
Daniel dan Alesya masih diam mendengarkan sang kakak bercerita.
"Saat itu, aku memang masih memindahkan beberapa materi yang ada di laptop pak Ferdian. Beruntung pak Ferdian sudah memberikan catatan mana yang harus aku pindahkan untuk bahan materi."
"Aku yang terlalu fokus pada layar laptop, hingga tidak sengaja gelas berisi sisa jus alpukat yang ada di atas meja tersenggol buku yang hendak ku ambil. Alhasil, sisa jus alpukat yang masih setengah gelas itu tumpah di bajuku hingga mengenai celana jeans ku pada bagian paha."
"Waktu itu, aku memakai kemeja polos berwarna baby blue dan celana cream. Alhasil, bekasnya benar-benar terlihat dengan jelas. Tentu saja saat itu aku menjadi panik. Tidak mungkin aku keluar dari kamar dengan kondisi pakaian seperti itu."
"Aku mendapat ide untuk memesan baju secara online. Beruntung acara seminar dijadwalkan sampai jam makan siang. Aku masih punya waktu kurang lebih dua jam. Aku mulai mencari-cari toko pakaian yang ada di sekitar hotel. Dan, beruntungnya aku bisa mendapatkan pakaian lengkap disana."
"Setelah menyelesaikan pekerjaan, aku memutuskan untuk mandi. Aku pikir, tidak apa-apa jika meminjam kamar mandi dan handuk untuk mandi sekalian. Badanku benar-benar lengket terkena jus alpukat itu."
"Selesai mandi, aku hanya memakai handuk sambil menunggu pesanan pakaianku datang. Aku juga langsung membereskan laptop agar jika pakaianku datang aku bisa segera berganti baju dan pergi dari kamar tersebut."
"Namun, rencana tinggallah rencana. Saat aku masih membereskan laptop, tiba-tiba pintu kamar hotel terbuka. Dan, betapa kagetnya aku saat ternyata yang muncul di sana adalah mami Nia, mamanya pak Ferdian. Dia datang sambil membawa sebuah paper bag yang ternyata berisi baju yang baru saja kupesan."
"Belum cukup rasa terkejutku, tiba-tiba di belakangnya muncul sosok pak Ferdian yang datang dengan napas ngos-ngosan. Sepertinya, dia baru saja berlari dan terburu-buru datang ke kamarnya."
Kak Desi menjeda sebentar ceritanya sambil menatap wajah Daniel dan Alesya bergantian.
__ADS_1
"Kok kalian diam saja, sih?" ucap kak Desi sambil mengerucutkan bibir.
Daniel yang mendengar itu langsung mendengus kesal.
"Tadi kami dilarang komen jika cerita kakak belum selesai. Kok sekarang protes?"
Kak Desi hanya bisa mencebikkan bibir setelah menyeruput minumannya.
"Ya, bereaksi gimana gitu, kek. Berasa ngomong sama tembok," gumam kak Desi tapi masih bisa didengar oleh Alesya dan Daniel.
Daniel mendesahkan napas kesal mendengar ucapan sang kakak. "Udah deh, Kak. Ini lo mau lanjut cerita nggak sih, kebanyakan iklan, deh."
Flashback on.
Suara langkah kaki yang terburu-buru terdengar di telinga mami Nia dan Desi saat itu. Keduanya yang sudah berhadapan langsung tersebut, masih terdiam bingung harus melakukan apa.
Brakkk.
Suara pintu terbuka dengan kasar langsung menginterupsi perhatian Desi dan mami Nia.
__ADS_1
"Mi, ini nggak seperti yang mami tuduhkan. Aku nggak bawa perempuan ke hotel, Mi." Suara Ferdian langsung terdengar saat berjalan menghampiri sang mami.
Mami Nia menoleh ke arah putra sulungnya tersebut. Dia terlihat menahan geraman.
"Kalau kamu tidak membawa perempuan ke hotel, lalu ini apa? Bukannya ini kamar kamu? Bagaimana perempuan ini ada di dalam kamar kamu jika bukan karena kamu yang mengundangnya?"
Mendapati tuduhan sang mami, Fersian langsung menggelengkan kepala untuk menyangkal tuduhan tersebut.
"Enggak, Mi. Aku sama sekali tidak seperti itu. Ini tidak seperti yang mami pikirkan." Lagi-lagi Ferdian berusaha menjelaskan kepada maminya.
"Kamu kenal perempuan ini, Fer?" tanya mami sambil menatap tajam sang putra.
Ferdian melirik ke arah Desi yang saat itu terlihat masih syok dan sedang berdiri kaku di tempatnya karena terkejut.
"I-iya, Mi. Dia mahasiswa di kampusku sekaligus asistenku."
"Apa?! Pintar sekali alibimu untuk menutupi skandal, Fer. Kamu menjadikan mahasiswimu sebagai asisten di kampus sekaligus di atas ranjang begitu, hah?!"
Bruukkk.
__ADS_1