Kok, Jadi Nikah?

Kok, Jadi Nikah?
Kecurigaan Daniel


__ADS_3

Sambil menyantap sarapannya, Alesya dan Daniel mengobrol. Sama-sama merasa ada yang janggal dari kejadian pagi ini, mereka mulai menelusuri apa yang diketahui.


"Ehm, menurut kamu ada yang aneh nggak kejadian hari ini, Mas?" tanya Alesya. Dia sudah mulai tidak merasa canggung lagi.


"Iya. Sama seperti dugaan Galih." Daniel menjawab sambil menyuapkan sesendok omelet ke dalam mulutnya.


"Eh, Galih? Apa maksudnya itu?" Alesya yang memang tidak tahu apa-apa, langsung penasaran.


Mau tidak mau, Daniel menjelaskan apa yang diceritakan oleh Galih.


"Galih pernah cerita jika dia mendengar desas desus tentang ada mahasiswa KKN yang berbuat hal-hal nekat. Dan, desas desus yang di dengar Galih itu, mengarah pada kita."


Kedua bola mata Alesya langsung membulat setelah mendengar ucapan Daniel. Entah mengapa dia merasa was was sekarang.


"Benarkah begitu? Kok aku jadi merasa was was ya, Mas?" ucap Alesya. Wajahnya mendadak terlihat panik dan cemas.


"Nggak usah khawatir. Aku sudah menjelaskan semuanya kepada Galih. Bahkan, kejadian barusan tadi juga sudah aku ceritakan ke Galih tadi setelah mandi."


Alesya nampak mendesahkan napas lega. Setidaknya, ada Galih yang bisa membantunya nanti jika Daniel kembali ke tempat KKN nya. Galih cukup bisa dipercaya menurut Alesya.

__ADS_1


"Lalu, apa ada yang kamu curigai tentang penyebar berita ini, Mas?" tanya Alesya.


Daniel mengangguk-anggukkan kepala. Dia cukup curiga dengan seseorang. 


"Iya, ada."


"Siapa?" Alesya langsung penasaran.


"Teman satu rumah kamu. Fani."


Kedua bola mata Alesya langsung membulat. Dia cukup terkejut mendengar jawaban Daniel.


"Entahlah," jawab Daniel sambil mengedikkan bahu. "Sepertinya, dia cukup punya alasan untuk mengebarkan berita tidak benar tentang kita, kan?" lanjutnya.


Alesya jadi mengingat kejadian beberapa waktu lalu saat dia berbicara dengan Fani. Setelahnya, tentu saja Alesya menceritakan hal itu kepada Daniel.


"Kamu berpikiran jika ini semua ulah Fani setelah mendengar ceritaku waktu itu ya, Mas?" Alesya memicing menatap ke arah Daniel.


"Salah satu alasannya, iya karena itu."

__ADS_1


Alesya mendesahkan napas beratnya. Dia juga sempat menduga hal seperti itu. Namun, dia masih belum bisa membayangkan jika Fani bisa melakukan hal seperti itu. Lagi pula, pakai cara apa Fani mempengaruhi warga untuk menggerebek mereka? itu yang dipikirkan oleh Alesya.


Pagi itu setelah sarapan, Daniel mengantarkan Alesya kembali ke posnya. Dia juga harus segera mengurusi kegiatannya sendiri.


Setelah kepergian Daniel, Alesya segera bersiap untuk pergi ke taman kanak-kanak. Dia sudah ada janji untuk bertemu dengan beberapa wali murid setelah pulang sekolah hari itu.


Karena hari masih gerimis, Alesya dan Yusa memutuskan untuk memakai mobil. Mereka pergi dengan dua orang teman lainnya yang kebetulan akan pergi ke balai desa.


Agenda hari itu, bisa diselesaikan dengan baik oleh anggota kelompok Alesya. Bahkan, agenda kegiatan lain juga berjalan dengan baik.


Malam hari seperti biasa, seluruh anggota kelompok Alesya melakukan evaluasi tentang kegiatan hari ini. Mereka juga mulai menyusun agenda esok hari dan beberapa hari kedepan. 


Saat acara diskusi, Alesya sempat memergoki Fani menatapnya dengan tatapan tajam. Entah mengapa Alesya mendadak memikirkan hal yang tidak-tidak. Meskipun begitu, dia hanya bisa bersikap cuek. Alesya tidak mau menanggapi tingkah absurd Fani.


Hingga waktu menunjukkan pukul sembilan malam, pembahasan kelompok tersebut harus segera diakhiri. Alesya pun sudah bersiap untuk kembali ke rumah sewa Daniel. Daniel yang sudah kembali sejak maghrib, tidak bisa langsung menjemput Alesya. Daniel tahu masih ada agenda yang harus dilakukan Alesya dengan anggota kelompoknya.


Tadi siang, Alesya menyempatkan untuk membeli beras dan beberapa keperluan dapur yang penting. Alesya tahu jika pertengahan minggu depan, Daniel akan kembali lagi ke sana untuk melakukan pertemuan lanjutan yang dijadwalkan pada hari rabu depan.


Alesya berpamitan kepada teman sekamarnya untuk pergi ke rumah sewa Daniel karena sudah di jemput. Jam dinding sudah menunjukkan hampir pukul sepuluh malam saat Alesya keluar dari pos. Dia sempat melirik ke balkon atas jika ada seseorang yang tengah mengawasinya.

__ADS_1


__ADS_2