
Mendengar ucapan sang mama, sontak Daniel langsung menjadi pusat perhatian beberapa orang yang berada di sana. Tak terkecuali Alesya. Dia langsung melayangkan tatapan membunuh kepada suaminya tersebut.
Mendapati tatapan yang menuduh dari beberapa orang, sontak saja hal itu membuat Daniel salah tingkah. Dia langsung menggelengkan kepala ke arah mamanya.
"Bukan begitu maksudnya tadi, Ma. Jangan berpikiran yang aneh-aneh, deh. Malu didengar yang lainnya," ucap Daniel sambil melirik ke arah keluarga besarnya.
"Halah, biasanya kamu juga malu-maluin. Beruntung kamu bisa menikahi Laesya yang sudah tahu kamu luar dalam. Jika bukan menikah dengan Alesya, mama pastikan istri kamu bakal kaget melihat keabsurdan tingkah kamu, Dan." Mama langsung menyahuti ucapan Daniel.
"Eh, siapa bilang Alesya sudah tahu aku luar dalam, Ma. Kami bahkan belum ngapa-ngapain. Belum buka-bukaan, kok. Sumpah." Daniel menatap ke arah sang mama dengan ekspresi serius. Entah dia sadar atau tidak dengan ucapannya tersebut.
"Kuda! Apaan, sih?" Alesya yang mendengar ucapan sang suami, langsung berteriak protes. Dia benar-benar malu setelah mendengar ucapan sang suami. Wajahnya langsung merah karena menahan rasa malu.
Mama Daniel yang melihat ekspresi malu Alesya, langsung berjalan mendekati Daniel dan menjewerr telinganya.
"Aduuhh, duuuhh, Ma. Sakit, ih. Aku sudah gedhe, Ma. Sudah menikah lagi. Masih juga diperlakukan seperti anak kecil. Aduuuhhh, Ma. Sakit, ih. Malu, Ma." Daniel langsung meringis saat merasakan jeweran sang mama.
Tak sampai disitu, mama Daniel juga menarik telinga putranya tersebut dan membawanya menuju ruang tengah.
"Biarin. Biar kamu kapok. Makanya, punya mulut itu dijaga. Jangan asal ngejeplak seenaknya begitu," ucap mama Daniel sambil melepaskan jewerannya.
Daniel langsung mengusap-usap telinganya sambil mengerucutkan bibir kesal. Dia tidak lagi berani menatap wajah sang mama jika mamanya itu sudah mulai mengomel panjang lebar.
Setelah ceramah singkat tersebut, mama langsung meminta Daniel untuk membereskan barang-barang yang ada di ruang tengah. Dia harus memindahkan barang-barang tersebut ke kamarnya yang berada di lantai dua. Meskipun Daniel masih menggerutu kesal, namun dia tetap menuruti permintaan mamanya tersebut.
__ADS_1
Menjelang sholat jumat, aktivitas di rumah Daniel sudah selesai. Kini, Daniel sudah membawa beberapa bajunya kembali ke rumah Alesya. Dia juga langsung bersiap untuk menjalankan sholat jumat.
"Nanti langsung berangkat ke kampus?" tanya Alesya setelah Daniel selesai bersiap-siap ke masjid.
"Iya. Ada kuliah jam dua."
"Kok tumben. Biasanya juga free kalau hari jumat?" tanya Alesya. Pasalnya, Alesya juga sudah cukup hafal dengan jadwal kuliah Daniel.
"Dua pertemuan ini diganti jadwalnya. Dosennya sedang sibuk-sibuknya mengurus S-3 nya."
"Oh," Alesya hanya mengangguk-anggukkan kepala.
"Nanti aku ada pertemuan dengan teman-teman kelompok KKN. Jadi, pulangnya mungkin agak sorean," ucap Daniel sambil berjalan menuju pintu kamar.
"Hhhmmm."
Setelahnya, Daniel segera berangkat ke masjid. Daniel biasa melakukan sholat jumat di masjid yang terletak tak jauh dari komplek perumahan mereka.
Sepeninggal Daniel, Alesya langsung mempersiapkan keperluan Daniel. Saat ini, lemari baju Alesya sudah mulai dipenuhi oleh baju-baju Daniel. Alesya juga sudah memindahkan semua baju-bajunya yang jarang dipakai di kamar belakang agar lemari tersebut mampu memuat baju-baju milik Daniel.
Siang itu, aktivitas Alesya hanya di rumah sambil mengerjakan beberapa tugas kuliah yang memang belum selesai. Hingga menjelang pukul tiga sore, ibu dan ayah Alesya sudah pulang. Sore itu, mereka kembali membantu persiapan di rumah keluarga Daniel.
Saat ini, jam dinding sudah menunjukkan pukul tujuh malam lewat. Namun, Daniel tak kunjung pulang. Alesya cukup khawatir karena Daniel bilang jika dia akan pulang menjelang petang. Namun, hingga menjelang makan malam, Daniel belum juga menunjukkan batang hidungnya.
__ADS_1
Alesya sudah mencoba menghubungi Daniel beberapa kali. Namun, ponsel Daniel tersebut tidak bisa dihubungi. Hal itu membuat Alesya semakin cemas.
Ibu yang mengetahui kegelisahan sang putri, langsung berusaha membujuk.
"Ca, makan malam dulu. Sebentar lagi Daniel pasti juga pulang," ucap Ibu berusaha menenangkan Alesya.
Alesya menoleh ke arah ibunya tersebut. Dia menggelengkan kepala dengan pelan.
"Ibu makan saja dulu sama ayah. Aku akan nunggu Kuda. Dia sebentar lagi juga pulang, kok." Alesya berusaha menenangkan diri. Entah mengapa Alesya menjadi tidak tenang malam itu.
Ibu mendesahkan napas berat sambil mengusap bahu Alesya.
"Baiklah, ibu dan ayah makan dulu. Jangan terlalu lama menunda makan. Ibu nggak mau kamu terkena maag," ucap ibu.
"Iya."
Setelahnya, ibu meninggalkan Alesya yang sejak tadi sedang duduk di teras depan bagian samping. Rupanya, Alesya menunggu Daniel di teras depan.
Alesya semakin was-was karena selama ini Daniel tidak pernah berbuat hal seperti ini. Kalaupun Daniel pulang malam atau pulang terlambat, dia pasti akan memberitahu atau ponselnya bisa dihubungi. Namun, tidak dengan hari ini. Entah mengapa Alesya menjadi semakin cemas.
Hhmmm, kemana ya si Daniel?
Bagi yang masih punya jatah vote, bisa dong kasih sedikit untuk Danesya alias Daniel dan Alesya. 🤭
__ADS_1