
Daniel dan Alesya masih menatap interaksi kakaknya dengan wanita paruh baya yang dipanggilnya dengan sebutan mami tersebut. Hingga perhatian keduanya teralihkan saat wanita itu beralih menatap ke arah mereka.
"Eh, nggak apa-apa, kok. Mami malah seneng bisa ketemu sama adik-adik kamu," ucap wanita itu sambil menoleh ke arah Daniel dan Alesya. Jangan lupakan senyuman hangat di bibirnya yang tak pernah luntur sejak kedatangan kak Desi. "Hallo, perkenalkan saya mami Nia dan itu papi Indra. Kalian panggil mami sama papi saja ya, biar enak. Lagipula, sebentar lagi kakak kalian kan jadi menantu kami," lanjut mami Nia sambil masih mengulas senyumannya.
Kedua bola mata dan mulut Daniel langsung membulat saat mendengar ucapan mami Nia. Dia benar-benar terkejut. Hal yang sama juga dirasakan oleh Alesya.
"Ma-mami? Ma-maksudnya apa ini, Kak?" tanya Daniel sambil menatap wajah sang kakak.
Kak Desi menghembuskan napas beratnya saat mendapati tatapan menuntut dari Daniel. Setelahnya, kak Desi meminta mereka semua untuk duduk. Dia akan menjelaskan garis besar pertemuan kali ini.
__ADS_1
"Mami dan papi ini adalah orang tua mas …, eh Pak Ferdian, Dan. Beliau berdua ini tidak tinggal di Jogja, tapi di Surabaya. Sore ini, papi dan mami ingin bertemu sebelum nanti malam berangkat Makassar dan pulang ke Surabaya setelahnya."
Kak Desi menjelaskan singkat kepada Daniel dan Alesya. Dia mengedipkan mata beberapa kali saat menatap ke arah Daniel. Dan, karena kode itu juga Daniel mengerti jika dia tidak boleh bertanya macam-macam kepada sepasang suami istri di depannya tersebut.
Daniel berusaha mengatur ekspresi wajahnya agar tidak terlalu terkejut. Beruntung sebelumnya, Daniel sudah mendapatkan penjelasan singkat dari sang kakak jika dosennya yang bernama Ferdian mengajak menikah. Daniel hanya belum tahu jika kedua orang tua Ferdian sudah cukup mengenal kak Desi.
"Jangan panggil Om dan Tante, panggil mami sama papi seperti kakak kamu. Lagipula, sebentar lagi kita kan jadi keluarga," ucap mami Nia sambil tergelak.
Mau tidak mau, Daniel dan Alesya pun ikut tertawa. Mereka juga menuruti permintaan suami istri tersebut. Setelahnya, obrolan-obrolan ringan pun terjadi. Daniel dan Alesya sama sekali tidak bertanya tentang bagaimana hubungan kak Desi dengan dosennya yang juga merupakan putra dari mami Nia dan papi Indra tersebut.
__ADS_1
Tak berapa lama kemudian, obrolan mereka berakhir. Mereka memang sepakat tidak memesan makanan berat saat itu. Jadi, obrolan mereka hanya ditemani minuman dan cake yang memang juga disediakan di sana.
"Sayang, janji jika nanti kami sudah selesai dengan semua pekerjaan kami, kamu akan memperkenalkan kami dengan keluarga kamu ya," ucap mami Nia sambil cipika cipiki dengan kak Desi.
"Iya, Mi. Nanti kita atur waktu yang tepat untuk kumpul-kumpul bareng," jawab Desi sambil mengurai pelukan mami Nia.
Setelahnya, Daniel dan Alesya juga berpamitan dengan mami Nia dan papi Indra. Mereka menunggu hingga pasangan suami istri tersebut berlalu. Hingga setelah mobil yang membawa mami Nia dan papi Indra tidak terlihat, Daniel langsung menoleh dan menatap tajam ke arah sang kakak.
"Jelaskan apa maksud semua ini, Kak. Sudah sejauh apa hubungan lo sama dosen itu?"
__ADS_1