
Keesokan pagi, beruntung Alesya bisa bangun seperti biasa. Semalam, Alesya memang sempat menyetel alarm untuk mrmbangunkannya esok pagi. Dia sudah punya firasat jika Daniel pasti akan mengajaknya lembur.
Alesya membiarkan Daniel tidur lagi setelah melaksanakan sholat subuh. Pagi ini, Daniel bangun terlambat. Jadi, dia melewatkan jamaah subuh dengan ayah Alesya di masjid seperti biasa.
"Daniel masih tidur, Ca?" tanya ibu saat Alesya berjalan memasuki dapur.
"Iya. Matanya benar-benar lengket nggak mau kebuka, Bu."
"Biarkan saja. Paling sudah benar-benar capek."
Alesya hanya menganggukkan kepala. Setelah itu, dia membantu ibunya memasak sarapan. Pagi ini, ibu Alesya ingin membuat sambal goreng ati kesukaan Daniel. Beruntung ibu Alesya mempunyai usaha katering, jadi rasa masakannya selalu tidak pernah gagal.
"Ca, antar sarapan ini ke rumah Daniel. Sama sekalian bilangin mama kamu untuk menunggu ibu nanti sore. Kami janjian mau datang ke acara ngunduh mantu pak Aditomo," ucap ibu Alesya sambil menyerahkan sambal goreng kepada Alesya.
"Iya."
Tak menunggu lama, Alesya pun langsung bergegas menuju rumah mertuanya yang hanya berjarak satu jengkal dari rumahnya. Tak perlu memutar, Alesya langsung melewati jalan setapak yang memang sudah ada sejak jaman dulu. Bahkan mungkin, sejak Alesya belum lahir.
Setelah mengucapkan salam, Alesya langsung nyelonong masuk hingga ke dapur. Terlihat mama mertuanya sedang memasak sarapan.
__ADS_1
"Waahh, Sayang. Kamu kurusan, ih." Mama Daniel langsung memeluk dan cipika cipiki menantu kesayangannya tersebut. Mama Daniel memindai tubuh Alesya dari atas hingga bawah.
"Nggak juga, Ma. Paling hanya turun beberapa kilo, sih."
"Kok turun? Emang di tempat KKN kamu kesulitan?" tanya mama Daniel sambil berjalan mengajak Alesya menuju ruang makan.
"Nggah sih, Ma. Semua fasilitas bagus, kok. Jalan juga lumayan bagus. Ya, mungkin karena ada masalah kemarin itu jadi kepikiran aja."
Mama Daniel mengangguk-anggukkan kepala mengerti.
"Sudah, jangan dipikirkan lagi. Nggak usah diingat-ingat juga. Yang penting, semua sudah ditangani dengan baik oleh pihak berwajib, kan?"
"Iya, Ma."
Setelah sarapan, Daniel berniat kembali ke tempat KKN nya. Namun ternyata, dia mendapatkan telepon untuk menemui beberapa orang berkaitan dengan proyek yang tengah dikerjakannya dengan anggota kelompok. Mau tidak mau, Daniel harus segera menemui orang-orang tersebut.
"Jangan lupa telepon jika sudah sampai, Mas. Nanti menginap saja jika kemalaman. Jangan langsung balik ke lokasi KKN," pesan Alesya saat Daniel tengah mengganti bajunya.
"Iya."
__ADS_1
"Kalau bisa, tungguin yang lainnya dulu. Nggak usah berangkat langsung ke tempat yang dijanjikan jika sendirian."
"Iya."
"Ponsel jangan sampai mati. Bawa powerbank sama charger jangan lupa. Punyaku juga sudah aku masukkan ke dalam tas buat jaga-jaga. Jangan sampai ponsel kehabisan baterai dan mati."
"Iya."
Alesya langsung mengerucutkan bibir kesal saat lagi-lagi Daniel hanya menjawab dengan jawaban 'iya'.
"Kamu dengerin aku ngomong dari tadi nggak sih, Mas? Kok cuma iya-iya mulu dari tadi. Ganti yang lain, ih." Alesya langsung protes.
Daniel yang saat itu tengah menyisir rambut, langsung berbalik sambil meletakkan sisir di atas meja rias Alesya.
"Ya karena aku sukanya yang iya-iya. Gimana, dong? Kalau disuruh ganti ya nggak mau," jawab Daniel dengan ekspresi wajah tanpa dosa.
Mendengar jawaban Daniel, sontak saja Alesya semakin kesal.
"Cckkk. Otak kamu kesana mulu arahnya." Alesya langsung beranjak berdiri mengabaikan Daniel yang hendak mendekat.
__ADS_1
Namun, niat Alesya terhenti saat tangan kanannya sudah berhasil ditarik dengan kuat oleh Daniel.
"Kyyaaaaaa!"