisha merestui mereka berdua"
Air mata Eka jatuh, Eka dan Kadi memegang tangan Yuna.
"Lalu kedua orang tuannya?" tanya Rey
"Kak Eisha akan bicara dengan mereka" Gugup.
"Benarkah?" Tanya Kadi
Kadi dan Eka menatap yuna.
"Hmm" Yuna mengangguk dengan perasaan tidak yakin.
Rey dan Cristian tertawa melihat Yuna.
"Yunaa" Ekka menatap Yuna yang terlihat tidak terlalu yakin.
"Akan di usahakan, asalkan kalian tidak gugup jika berhadapan dengan mereka. Dan jangan melawannya" Yuna menatap Eka.
Rian tersenyum sinis
"Bagaimana jika tidak di restui?"
"Pasti akan di restu" Tatap.
"Yakin sekali kau"
"Tentu saja, Kakakku mengajarkan Aku harus tetap yakin pada apa yang akan aku lakukan"
Rian terdiam sedangkan keluarga Kadi yang lainya tersenyum puas.
__ADS_1