Kok, Jadi Nikah?

Kok, Jadi Nikah?
Permintaan Tolong


__ADS_3

Setelah menerima kartu pemberian Daniel, Alesya melanjutkan aktivitasnya untuk bersiap ke kampus. Tak butuh waktu lama, Alesya pun sudah siap. Daniel dan Alesya segera berangkat ke kampus dengan mengendarai motor.


Seperti biasa, karena Alesya tidak memakai jaket, dia memasukkan tangannya pada saku jaket Daniel. Sebenarnya, hal itu sudah biasa dilakukannya. Tapi, entah mengapa kali ini rasanya sedikit berbeda.


Hal yang sama juga dirasakan oleh Daniel. Bukannya tidak menyadari jika ada yang menempel di punggungnya, namun Daniel berusaha mengalihkan perhatian pada jalanan di depannya. Dia tidak mungkin memikirkan hal-hal aneh disaat seperti ini.


Sekitar empat puluh lima menit kemudian, motor Daniel sudah sampai di parkiran fakultas Alesya. Daniel segera menghentikan motornya di tempat dia biasa berhenti untuk mengantarkan Alesya.


"Nanti jadi ikut beneran?" tanya Alesya sesaat setelah turun dari motor.


"Hhmmm."


Alesya mendesahkan napas beratnya. Memang Daniel sudah sering mengikuti aktivitas Alesya. Namun, rasanya untuk saat ini dia tidak ingin Daniel ikut.


"Nanti kan mau rembukan masalah persiapan KKN, Da. Masa iya kamu mau ikut juga?" Alesya mengerucutkan bibir sambil menatap kesal ke arah Daniel.


"Biarin. Nanti juga aku mau ketemu orang disana," jawab Daniel dengan santai.


Kening Alesya berkerut setelah mendengar ucapan Daniel. Dia belum beranjak dari tempatnya berdiri dan justru menatap wajah Daniel penuh selidik. Entah mengapa Alesya menjadi penasaran.


"Mau ketemu siapa?" tanya Alesya.


"Iqbal."


"Iqbal? Iqbal ketua grup KKN?"


"Hhmmm."

__ADS_1


"Sama yang lainnya juga?"


"Enggak. Cuma sama Iqbal doang. Ada hal yang harus aku bahas dengannya."


Alesya mencebikkan bibir saat melihat Daniel enggan menceritakan rencana pertemuannya dengan Iqbal. Setelah itu, Alesya segera beranjak menuju ruang kelasnya dengan membawa helmnya. Dia tidak mungkin menitipkan helmnya kepada Daniel karena laki-laki itu akan pergi ke kedai sebentar.


Siang itu, Alesya hanya ada jadwal satu mata kuliah. Setelah jadwal kuliah ya selesai, Alesya segera beranjak menuju kafe yang ada tak jauh dari kampus. Dia hanya perlu berjalan sekitar dua ratus meter dari pintu gerbang fakultasnya.


Di kafe tersebut, sudah ada beberapa orang yang mulai membahas beberapa program KKN nanti. Alesya langsung ikut bergabung dengan mereka.


Alesya mengambil tempat duduk di samping Yusa dan Arina. Mereka sama-sama dari fakultas yang sama, tapi berbeda prodi. 


Siang itu, Alesya dan teman-teman satu kelompoknya membahas persiapan akhir untuk acara KKN nanti. KKN yang akan dimulai kurang dari dua minggu lagi, membutuhkan banyak sekali persiapan. Semua anggota mendapat tugas masing-masing sesuai dengan jurusan kuliah yang diambilnya.


Sekitar satu jam kemudian, Alesya melihat kedatangan Daniel dan Iqbal, teman satu kelompok KKN nya. Daniel dan Iqbal menyapa kelompok Alesya karena memang mereka juga ada yang mengenal. Setelah itu, Daniel dan Iqbal mengambil tempat duduk di bagian teras samping untuk berdiskusi.


Rupanya, setelah kedatangan Daniel, ada seseorang yang tengah menatap ke setiap gerakan Daniel. Bahkan, dia masih menatap ke arah Daniel ketika laki-laki itu mengambil tempat duduk di teras samping.


'Kenapa lihatin sampai sebegitunya? Apa Fani naksir Daniel?' batin Alesya.


Ya, Fani, teman satu kelompok Alesya, yang saat itu mencuri-curi pandang ke arah Daniel. Entah mengapa hal itu membuat Alesya merasa tidak nyaman.


Apakah sudah ada getar-getar setrum di hati Alesya? 🤔


Sekitar dua jam kelompok KKN Alesya membahas beberapa program kelompok mereka. Setelah itu, satu persatu dari mereka berpamitan. Namun, Alesya masih berada di sana karena menunggu Daniel yang masih belum selesai.


Rupanya, Fani juga urung beranjak dari kursinya. Dia masih beberapa kali kedapatan mencuri-curi pandang ke arah Daniel. Dan, hal itu membuat Alesya semakin tidak nyaman.

__ADS_1


"Kok belum pulang, Fa?" tanya Alesya memecah keheningan.


"Eh, ehm, sebentar lagi," jawab Fani sambil mengulas senyuman.


Alesya hanya mengangguk-anggukkan kepala. Dia berusaha berpikiran positif dengan adanya Fani di sana, Alesya jadi memiliki teman ngobrol.


"Lo tetanggaan sama Daniel, Sya?" tanya Fani.


Alesya mengangguk mengiyakan. "Iya. Rumah kita deketan, kok."


Bahkan, sekarang kita juga jadi tetangga ranjang, batin Alesya.


"Kalian sudah lama tetanggaan?" Rupanya Fani masih penasaran.


"Dari bayi, sih. Kita memang sudah selama itu tinggal bertetangga."


"Waahh, sudah seperti keluarga dong, berarti?" ucap Fani sumringah.


"Ya, gitu deh."


"Berarti kalian sudah sekolah bareng-bareng dari kecil, dong?"


"Iya. Kita mulai dari SD sampai kuliah juga di tempat yang sama. Hanya di bangku kuliah saja ini nih kita beda jurusan."


Fani tampak mengangguk-anggukkan kepala.


"Ehm, boleh minta tolong nggak, sih?" tanya Fani malu-malu.

__ADS_1


"Eh, minta tolong apa?"


Hayo, mau minta tolong apa nih kira-kira?


__ADS_2