Kok, Jadi Nikah?

Kok, Jadi Nikah?
Mengantar Mertua


__ADS_3

"Aarrggghhhh!"


Daniel langsung berteriak saat pinggangnya menabrak pegangan sofa karena saking kerasnya dorongan yang diberikan oleh Alesya. Wajah Daniel langsung meringis seketika. Sepertinya, Alesya mengerahkan seluruh kekuatannya untuk mendorong tubuh Daniel yang tanpa persiapan apa-apa tersebut.


Sebenarnya, jika posisi Daniel saat itu tepat berada di depan pegangan sofa, mungkin rasa sakit yang dirasakannya tidak akan sesakit ini. Namun, karena posisi Daniel saat itu agak menyamping, alhasil pinggangnya langsung terkena ujung pegangan sofa.


Nyut. Nyut. Nyut. Itulah yang dirasakan Daniel pada pinggangnya kini. 


Alesya yang melihat Daniel tengah kesakitan, dia langsung buru-buru bangun. Wajahnya langsung cemas saat menatap ekspresi kesakitan Daniel.


"Aduuhh, Da. Maaf, maaf. Aku tidak sengaja tadi." Alesya mengusap-usap pinggang Daniel. Ekspresi cemas pun tak luput dari wajah Alesya.


"Sakit, Le." Daniel masih merengek. Bahkan, untuk menggerakkan pinggangnya pun rasanya benar-benar nyeri.


"Maaf, maaf. Aku benar-benar nggak sengaja, Da." 


"Aduuhh, i-ini sampai nyut-nyutan rasanya." Daniel masih merintih. 


Dalam hati, Daniel menyadari jika sikapnya tersebut pasti akan dianggap lemah oleh Alesya. Namun, rasa nyut-nyutan pada pinggangnya benar-benar membuat Daniel merasakan ngilu saat bergerak.


"Iya, iya. Maaf. Sini, aku bantuin bangun. Nanti aku seka pakai air hangat, ya?" ucap Alesya.


Daniel hanya mengangguk mengiyakan ucapan Alesya. Setelah itu, dia membiarkan Alesya membantunya berdiri dan berjalan menuju tempat tidur. Alesya juga membantu Daniel berbaring pelan-pelan di atas tempat tidur.


"Sudah nyaman posisinya?" tanya Alesya sesaat setelah tubuh Daniel benar-benar terbaring di atas tempat tidur.

__ADS_1


"Hhhmmm, sudah."


"Baiklah. Tunggu sebentar. Aku siapkan air hangat dulu," ucap Alesya sambil beranjak menuju pintu kamar.


Setelahnya, Alesya segera berjalan menuju dapur. Dia akan menyiapkan air hangat yang dimasukkan ke dalam botol kaca untuk memudahkannya menyeka pinggang Daniel.


Tak sampai lima belas menit kemudian, Alesya sudah kembali ke kamar dengan membawa sebotol air hangat dan handuk kecil. Alesya langsung beranjak mendekati tubuh Daniel, dan mulai menyeka pinggang suaminya tersebut.


"Aduh duh duh, panas, Le." Daniel meringis kepanasan saat botol kaca tersebut menyentuh kulit pinggangnya.


"Sabar, tahan dulu. Ini sudah aku kasih lapisan handuk biar tidak airnya tidak terlalu panas," jawab Alesya.


"Iya."


"Hhmmm."


Setelahnya, Alesya dan Daniel langsung terdiam. Alesya sedang fokus pada aktivitasnya, sementara Daniel sudah mulai mengantuk. Hingga tak butuh waktu lama bagi Daniel untuk terlelap. 


Alesya tetap menyeka pinggang Daniel hingga air yang ada di dalam botol tersebut benar-benar dingin. Setelah itu, Alesya memberanikan diri untuk obat gosok. Daniel sempat mendesis perlahan saat Alesya memberikan obat gosok, namun langsung kembali terlelap setelahnya.


Begitu semua aktivitasnya selesai, Alesya segera mengembalikan peralatannya. Setelah itu, dia langsung ikut bergabung dengan Daniel. Rupanya, tubuhnya sudah lumayan terasa lelah dan mengantuk. Tak butuh waktu lama bagi Alesya untuk terlelap.


Keesokan pagi, ternyata nyeri pada bagian pinggang Daniel sudah lumayan hilang. Dia tidak terlalu merasakan nyut nyutan pada pinggangnya.


Daniel menghampiri Alesya dan orang tuanya yang sudah berada di ruang makan. Setelah itu, mereka langsung menyantap sarapan bersama-sama.

__ADS_1


Hari ini, adalah Jumat. Ayah ada kegiatan Jumat bersih di sekolah. Jadi, beliau harus berangkat ke sekolah lebih pagi dari biasanya. Ibu yang biasanya nebeng ayah, harus rela ditinggal berangkat lebih dulu. Dan, biasanya Alesya yang akan mengantarkan ibu ke tempat catering.


Setelah sarapan, Daniel menawarkan untuk mengantar ibu. Awalnya, Alesya menolak tawaran Daniel karena sepertinya pinggang Daniel masih sakit. Namun, setelah Daniel menjelaskan jika dia sudah tidak apa-apa, akhirnya Alesya menyetujui permintaan Daniel.


Dengan mengendarai mobil Alesya, Daniel mengantarkan ibu mertuanya tersebut menuju tempat usaha catering. Sepanjang perjalanan, Daniel dan ibu Alesya mengobrol tentang banyak hal.


"Jadi, benar jika kamu sudah mulai ikut proyek dari temen papa kamu, Dan?" tanya ibu.


"Iya, Bu. Sudah dari semester kemarin, sih. Tapi, masih harus banyak-banyak melakukan survei dulu."


Ibu mengangguk-anggukkan kepala. Dia cukup mengerti setelah mendengar cerita dari mama Daniel. 


"Tidak apa-apa, Dan. Anggap sebagai latihan juga. Ini pertama kali kamu ikut proyek seperti itu, kan?"


"Iya, Bu. Doakan semua lancar, ya." Daniel menoleh sekilas ke arah ibu.


"Pasti, Dan. Ibu pasti akan mendoakan yang terbaik untuk kalian."


Tak berapa lama setelahnya, Daniel sudah sampai di tempat usaha ibu Alesya. Setelah ibu turun, Daniel beranjak menuju sebuah tempat. Dia ingin bertemu dengan seseorang. Sebelumnya, Daniel memang sudah bilang kepada Alesya jika dia akan bertemu temannya. Jadi, Alesya tidak akan menunggunya terlalu lama.


Sekitar tiga puluh menit kemudian, Daniel sudah tiba di tempat yang sudah dijanjikan dengan temannya tersebut. Sebuah toko elektronik yang sudah menjadi langganan Daniel menjadi tujuannya.


Seperti biasa, Daniel langsung memasuki toko tersebut. Begitu Daniel melangkahkan kaki memasuki toko, terdengar sebuah suara memanggil namanya.


"Daniel?!"

__ADS_1


__ADS_2