Kok, Jadi Nikah?

Kok, Jadi Nikah?
Gempa


__ADS_3

Suara uh ah uh ah yang keluar dari bibir Desi, seketika terhenti saat keduanya merasakan getaran yang mengguncang ranjang mereka. Baik Desi maupun Ferdian langsung menyadari jika saat itu sedang terjadi gempa bumi.


"Gempa, Mas." Desi lumayan panik karena saat itu gempa terasa cukup kencang.


Belum sempat Ferdian menyahuti, terdengar suara teriakan mama dari bawah yang meminta keduanya keluar dari kamar. Mau tidak mau, Desi dan Ferdian langsung berjalan dengan perlahan menuju keluar rumah. 


Beberapa tetangga juga sudah berada di luar rumah saat merasakan gempa yang belum berhenti tersebut. Beberapa anak kecil bahkan menangis karena takut.


"Dimana ini pusat gempanya? Kok bisa terasa sekencang ini?" tanya mama yang saat itu berdiri di samping Desi.


"Belum tahu, Ma. Aku nggak bawa ponsel."

__ADS_1


Suara gaduh pun masih terus terdengar di sekitar mereka. Bahkan, suara kentongan pun juga terdengar dari pos satpam yang da di dekat pintu masuk komplek perumahan tersebut.


Belum cukup kegaduhan terhenti, tiba-tiba saja listrik padam. Alhasil, teriakan anak-anak kecil pun langsung terdengar. Hingga sekitar lima belas menit kemudian, gempa sudah benar-benar mereda. Keluarga Desi dan semua tetangga pun kembali masuk ke dalam rumah masing-masing. Beruntung keluarga Desi mempunyai genset yang bisa sangat berguna di saat-saat seperti ini. 


Karena khawatir ada gempa susulan, malam itu seluruh anggota keluarga memutuskan untuk tidur di ruang tengah bersama-sama. Mau tidak mau, pasangan pengantin baru itu pun hanya bisa pasrah mengiyakan permintaan orang tua. Tidak mungkin juga mereka berdua memaksa untuk tidur kembali di kamar. Bisa-bisa, mereka di ledek habis-habisan.


Keesokan hari, Ferdian dan Desi harus kembali ke hotel untuk menemui orang tuanya dan mengantarkan ke bandara. Kedua orang tua Ferdian akan langsung berangkat ke Surabaya hari itu.


"Kalian baik-baik, ya. Jangan lupa nanti kabarin mami jika mau kembali ke Jogja. Atau mungkin, mau mampir dulu ke Surabaya juga boleh," ucap mami sambil mengurai pelukan Desi.


Setelah acara pamitan, Desi dan Ferdian langsung bergegas untuk pulang. Ferdian yang mengendarai mobil mama Desi, terlibat cukup hafal dengan jalanan kota Jakarta. Hingga tak butuh waktu lama keduanya sudah tiba di rumah.

__ADS_1


Kening Ferdian langsung berkerut saat telinganya mendengar suara gaduh dari dalam rumah. Namun, ekspresi berbeda justru ditampilkan oleh Desi.


"Kenapa ramai sekali?" tanya Ferdian saat baru saja keluar dari mobil setelah memarkirkan kendaraan tersebut.


"Biasa lah, Mas. Itu pasti si Daniel yang lagi gulat sama Caca. Maklum, duo bocil yang terpaksa menikah ya begitu itu tuh jadinya," jawab Desi dengan santai.


Ferdian yang masih tampak bingung pun hanya bisa mengekori langkah kaki Desi menuju pintu yang menghubungkan langsung dengan ruang tengah rumah keluarganya tersebut. 


Hingga sebuah pemandangan tak biasa pun dilihat Ferdian. Kedua bola mata Ferdian langsung membulat saat melihat adegan kuda-kudaan yang dilakukan oleh Daniel dan Alesya di atas kasur berukuran jumbo yang berada di ruang tengah tersebut. Kasur tersebut digunakan untuk tidur oleh keluarga Desi semalam.


"Astaga! Mereka mau buatin kamu keponakan di tempat terbuka begini?" bisik Ferdian di telinga Desi.

__ADS_1


Sebenarnya, Ferdian dan Desi tidak melihat seluruhnya tubuh Daniel dan Alesya karena dari posisi mereka berdiri, Daniel dan Alesya masih terhalang sofa panjang. Namun, baik Ferdian dan Desi bisa melihat jika saat itu Daniel sedang menggenjhot istrinya.


"Aahhhh, Mas!"


__ADS_2