Kok, Jadi Nikah?

Kok, Jadi Nikah?
Ini Istri Saya


__ADS_3

Siang itu, terpaksa Alesya dan Yusa menunggu kedatangan Daniel untuk menemani mereka ke rumah Refan. Sebenarnya Alesya malas mengantarkan proposal itu langsung ke rumah sekdes tersebut. Namun, dia juga tidak bisa lepas tanggung jawab begitu saja.


Alesya dan Yusa masih menunggu Daniel di teras depan. Hingga tak berapa lama kemudian, mobil Daniel pun sudah terlihat memasuki halaman. Seketika Alesya dan Yusa segera berangkat.


Fani yang kebetulan melihat mobil Daniel dari jendela kamarnya, hanya bisa mengerutkan kening. Entah mengapa hatinya masih merasa tidak suka melihat kedekatan Alesya dan Daniel.


Tak sampai lima belas menit kemudian, mobil yang dikemudikan Daniel sudah berhenti di sebuah rumah bergaya modern. Setelah sempat bertanya-tanya kepada warga, akhirnya mereka bisa menemukan rumah Refan.


"Ayo, Da. Sekalian ikut turun," ucap Alesya sambil melepaskan seatbelt nya.


"Eh, aku ikut juga, nih?" tanya Daniel. Pasalnya, dia mengira hanya mengantar Alesya dan Yusa saja. 


"Iya, lah. Ngapain nunggu disini?" Alesya menatap Daniel sambil mencebikkan bibir.


"Iya, Dan. Ikut masuk saja. Itung-itung nemenin kita. Masa tega sih lihat istri ketemu sama cowok sendiri?" Yusa berusaha memprovokasi.


"Kan ada kamu, Yus." Daniel terlihat cukup malas.


"Cckkk. Ya, sudah tungguin sini. Tapi, jangan harap nanti malam aku temenin," ancam Alesya.


Dan, benar saja. Begitu mendengar ancaman Alesya, Daniel buru-buru melepaskan seat belt nya dan bergegas turun dari kendaraan. Alesya dan Yusa yang masih berada di dalam mobil pun hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah Daniel tersebut.


Mereka bertiga langsung bergegas menuju rumah Refan yang kebetulan terletak agak sedikit lebih tinggi dari jalan raya, mengingat lokasi di daerah tersebut kebanyakan dataran tinggi yang terletak di dekat pegunungan.

__ADS_1


"Assalamu'alaikum," ucap Yusa sambil mengetuk pintu.


"Waalaikumsalam," jawab sebuah suara dari dalam rumah dan disusul suara kunci pintu terbuka. 


"Eh, ada tamu." Seorang perempuan paruh baya menyapa Alesya dan yang lainnya. "Mau cari Mas Refan?" lanjutnya.


"Eh, iya, Bu. Pak Refannya ada?" tanya Yusa.


"Ada, Neng. Mas Refan baru pulang dari balai desa. Itu, masih mandi. Mari-mari, silahkan masuk." Perempuan tersebut mempersilahkan masuk.


Alesya, Yusa dan Daniel segera mengangguk dan berjalan memasuki ruang tamu rumah tersebut. Setelah mereka duduk, perempuan tadi berpamitan untuk memanggilkan Refan.


"Ini rumah sekdes desa ini, Le?" tanya Daniel sambil menoleh ke arah Alesya yang duduk di sampingnya.


"Iya."


"Cckkk. Nanti aku jelasin, Da. Sekarang…," belum sempat Alesya menyelesaikan ucapannya, sebuah panggilan terdengar dari arah dalam rumah.


"Lho, ada Alesya ternyata? Waahh, tidak menyangka jika kalian bisa mampir ke rumah saya," ucap Refan sambil berjalan menghampiri para tamunya.


Ketiga orang tersebut langsung berdiri untuk menyambut uluran tangan Refan. Daniel juga ikut-ikutan menyalami Refan. 


"Jadi, bagaimana?" tanya Refan memulai percakapan. "Sudah disiapkan proposalnya?" lanjut Refan yang masih setia menatap ke arah Alesya. Jangan lupakan senyum bahagia yang ditampilkan Refan berhasil membuat Daniel bertanya-tanya.

__ADS_1


"Sudah, Pak. Ini proposal yang sama seperti yang kami sampaikan di sekolah tadi," ucap Alesya sambil menyerahkan proposal yang dibawanya kepada Refan.


Refan mengangguk-anggukkan kepala setelah menerima proposal tersebut. Dia membuka-buka sekilas proposal itu sebelum kembali bersuara.


"Kami pemerintah desa tidak bisa menjamin apakah bisa memberikan bantuan secara penuh untuk program ini. Tapi, saya akan usahakan agar program tentang pendidikan ini mendapatkan perhatian dari desa," ucap Refan sambil masih tidak melunturkan senyumannya.


Alesya dan Yusa hanya bisa mengulas senyuman dan mengangguk.


"Terima kasih, Pak. Besar harapan kami pemerintah desa bisa memberikan beberapa bantuan pada program ini. Program ini juga bertujuan untuk memberikan tambahan wawasan bagi anak-anak usia sekolah di desa ini," ucap Yusa.


"Pasti. Kami akan berusaha sebaik mungkin untuk membantu program-program yang kalian tawarkan." Refan tampak yakin dengan ucapannya. Jangan lupakan senyuman yang masih setia ditampilkan saat mencuri-curi pandang terhadap Alesya.


Setelah itu, dia menoleh ke arah Daniel. Kening Refan berkerut saat melihat wajah asing Daniel.


"Mas nya ini peserta KKN juga? Kemarin sepertinya tidak ada saat acara pembukaan," ucap Refan sambil menatap ke arah Daniel.


Daniel menggelengkan kepala dengan cepat sambil sedikit mengulas senyuman.


"Saya bukan anggota KKN di desa ini, Pak. Saya di sini hanya mau nemenin istri saya," jawab Daniel.


Kening Refan berkerut setelah mendengar jawaban Daniel.


"Istri? Siapa istri Mas nya?" tanya Refan.

__ADS_1


"Ini, Alesya. Dia istri saya," jawab Daniel dengan cepat. Dia juga tidak ragu menarik tubuh Aleysa hingga menempel pada tubuhnya.


"Apa?!"


__ADS_2