Kok, Jadi Nikah?

Kok, Jadi Nikah?
Dapur


__ADS_3

Alesya cukup terkejut setelah mendengar jawaban Nick. Namun, dia segera mengubah ekspresinya agar tidak menarik perhatian temannya yang lain.


"Jangan ngomongin ini dulu dengan yang lain, Nick. Nggak enak gue," bisik Alesya.


Nick yang baru saja menghabiskan minumannya pun langsung menoleh ke arah Nayra dengan kening berkerut.


"Kenapa?" tanya Nick penasaran.


"Ya, nggak kenapa-napa, sih. Hanya saja, jika tidak ada yang tanya, ya lo diem saja. Nggak usah gembar gembor juga. Kami bukan artis yang harus menjelaskan hal-hal yang tidak ada sangkut pautnya dengan orang lain, kan?" ucap Alesya.


Nick yang masih menatap ke arah Alesya pun hanya mencebikkan bibir.


"Ya, terserah lo, sih. Mau diumumin atau nggak suka-suka lo. Gue hanya mau konfirmasi ucapan Daniel bener apa nggak. Itu saja," ucap Nick sambil beranjak berdiri.


Alesya menoleh sekilas sambil menyunggingkan senyuman tipisnya.


"Thanks, Nick," ucap Alesya lirih.


"Yoi. Kalau gue belum denger penjelasan Daniel, mungkin gue bisa 'bribikin' lo, Sya." Nick berucap sedikit lebih keras sambil lalu.


Mendengar ucapan Nick hanya bisa mendengus kesal sambil mencebikkan bibir. Namun, hal berbeda justru dilakukan oleh Gea. Teman sekamar Alesya tersebut justru berjalan mendekati Alesya sambil menatap kepergian Nick.

__ADS_1


"Awas, Sya. Jangan deket-deket sama si playboy cap cicak. Sejak kemarin dia sudah tebar pesona di depan sama anak-anak tetangga sebelah," bisik Gea.


"Eh, tebar pesona bagaimana?" tanya Alesya penasaran.


"Ya, sok-sokan cari muka mau bantuin benerin mesin motornya yang ngadat. Eh, gak taunya dia malah masuk kembali ke dalam rumah dan panggil si Sandi yang jago mesin." Gea masih tak berhenti julid. Dia memang paling gampang ilfeel jika ada cowok yang punya bibit-bibit playboy. Jiwa julidnya pasti akan meronta-ronta.


Alesya hanya menggelengkan kepala sambil mengulas senyuman. Semakin mengenal Gea, dia semakin mengetahui jika rupanya teman sekamarnya tersebut cukup blak-blakan orangnya.


Tak terasa masakan yang disiapkan oleh Alesya dan teman-temannya sudah selesai. Setelah maghrib, acara makan malam pun mulai dilakukan. Hingga sekitar pukul 19.30, pembahasan untuk agenda siang hari tadi dan esok hari mulai dilakukan.


Alesya sempat mengecheck ponselnya untuk melihat pesan atau panggilan telepon dari Daniel. Namun, sejak siang tadi hingga malam ini dia tidak mendapati pesan atau panggilan dari suaminya tersebut.


Pukul sembilan lewat, diskusi malam pun diakhiri. Semua anggota KKN sudah mulai beranjak menuju kamar masing-masing. Hingga hanya menyisakan beberapa orang yang masih berada di ruang tengah. Beberapa anak laki-laki memilih untuk merokok di depan rumah. Beberapa diantaranya pergi dengan motor untuk sekedar keliling desa.


"Buat apa, Sya?" tanya sebuah suara.


Sontak Alesya langsung berjengit kaget. Dia memegangi dadanya dan menoleh ke arah sumber suara.


"Astaga, Galih! Kaget, ih." Alesya masih mengusap-usap dada karena terkejut.


"Eh, sorry. Gue kira lo dengar pas gue jalan ke sini." Galih hanya tersenyum nyengir.

__ADS_1


"Langkah lo lirih kali, Lih," ucap Alesya mencebikkan bibir sambil berbalik. "Mau buat apa?" lanjutnya.


"Kopi."


"Mau gue bantu buatin sekalian?" Alesya menawarkan. Pasalnya, dia juga hendak membuat kopi untuk menemani aktivitasnya menyiapkan bahan untuk esok hari.


"Boleh kalau nggak ngrepotin. Buatin dua buat gue sama Sandi."


"Oke."


Bukannya beranjak pergi, Galih justru mengambil kursi dan menggesernya. Rupanya, dia menunggu kopi buatan Alesya jadi sambil memainkan ponsel.


"Sya, boleh gue ngomong?" tanya Galih sambil masih mengotak atik ponselnya.


Alesya menoleh sekilas ke arah Galih. Dia sudah bisa menebak ke arah mana pembicaraan tersebut.


"Lo mau ngomong apa? Lo mau tanya pernikahan gue sama Daniel?" tanya Alesya.


Belum sempat Galih menjawab pertanyaan Alesya, terdengar sebuah suara terkejut dari arah pintu.


"Apa?!"

__ADS_1


Jangan lupa siapkan jatah vote buat cerita ini ya, malam senin nih. 🤗


__ADS_2