
Seketika Alesya langsung tersentak kaget. Dia tidak mengerti maksud ucapan Daniel.
"Si-siapa itu Ariel dan Briana?" Entah mengapa Alesya mendadak was was.
Bukannya merasa takut, Daniel justru menegakkan tubuhnya dan langsung melepaskan kaos yang dipakainya sambil mengulas senyum jahil.
"Apa sih yang kamu pikirin, Le? Kamu kira Ariel dan Briana itu siapa, hhmm? Teman-temanku?" tanya Daniel sambil kembali merebahkan tubuhnya pada tubuh Alesya.
Alesya mendadak panik. sekujur tubuhnya sudah mulai meremang saat wajah Daniel sudah berada di atas salah satu bukit kentalnya.
"Ehm, i-itu, a-anu…." Alesya bahkan tidak kuasa melanjutkan ucapannya. Dia justru semakin gelisah saat Daniel semakin menundukkan wajahnya.
Dengan gerakan menggoda, Daniel mendongakkan kepala dan menatap wajah Alesya dengan tatapan jahil.
"Ini yang aku maksud dengan Ariel dan Briana, Le. Si kembar menggemaskan."
Hap. Nyem nyem nyem nyem.
__ADS_1
Alesya yang mendapati tingkah Daniel, langsung tersentak. Dia merasa ngilu-ngilu syedap mendapatkan serangan dari sang suami.
"Eehhmm, Maasshhh. Eehhmmm aaahhh."
Alesya sudah mulai meracau tidak karuan karena permainan bibir dan tangan Daniel saat menggoda Ariel dan Briana. Bahkan, Alesya sampai mereemas rambut Daniel dan menekannya dengan kuat untuk menghentikan perbuatannya. Eh. 🙄
Daniel yang mendengar suara Alesya, langsung melepaskan bibirnya dan mendongak menatap wajah Alesya yang sudah mupeng tersebut.
"Kamu tadi panggil aku 'mas', Le?" ucap Daniel dengan wajah berbinar bahagia. "Ternyata, begini rasanya saat ehem ehem dan mendengar istri panggil 'mas'." Lanjut Daniel dengan senyum bahagianya.
Belum sempat Alesya menyahuti ucapan sang suami, Daniel sudah menegakkan tubuhnya. Dia langsung melucuti sisa pakaian yang masih melekat pada tubuhnya dan tubuh Alesya.
Malam itu, Alesya benar-benar tidak bisa beristirahat. Entah berapa kali Daniel selalu membangunkannya saat Alesya mulai terlelap. Lagi, dan lagi mereka bermain 'tembak tembakan'.
Hingga menjelang subuh, hujan deras kembali mengguyur desa tersebut. Daniel yang terbangun karena haus, bergegas ke dapur untuk mengambil air minum. Dia sempat melihat Alesya yang tengah meringkuk di dalam selimut. Wajahnya benar-benar terlihat kelelahan akibat perbuatannya.
Daniel yang merasa kasihan, langsung memakaikan baju untuk Alesya. Dia tidak mau istrinya tersebut masuk angin. Setelah selesai, Daniel bergegas menuju dapur. Dia sempat melihat jam masih menunjukkan pukul 03.52 dini hari. Daniel berniat untuk kembali tidur sebentar lagi.
__ADS_1
Setelah sholat subuh, Alesya berniat untuk tidur sebentar lagi. Hujan yang masih turun cukup deras, membuatnya enggan beranjak dari dalam kamar.
"Le, mau sarapan apa? Aku belikan di warung," tanya Daniel saat memasuki kamar. Dia melihat Alesya yang hendak merebahkan tubuhnya.
"Ehm, apa aja, deh. Ngikut." Alesya menjawab asal. Tubuhnya benar-benar lemas seperti tidak bertenaga.
"Kenapa wajahnya lemes begitu sih, Le? Kamu nggak sakit, kan?"
Daniel berjalan mendekat ke arah Alesya. Dia mendadak khawatir dengan istrinya tersebut karena wajahnya cukup pucat.
Alesya menggelengkan kepala sambil menatap wajah Daniel. Dia benar-benar ngantuk pagi itu.
"Nggak apa-apa. Aku hanya kelelahan. Semalam ada singa ngamuk yang sudah mengobrak abrik lahan bergambut," jawab Alesya sambil mengerucutkan bibir.
Sontak saja jawaban Alesya tersebut membuat Daniel tergelak. Dia sebenarnya merasa bersalah dengan tindakan bar barnya semalam. Namun, entah mengapa dia tidak menyesal melakukannya.
Belum sempat Daniel bersuara untuk menyahuti ucapan sang istri, terdengar gedoran dari pintu depan.
__ADS_1
Dor dor dor.
"Keluar kalian! Dasar pasangan tidak tahu adab melakukan tindakan asusila di desa kami! Kelauaarrr!"