Kok, Jadi Nikah?

Kok, Jadi Nikah?
Galau


__ADS_3

Daniel langsung menerka-nerka apa yang sebenarnya terjadi hingga membuat kakaknya itu meminta kedua orang tuanya datang ke Jogja.


"Ini seriusan kakak minta papa dan mama kesini?" tanya Daniel sambil sedikit menjauh dari tubuh Alesya. Jika tidak menjauh, bisa dipastikan Daniel akan langsung terkena getaran-getaran greng.


"Ehm, se-sebenarnya ini masih belum yakin juga sih, Dan." Suara kak Desi terdengar khawatir di seberang sana.


"Maksudnya bagaimana? Tunggu deh, Kak. Ini gue yang nggak nyambung atau emang lo yang lagi nggak jelas ngomongnya?" 


"Ya, itu, ehm…," terdengar suara kak Desi menggantung di sana. Daniel yang mengetahui ada hal yang mengganggu sang kakak langsung kembali bersuara.


"Sebenarnya ada apa sih, Kak? Kalau lo nggak cerita mana gue tau. Gue juga nggak mungkin ngasih solusi kalau gue sendiri nggak tau apa yang sedang lo hadapi."

__ADS_1


Terdengar helaan napas dari seberang sana. Sepertinya, kak Desi sedang berusaha untuk mengolah kata agar ceritanya bisa dipahami dengan mudah oleh sang adik.


"Ehm, sebenarnya ini ada hubungannya dengan orang tua pak Ferdian," ucap kak Desi pada akhirnya.


Kening Daniel berkerut. "Maksudnya?"


"Baru saja aku dapat telepon dari mami Nia. Dia baru saja tiba di bandara. Mami Nia bilang akhir minggu ini beliau ada urusan di Jakarta. Dan, katanya sekalian juga mau silaturahmi ke rumah mama dan papa. Aku hanya takut jika mama dan papa kaget, Dan. Sedangkan aku kan belum cerita apa-apa sama mereka."


Tentu saja hal itu langsung menarik perhatian Daniel. Dia menyadari jika sang istri akan pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Jika sudah seperti itu, besar kemungkinan Alesya tidak akan mau lagi diajak bertukar cairan tubuh bersama-sama.


Daniel langsung menangkap gerakan Alesya yang hendak turun dari tempat tidur. Sambil berbicara dengan sang kakak di telepon, Daniel menggelengkan kepala ke arah Alesya agar mengurungkan niatnya. Tentu saja dia masih belum puas bermain 'bajak membajak' lahan bergambut namun gersang tersebut.

__ADS_1


"Kak, nanti gue hubungin lagi. Saat ini, ada keadaan darurat yang harus gue lakukan," ucap Daniel.


"Eh, keadaan darurat apa? Emang ada apa, Dan?" Kak Desi langsung merasa panik.


"Lo nggak bakal ngerti, Kak. Ini urusan suami istri. Lo belum boleh nyicipin karena belum nikah. Nanti deh gue kasih kisi-kisinya jika lo sudah yakin mau nikah," jawab Daniel sambil langsung mematikan panggilan telepon tersebut dengan terburu-buru. Rupanya, Daniel benar-benar sedang dalam keadaan darurat. Maksudnya, darurat ingin segera menggarap sang istri.


Kak Desi yang mendengar jawaban Daniel tersebut, seketika mengetahui maksud ucapan sang adik. Dia hanya bisa mendengus kesal dan menurunkan ponselnya dari telinga. Kak Desi cukup peka jika sang adik memang masih pengantin baru. Jadi, bisa dipastikan jika 'kebutuhan' mereka itu benar-benar masih menggebu-gebu.


Sementara di kamar hotel Daniel dan Alesya kembali bergulat di dalam selimut, kak Desi langsung beranjak ke dapur untuk membuat kopi. Entah mengapa dia mendadak tidak bisa tidur setelah mendapatkan telepon dari mamanya pak Ferdian tadi.


Setelah kopinya jadi, kak Desi segera membawanya ke dalam kamar. Tidak ada temannya di rumah kontrakan tersebut, membuat kak Desi cukup kesepian. Untuk mengusir rasa sepi, kak Desi berniat menonton drama korea kesayangannya. Namun, belum sempat dia mencari-cari judul drama yang digemarinya, layar ponsel tersebut sudah menampilkan sebuah nama yang beberapa waktu kebelakang cukup mengusik pikirannya.

__ADS_1


Mr. Ferdi❤️n is calling…


__ADS_2