
Alesya menoleh ke arah sumber suara. Terlihat seorang laki-laki berdiri di sampingnya sambil mengulas senyuman manis. Ya, laki-laki tersebut adalah orang yang sama yang sudah menatapnya sejak acara pembukaan KKN tersebut dimulai.
Karena Alesya masih belum memberikan respon, laki-laki tersebut kembali bersuara. Dia langsung mengulurkan tangannya sambil menyebutkan nama.
"Aku Refan. Kamu?" ucap laki-laki tersebut sambil menunggu balasan tangan Alesya.
Karena ada yang mengamati mereka, Alesta merasa tidak enak jika tidak menjawab laki-laki yang ada di depannya tersebut.
"Alesya," ucap Alesya sambil menjabat tangan Refan.
Sebuah senyum lebar tampak pada bibir Refan. Dia cukup puas setelah mendapatkan balasan dari Alesya. Bahkan, beberapa orang teman Alesya masih melirik kedua orang tersebut.
"Senang berkenalan dengan kamu. Aku sekretaris desa di sini. Jika butuh bantuan, kamu bisa menghubungiku," ucap Refan sambil masih mengulas senyuman lebarnya.
Mau tidak mau, Alesya langsung menganggukkan kepala.
"I-iya, Pak. Terima kasih." Alesya hanya menganggukkan kepala sambil berusaha bersikap ramah.
Kening Refan berkerut saat mendengar panggilan 'pak' yang dipakai oleh Alesya. Meskipun dia sudah biasa mendengar panggilan tersebut dari warga, entah mengapa dia merasa aneh saat mendengarnya dari bibir Alesya.
Namun, Refan tidak mungkin meralat panggilan tersebut karena tidak enak dengan yang lainnya.
Hingga beberapa saat kemudian, Yusa memanggil Alesya dari sebelah timur. Mau tidak mau, Alesya harus berpamitan dan segera beranjak menghampiri Yusa. Dia sedikit merasa lega saat mendapat panggilan tersebut hingga membuatnya bisa segera menghindari Refan.
"Siapa dia, Sya?" bisik Yusa ketika Alesya sudah berada di sampingnya.
"Sekdes sini."
Kening Yusa berkerut.
__ADS_1
"Kok dia bisa nyamperin kamu?"
Alesya menggelengkan kepala sambil mengedikkan bahu. Dia tidak mau terlalu ambil pusing dengan hal itu. Hingga tak berapa lama kemudian, aktivitas para peserta KKN sudah selesai. Menjelang pukul sebelas malam, mereka bergegas kembali ke 'pos ungu'.
Alesya dan teman-temannya langsung bergegas menuju kamar masing-masing. Mereka ingin membersihkan diri dan beristirahat. Beruntung kamar di lantai satu masing-masing memiliki kamar mandi di dalam. Sedangkan di lantai dua, hanya ada satu kamar mandi di luar dan satu kamar mandi di dalam untuk kamar yang ada di dekat balkon.
Setelah selesai membersihkan diri, Alesya berniat untuk merebahkan tubuhnya yang cukup terasa lelah. Namun, niat tersebut diurungkan karena melihat notifikasi ponselnya berkedip beberapa kali.
Ternyata, ada beberapa pesan dari Daniel yang belum terbaca. Di layar ponsel juga terlihat ada dua kali panggilan tak terjawab dari sang suami. Alesya melirik ke arah dua orang teman sekamarnya yang juga ternyata sedang sibuk dengan ponsel masing-masing dengan headset terpasang pada kedua telinga mereka. Mereka juga sama-sama masih belum tidur.
22.36
Belum pulang? ~ Daniel.
22.47
Kok nggak dibaca? Belum pulang? ~ Daniel.
Sayang? ~ Daniel.
22.59
Le? Angkat teleponku. ~ Daniel.
12
__ADS_1
Lagi ngapain sih, Le? Kenapa nggak angkat teleponku? ~ Daniel.
23.16
Le? Jika masih nggak bisa dihubungi aku susulin sekarang juga. ~ Daniel.
Alesya membaca pesan terakhir Daniel sejak sekitar lima menit yang lalu. Dia cukup khawatir jika Daniel sampai nekat menyusulnya malam-malam begini. Alesya buru-buru menghubungi Daniel untuk mengurungkan niatnya menyusul ke lokasi KKN.
Tuut tuuuuutttt.
Tepat pada dering kedua panggilan telepon Alesya langsung tersambung.
"Le? Dari mana saja, sih? Wa nggak dibaca, telepon nggak diangkat. Jangan buat orang khawatir!" Alih-alih mendapat sapaan atau salam, Alesya justru mendapatkan omelan dari Daniel.
Alesya hanya bisa mendesahkan napas berat sambil berusaha mengurangi volume pada ponselnya. Dia tidak mau mengganggu kedua teman sekamarnya. Beruntung keduanya sedang memakai headset.
"Maaf. Tadi, sehabis acara pembukaan selesai kami harus beresin tempat acara. Setelah itu, baru bisa pulang dan bersih-bersih. Ini juga baru selesai bersih-bersih." Alesya berusaha untuk bersikap lebih tenang. Dia sudah mulai hafal dengan tingkah Daniel yang selalu over protektif terhadapnya.
Terdengar helaan napas dari seberang sana. Rupanya, Daniel berusaha untuk mengontrol emosi karena rasa kesalnya. Hingga beberapa saat kemudian, Daniel kembali buka suara.
"Tadi ada sedikit masalah di lokasi KKN kelompokku. Dan, besok beberapa orang perwakilan akan ke sana. Termasuk aku juga harus ikut karena berhubungan dengan proyek yang dikerjakan. Jadi, kemungkinan besok aku tidak bisa kesana," jelas Daniel.
Alesya bisa mengerti hal itu. Dia juga tidak masalah jika Daniel tidak bisa mengunjunginya.
"Iya, tidak apa-apa. Selesaikan saja semuanya dulu. Jangan terlalu dipaksakan untuk datang kesini kalau masih sibuk."
"Tidak bisa. Bagaimanapun juga aku pasti akan kesana nanti. Bisa lemes kalau nggak kesana," ucap Daniel.
"Eh, memangnya kenapa?" tanya Alesya penasaran.
__ADS_1
"Cckkk. Masih nanya? Nahan kangen itu bikin lemes, Le. Nggak kuat aku."
"Hah?"