Kok, Jadi Nikah?

Kok, Jadi Nikah?
Berusaha Menjelaskan


__ADS_3

Alesya sudah bolak balik mencoba menghubungi Daniel. Namun, hasilnya tetap nihil. Ponsel Daniel tetap tidak bisa dihubungi. Alesya benar-benar khawatir. Apalagi, dua hari lagi adalah acara resepsi pernikahan mereka. Pikiran aneh-aneh pun tak bisa luput dari otak Alesya.


Hingga sekitar lima belas menit kemudian, terdengar suara motor yang sudah sangat dikenal oleh Alesya semakin dekat. Alesya buru-buru beranjak dari duduknya dan berjalan tergesa-gesa untuk membukakan pintu gerbang agar terbuka semakin lebar.


Alesya langsung merasakan sebuah kelegaan saat melihat Daniel sudah berada di depannya. Kedua netra mereka langsung bertatapan sesaat sebelum Daniel memasukkan motornya ke dalam garasi rumah Alesya.


Tanpa menunggu terlalu lama, Alesya langsung menutup pintu gerbang rumahnya dan berjalan menghampiri Daniel yang masih berada di dalam garasi. Alesya menunggu Daniel memarkirkan motor dan melepas helmnya. 


Setelah meletakkan helm di tempat biasanya, Daniel berjalan menghampiri Alesya yang sedang menunggunya tak jauh dari pintu garasi.


"Kok, belum istirahat?" tanya Daniel sambil melepaskan tasnya.


"Belum," jawab Alesya sambil meraih tas Daniel. Setelah itu, tanpa bersuara lagi, Alesya langsung berbalik dan berjalan menuju kamar. Dia meninggalkan Daniel yang masih tertinggal di belakang.


Daniel hanya bisa mendesahkan napas beratnya. Sepertinya, dia masih belum memiliki kesempatan untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.


Setelah cukup lama berdiam diri, akhirnya Daniel menyusul Alesya masuk ke dalam rumah. Begitu memasuki rumah, Daniel langsung bertemu dengan ayah mertuanya yang rupanya masih menonton televisi di ruang tengah.

__ADS_1


"Yah, kok belum istirahat?" tanya Daniel sambil berjalan mendekat. Dia segera mendudukkan diri di sofa yang berada di samping ayah Alesya sambil melepaskan jaketnya.


"Masih belum ngantuk, Dan. Kamu kok tumben malam sekali pulangnya. Caca sampai cemas. Dari tadi bahkan dia menunggu kamu di luar. Mana dia juga belum sempat makan malam lagi. Ponsel kamu kenapa tidak bisa dihubungi?" tanya Ayah.


Setelah mendengar ucapan ayah mertuanya, Daniel merasa sangat terkejut. Dia benar-benar tidak menyangka jika Alesya akan menunggunya. Apakah memang karena mereka sudah menikah, jadi Alesya akan bersikap seperti ini?


Dulu, sebelum mereka menikah, Alesya memang lumayan sering menanyakan kemana laki-laki itu pergi jika sampai pulang malam. Setelah mengetahui keberadaan Daniel, Alesya akan memberikan beberapa wejangan dan memintanya untuk tidak pulang terlalu malam.


Menurut Daniel, hal itu sudah biasa dilakukan Alesya sejak dulu. Namun, entah mengapa rasanya saat ini terasa berbeda. Daniel bisa melihat kecemasan sekaligus kelegaan pada wajah Alesya. Apakah itu artinya Alesya tadi benar-benar mengkhawatirkan dirinya? Bahkan, Alesya sempat melewatkan makan malamnya hanya untuk menunggu dirinya.


Hingga ingatannya tiba-tiba tertuju pada ponselnya yang terjatuh saat hendak memasukkannya ke dalam saku jaket. Dan naasnya, ponsel Daniel tersebut langsung retak hingga membuat layarnya gelap seketika.


Daniel menoleh ke arah ayah mertuanya dengan ekspresi penuh penyesalan. Dia merogoh kedua saku jaketnya dan mengeluarkan ponselnya yang sudah almarhum tersebut.


"Maaf, Yah. Tadi ponselku jatuh saat hendak aku masukkan ke dalam kantong jaket. Dan, naasnya ponsel ini jatuh tengkurap di atas jalanan berbatu yang cukup terjal. Alhasil, ponsel ini langsung wafat tak bernyawa," ucap Daniel sambil masih menunjukkan ponsel tersebut kepada ayah.


Melihat hal itu, Ayah langsung mendesahkan napas berat. Sepertinya, dia bisa memahami keadaan Daniel.

__ADS_1


"Lalu, kemana saja kamu sejak siang tadi?" tanya Ayah.


"Aku ada kepentingan di lokasi KKN ku nanti, Yah. Jadi, tadi setelah mata kuliah selesai, aku dan ketua kelompok KKN langsung pergi ke lokasi."


Ayah tampak mengangguk-anggukkan kepala. 


"Ya sudah, kamu segera susul Caca. Jelaskan semua apa yang terjadi dan kamu alami tadi. Jangan buat Caca berpikiran yang tidak-tidak," ucap Ayah.


Daniel segera mengangguk. Setelahnya, dia segera beranjak menuju kamar Alesya di lantai dua. Namun, saat kakinya hendak menaiki tangga, terdengar suara ayah memanggil.


"Dan, usahakan jangan ikut terbawa emosi jika Caca masih marah," ucap ayah yang segera diangguki oleh Daniel. "Oh, iya satu lagi. Caca belum makan malam. Jika kamu belum makan malam juga, ajak dia makan malam sekalian."


"Iya, Yah."


Hhmmm, kira-kira penjelasan Daniel diterima nggak sih ini sama Alesya?


Jangan lupa tinggalkan jejak yang banyak buat othor ya. Terima kasih. 🤗

__ADS_1


__ADS_2