
Alesya langsung menoleh ke arah Daniel dengan tatapan horor. Bibirnya mengerucut jelas sekali menunjukkan kekesalan perempuan tersebut. Namun, ekspresi tersebut berbanding terbalik dengan apa yang dirasakan oleh Alesya.
Jantung Alesya langsung berdegup sangat kencang saat mendengar ucapan Daniel. Otaknya langsung membayangkan maksud ucapan Daniel tersebut.
'Apa maksudnya itu tadi? Diitidurin? Memangnya Kuda mau niidurin aku?' batin Alesya.
Daniel yang melihat ekspresi Alesya langsung tertawa terbahak-bahak. Bagi Daniel, dia sangat suka melihat tingkah kesal Alesya. Apalagi, saat seperti ini. Entah mengapa rasanya Daniel ingin menciumnya. Eh,
"Apaan sih, Da. Sana tidur. Sudah malam ini," ucap Alesya yang langsung buru-buru mematikan ponselnya. Dia juga langsung beranjak berdiri dan berjalan menuju tempat tidur.
Namun, langkah kaki Alesya terhenti saat Daniel menarik tangannya dengan sedikit lebih kencang hingga membuat Alesya jatuh di pangkuan Daniel.
Tentu saja hal itu membuat Alesya kaget. Tubuhnya langsung membeku saat berada di situasi intiim seperti itu. Sontak saja wajah Alesya langsung pucat dengan kedua bola mata yang sedikit membesar.
"Eh, ma-mau apa?" Alesya mendadak gugup.
Daniel masih senyum-senyum tidak jelas sambil menatap dalam-dalam kedua netra Alesya.
"Kenapa? Kamu gugup?" Sebuah senyuman jahil langsung muncul dari bibir Daniel.
Alesya berusaha mengatur degup jantungnya yang mulai ngereog tidak jelas. Entah mengapa dia mendadak lebih sering terkena serangan jantung saat bersama dengan Daniel. Apalagi, saat situasinya intens seperti itu.
"Ti-tidak. Gugup kenapa?" Alesya berusaha berbohong.
Lagi-lagi senyuman Daniel semakin menyeringai melihat kegugupan Alesya.
__ADS_1
"Yakin?" Goda Daniel sambil mulai mendekatkan wajahnya ke arah Alesya.
"Ya-yakin," jawab Alesya semakin memundurkan tubuhnya.
Daniel tak tinggal diam. Dia semakin berani menggoda Alesya dengan memajukan wajahnya lebih dekat. Tindakan Daniel tersebut membuat Alesya refleks mundur hingga membuat tubuhnya terjengkang ke belakang.
Daniel yang terkejut langsung menangkap tubuh Alesya tersebut. Namun, karena cepatnya kejadian tersebut, membuat tubuh keduanya langsung terjatuh. Beruntung di bawah sofa tersebut terhampar karpet tebal yang biasanya dipakai untuk rebahan saat menonton televisi.
Bruukkk.
Tubuh Daniel dan Alesya langsung ambruk di atas karpet. Daniel menyangga kepala Alesya dengan telapak tangan kanannya agar tidak terbentur. Beruntung kepala Alesya tidak terbentur. Namun, saat itu, bukannya kepala Alesya yang kebentur, tapi bibirnya.
Bibir Alesya dan Daniel saling berbenturan. Sontak saja kejadian tiba-tiba tersebut membuat Alesya dan Daniel kaget. Bagaimana tidak. Saat itu, bibir keduanya telah sama-sama menempel.
Kedua pasang mata Daniel dan Alesya langsung membulat saat pertemuan benda kenyal tersebut. Mereka sama-sama kaget.
Bibir Daniel mulai mendesak dan memaksa agar bibir Alesya terbuka. Karena ulah Daniel tersebut, Alesya menjadi ikut terpengaruh. Perlahan-lahan, Alesya menutup kedua matanya. Dia berusaha mengimbangi gerakan bibir Daniel.
Saat Daniel menggigit bibir bawah Alesya, seketika Alesya membuka sedikit mulutnya. Hingga hal itu membuat Daniel semakin bersemangat. Dia mulai mengabsen bagian dalam mulut istrinya tersebut. Lidah keduanya juga sudah mulai saling melilit.
Tanpa sadar, kedua tangan Alesya langsung mengalung pada leher belakang Daniel. Tak hanya itu, jari-jari tangan Alesya juga langsung menyusup pada rambut bagian belakang Daniel.
"Eehmmmm, mmmhhh."
Suara pertemuan benda kenyal tersebut benar-benar membuat tubuh Daniel terasa panas. Hal yang sama juga dirasakan oleh Alesya. Bahkan, entah mengapa saat itu Alesya mulai merasakan 'kedutan' di bagian bawah tubuhnya.
__ADS_1
Alesya bisa merasakan degup jantung Daniel yang juga sama menggilanya dengan apa yang sedang dirasakannya. Rupanya, aktivitas mereka malam itu, adalah kali pertama mereka berinteraksi secara intiim dengan lawan jenis.
Ketika napas mereka sudah terasa habis, Daniel melepaskan pertemuan bibir mereka dan mengangkat wajahnya sedikit menjauh dari wajah Alesya.
Daniel dan Alesya langsung membuka kedua mata mereka saat mereka sudah tidak lagi bertukar saliva.
Wajah Daniel yang terlalu dekat dengan wajah Alesya, membuat perempuan tersebut malu. Wajahnya terasa semakin panas. Alesya yakin, saat ini wajahnya sudah semerah tomat. Alesya benar-benar merasa malu.
Daniel yang melihat ekspresi wajah Alesya yang tengah malu, langsung melengkungkan senyuman. Entah mengapa dia merasa bahagia saat itu.
"Kenapa?" tanya Daniel sambil masih menatap wajah Alesya. Dia juga rasanya enggan beranjak dari atas tubuh Alesya. Bahkan, Daniel yakin jika Alesya bisa merasakan 'tongkat kehidupan' miliknya sudah tegak.
"Ehm, a-aku…," belum sempat Alesya menjawab pertanyaan Daniel, secepat kilat Daniel langsung menempelkan bibirnya kembali pada bibir istrinya tersebut.
Kali ini, Daniel hanya menempelkan bibir keduanya beberapa kali. Setelah itu, Daniel langsung menjauhkan wajahnya dari wajah Alesya sambil mengulas senyuman.
"Jangan merasa malu. Kita sudah menikah sekarang. Jadi, kita juga harus mulai membiasakan diri dengan aktivitas seperti ini. Bahkan jika kamu mau, kita bisa melakukan lebih dari ini," ucap Daniel sambil tersenyum menyeringai.
"Eh? Me-melakukan apa?" Entah mengapa otak Alesya mendadak kosong.
"Menjinakkan 'roket' yang sudah siap lepas landas dari sarangnya," jawab Daniel sambil mulai menggesek-gesekkan 'tongkat alaminya' pada bagian bawah perut Alesya.
Sontak saja tindakan Daniel tersebut membuat kedua bola mata Alesya membulat. Hingga tanpa aba-aba, Alesya langsung mendorong tubuh Daniel menjauh dari tubuhnya.
Bruukkk.
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan komen, like dan vote banyak-banyak ya. Masih baru nih ceritanya, biar tambah rame. Bantu othor biar tetap semangat upnya. 🤗