
Malam itu, Daniel dan Alesya kembali makan malam di rumah Daniel. Ada kakek dan nenek Daniel yang masih ada di rumah. Desi, kakak Daniel, juga sudah mulai menerima kegagalan rencana pernikahannya. Bahkan, Desi juga sudah mulai bisa tersenyum dan bercanda.
Menjelang pukul sepuluh, Alesya dan Daniel kembali ke rumah orang tua Alesya. Mereka tidak menginap di rumah Daniel, karena kamar Daniel masih penuh dengan beberapa perlengkapan pernikahan.
Alesya dan Daniel langsung memasuki rumah yang sudah terlihat sepi tersebut. Rupanya, orang tua Alesya sudah masuk ke dalam kamar. Mungkin, mereka sudah terlalu lelah dengan aktivitasnya seharian tadi.
Alesya berjalan menuju dapur. Daniel langsung mengekori Alesya ke dapur.
"Eh, ngapain ikut?" tanya Alesya saat menyadari Daniel mengikutinya dari belakang.
"Mau ngapain?" tanya Daniel.
"Mau ambil minum."
"Ehm, aku boleh minta dibuatkan kopi?" tanya Daniel sambil tersenyum nyengir.
Kening Alesya berkerut. Tidak biasanya Daniel minum kopi saat malam hari. Kecuali, jika sedang lembur mengerjakan tugas.
"Mau lembur?" tanya Alesya.
"Iya. Ada yang harus aku kerjakan. Sekalian buat desain untuk custom meja belajar."
Alesya mengangguk mengiyakan. Setelah itu, dia segera menyalakan kompor untuk membuatkan Daniel kopi. Sementara itu, Daniel sudah beranjak menuju kamar untuk mengerjakan pekerjaannya.
Alesya membuka tudung makanan yang ada di atas meja makan, dan menemukan martabak yang sepertinya baru dibuat oleh sang ibu. Dia segera mengambil beberapa dan menyiapkannya di atas piring untuk menemani Daniel minum kopi.
Tak lupa juga Alesya membawakan potongan buah jambu kristal yang baru saja dikupasnya. Hingga setelah semua siap, Alesya segera membawa semuanya ke kamar.
Ceklek.
Alesya membuka pintu kamar. Dia mendapati Daniel sedang menggunakan meja belajarnya sambil mengerjakan pekerjaannya. Alesya tidak tahu apa yang sedang dikerjakan oleh Daniel. Mungkin, itu adalah tugas kuliahnya.
Alesya segera meletakkan kopi serta camilan tersebut di atas nakas yang berada tak jauh dari meja belajarnya.
"Kopinya, Da," ucap Alesya sambil meletakkan nampan.
__ADS_1
"Hhmmm. Thanks."
Setelah meletakkan nampan tersebut, kini Alesya segera beranjak menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelahnya, Alesya juga langsung mengganti bajunya dengan baju tidur. Tak lupa juga Alesya menyiapkan baju tidur untuk Daniel dan meletakkannya di tempat biasa.
Setelah semua selesai, Alesya langsung duduk di depan meja riasnya. Dia mulai melakukan aktivitasnya membersihkan wajah hingga mengaplikasikan beberapa krim wajah. Daniel, sesekali menoleh ke arah Alesya. Dia memperhatikan apa yang dilakukan oleh istrinya tersebut.
Cukup lama keduanya diam karena melakukan aktivitas masing-masing. Tak sampai lima belas menit kemudian, Alesya sudah selesai. Dia berjalan mendekati Daniel dan melihat apa yang sedang dikerjakan oleh suaminya tersebut.
"Lagi kerjain apa, sih?" tanya Alesya dari balik bahu Daniel.
Mendapati pertanyaan tersebut, Daniel langsung merasakan sesuatu yang berbeda. Bukan karena pertanyaan Alesya, namun karena hembusan napas lembut Alesya mengenai leher bagian bawah telinga Daniel.
Seketika tubuh Daniel meremang. Desiran halus juga langsung terasa di setiap aliran darah Daniel.
"Eh, ehm, i-ini kerjaan kampus," ucap Daniel sedikit gelagapan.
Alesya menyipitkan kedua matanya untuk menatap layar laptop Daniel.
"Kok judulnya kelompok KKN kamu? Ini untuk KKN nanti?" tanya Alesya penasaran.
"Ini semua kamu yang kerjain, Da?" Alesya sudah mulai kepo.
"Ya, begitu lah. Orang teknik di kelompokku hanya satu orang, sih."
"Yah, berat dong kalau begitu," Alesya tampak iba.
"Ya, nggak juga, sih. Justru lebih enak." Daniel menjawab sambil menoleh ke arah Alesya dan menyunggingkan senyuman.
Kening Alesya berkerut saat mendengar jawaban Daniel.
"Lebih enak? Maksudnya bagaimana?"
"Ya, lebih enak, sih. Dengan mengambil tugas ini, aku jadi mendapat keringanan. Tidak harus full berada di lokasi KKN."
"Eh, mana bisa begitu?" tanya Alesya bingung.
__ADS_1
"Bisa, lah. Apa sih yang nggak bisa dilakukan Daniel," jawab Daniel pongah.
Alesya yang sudah sangat hafal dengan tingkah Daniel, langsung memukul bahu Daniel dengan kesal.
"Ccckkk. Sombongnya," cibir Alesya.
Sontak saja Daniel tertawa melihat ekspresi kesal Alesya.
"Hahaha. Bukan begitu, Le. Aku tetap ikut KKN, tapi aku tidak harus full berada disana selama empat puluh hari. Ya, mungkin akan menginap beberapa hari sekali."
"Kok bisa begitu?"
"Bisa, dong. Aku ikut bergabung dengan pihak pemerintah desa di sana. Dan, aku ikut membantu mengerjakan proyek yang sedang dibangun di desa itu."
"Eh, bisa begitu?" Alesya tampak bingung.
"Bisa, lah."
Setelahnya, Daniel mulai menceritakan awal mula kegiatan kelompoknya tersebut, hingga akhirnya dia ikut terlibat di dalam proyek yang sedang dikerjakan di desa tersebut. Kebetulan, perangkat desa tersebut adalah kerabat Iqbal, ketua kelompok Daniel. Entah kebetulan atau tidak, desa tempat KKN Daniel tersebut berada tak jauh dari rumah Iqbal. Hanya membutuhkan perjalanan sekitar dua puluh sampai tiga puluh menit dari rumah Iqbal.
Setelah mendengar cerita Daniel, Alesya mulai mengerti. Dia bisa memahami jika Daniel sudah memulai aktivitasnya sejak beberapa waktu yang lalu.
"Lalu, jika tidak full berada di lokasi KKN nanti, kamu mau ngapain di kampus?" tanya Alesya.
Daniel mencebikkan bibir saat mendengar pertanyaan Alesya.
"Ccckkk. Siapa bilang aku akan ke kampus," gerutu Daniel.
"Eh, terus mau ngapain?"
"Ikut kamu, lah. Dulu aku kan sudah bilang mau cari penginapan, kan?" jawab Daniel dengan ekspresi serius.
"Hah, serius, Da?"
Hhhmmm, kira-kira serius nggak sih ini?
__ADS_1