Kok, Jadi Nikah?

Kok, Jadi Nikah?
Telepon Alesya


__ADS_3

"Hallo, Nick? Tumben lo telepon pagi-pagi begini. Ada apa?" sapa Alesya begitu panggilan telepon tersebut tersambung.


Ya, saat itu yang tengah menghubungi Alesya adalah Nick, teman satu kelompok KKN Alesya.


"Ada yang perlu gue omongin nih, Sya. Ketemuan, yuk. Ajak Daniel juga deh kalau perlu. Gue juga butuh pendapat dia deh sepertinya," jawab Nick.


"Eh, ketemuan? Sekarang maksudnya?"


"Ehm, kalau bisa, sih. Tapi kalau hari ini nggak bisa, besok juga boleh, kok. Kalian sibuk, ya?" 


Entah mengapa suara Nick terdengar cukup cemas. Sepertinya, ada sesuatu yang cukup mendesak untuk dibicarakan.


"Eh, sorry sebelumnya, Nick. Sebenarnya, bukan gue nggak mau ketemu, tapi masalahnya sekarang gue lagi nggak di rumah. Gue sama Daniel lagi di Jogja." Alesya menjelaskan agar Nick tidak salah paham.


"Hah? Kalian nggak di rumah?" Suara Nick sedikit meninggi. Mungkin, karena dia tidak menyangka jika Alesya dan Daniel sedang tidak ada di rumah saat itu.


"Iya. Kami lagi jenguk kakaknya Daniel yang kuliah di sini."

__ADS_1


"Ehm, berapa lama emangnya kalian mau di sana?" tanya Nick. Rupanya, dia sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Alesya maupun Daniel.


"Ehm, sekitar satu mingguan, sih. Mungkin minggu depan kita sudah balik, kok."


"Yah, masih lama, dong." 


Terdengar helaan napas berat dari seberang sana. Alesya yang mendengar hal itu menjadi sedikit was-was.


"Emang ada apa sih, Nick? Ada hal yang penting banget hingga harus ketemu gue sama Daniel?" tanya Alesya penasaran.


Mendengar pertanyaan Alesya, Nick tidak serta merta menjawab pertanyaan tersebut. Entah mengapa dia menjadi pendiam setelah ditodong oleh Alesya. Hingga Alesya kembali bertanya karena tidak adanya jawaban dari Nick.


"Eh, iya. Ini gue masih dengar, kok."


"Terus ngapain diam begitu. Lo belum jawab pertanyaan gue."


"Ehm, nanti aja deh gue ngomong sama lo setelah lo pulang. Sebenarnya, nggak urgent-urgent banget, kok. Nggak sampai mengancam nyawa orang juga. Hehehe." Nick terkekeh mencoba mencairkan suasana.

__ADS_1


Mendengar suara kekehan Nick, Alesya sedikit bernapas lega. Entah benar atau tidak ucapan Nick, tapi sepertinya apa yang akan disampaikan oleh Nick itu tidak terlalu mendesak.


Setelah melanjutkan obrolan beberapa saat kemudian, Alesya menutup panggilan telepon tersebut. Sebelum panggilan telepon terputus, Alesya berjanji akan menghubungi Nick jika sudah kembali ke Jakarta nanti.


Saat Alesya meletakkan ponselnya di atas nakas, bertepatan dengan Daniel yang juga sudah selesai dari kamar mandi. Daniel melihat Alesya yang baru saja meletakkan ponsel langsung bertanya.


"Siapa yang telepon?" 


"Oh, Nick barusan telepon. Dia ngajakin kita ketemuan. Katanya, ada hal yang mau diomongin gitu." Alesya menjelaskan.


"Tentang apa? Apa kasus Fani kemarin?" Daniel langsung berpikir yang tidak-tidak.


"Ehm, sepertinya bukan. Semalam aku sempat buka grup KKN dan tidak ada info apapun tentang hal itu. Sepertinya, semua proses hukum berjalan sebagaimana mestinya."


Daniel mengangguk-anggukkan kepala. Dia juga sudah mendapat informasi dari Galih jika tidak ada masalah berarti dari kasus Fani kemarin. 


Setelah itu, mereka sarapan bersama. Hari itu, Alesya benar-benar ingin jalan-jalan keluar hotel. Dia ingin memanfaatkan waktu menikmati liburan kali ini sebelum mulai mengerjakan skripsi nanti.

__ADS_1


Alhasil, saat siang hari Alesya dan Daniel menikmati berpeluh-peluh ria karena terkena sinar matahari saat menjelajahi spot-spot wisata di Jogja. Sedangkan saat malam hari, Alesya dan Daniel berpeluh-peluh ria karena aktivitas ranjang mereka yang tidak pernah absen. Bahkan, mereka memanfaatkan liburan kali ini untuk mencoba gaya baru yang cukup sulit jika dilakukan di rumah orang tua mereka. 🙄


__ADS_2