
"Tidak bisa!"
Mendengar ucapan papa Daniel, sontak saja semua orang yang ada di sana langsung terkesiap. Mereka benar-benar terkejut saat suara papa Daniel terdengar lebih keras dari sebelumnya.
Hal yang sama juga dirasakan oleh si dosen yang sedang mengutarakan niatnya untuk melamar Desi. Namun, karena ucapan papa Daniel tersebut, nyali Ferdian pun langsung ciut. Belum selesai dia mengutarakan niat hatinya, namun justru ucapan papa Daniel mencegahnya untuk melanjutkan niat.
"Pa, apa-apaan, sih? Biarkan Nak Ferdian ini ngomong dulu. Jangan langsung memotong pembicaraan begitu, ih." Mama Daniel langsung mencubit paha sang suami sambil menatap tajam ke arahnya.
Tentu saja semua orang mendengar ucapan mama Daniel. Mereka juga masih terkejut karena tiba-tiba saja papa Daniel mengatakan hal seperti itu. Bahkan, Ferdian dan keluarganya sudah berpikir jika niat mereka ditolak oleh keluarga Desi.
Papa Daniel menatap ke arah semua orang bergantian sebelum kembali bersuara.
"Ehem. Sebelum saya menjelaskan maksud ucapan saya tadi, saya ingin bertanya terlebih dahulu kepada Nak Ferdian beserta Bapak dan Ibu," ucap papa Daniel sambil menatap bergantian ke arah tamunya.
Ketiga orang tersebut kompak menganggukkan kepala.
"Silahkan, Pak." Papi Indra mempersilahkan.
__ADS_1
"Terima kasih, Pak." Papa Daniel mengangguk ke arah papi Indra sebelum kembali bersuara. "Sebelumnya, saya dan keluarga tidak tahu menahu dengan perkenalan dan kedekatan putri saya dengan Anda beserta keluarga. Dan, jujur saya sangat kaget ketika Anda tiba-tiba datang dan bermaksud meminta putri saya sebagai menantu."
"Kalau boleh saya tahu, apakah Anda semua sudah mengetahui peristiwa yang pernah putri saya alami beberapa bulan yang lalu?" tanya papa Daniel.
Kali ini, Ferdian yang menjawab pertanyaan papa Daniel.
"Peristiwa apa yang Anda maksud, Pak? Apakah peristiwa gagalnya pernikahan Desi dan harus digantikan dengan pernikahan Daniel dan Alesya?" Ferdian bertanya dengan ekspresi biasa tanpa ada raut terkejut di wajahnya.
"Benar. Jadi, apakah Anda semua sudah mengetahui bagaimana peristiwa itu terjadi dan apa penyebabnya?" Papa Daniel tampaknya masih belum puas.
"Benar, Pak. Kami memang sudah mengetahui cerita itu. Desi sendiri yang menceritakan hal itu kepada saya. Mungkin Bapak dan Ibu cukup kaget mengapa saya bisa tahu. Ya, karena saat itu Desi memang sudah menjadi asisten saya."
"Apa kalian tidak keberatan dengan hal itu?"
Ferdian dan kedua orang tuanya kompak menggelengkan kepala.
"Kami sama sekali tidak keberatan, Pak. Bahkan, kami sempat berpikir jika peristiwa itu adalah cara agar putra dan putri kita bisa bersatu," jawab mami Nia dengan wajah berbinar bahagia.
__ADS_1
Papa Daniel menoleh sekilas ke arah Desi. Dia mendesahkan napas beratnya sebelum bertanya kembali.
"Bapak, Ibu, dan Nak Ferdian, kalau boleh jujur, saya masih cukup trauma dengan kegagalan pernikahan Desi saat itu. Kami, sebagai orang tua menaruh harapan yang cukup besar pada calon suami Desi saat itu. Kami sudah cukup lama mengenalnya. Dan, kami benar-benar kecolongan."
"Kami tidak menyangka jika akhirnya pernikahan putri kami harus gagal. Sebagai orang tua, kami tidak mau mengalami hal seperti itu lagi. Kami tidak akan sanggup jika putri kami mendapatkan kegagalan kedua kalinya," ucap papa Daniel dengan ekspresi sendu.
Bahkan, mama Daniel pun sudah mulai menitikkan air mata karena teringat peristiwa yang telah lalu. Desi pun yang berada di sebelah sang mama, langsung memeluk tubuh mamanya itu dan mengusap-usap lengannya.
Melihat keadaan yang mulai sendu, Ferdian langsung bersuara.
"Bapak, Ibu, jika Anda menerima saya, saya bisa jamin jika saya tidak akan mengecewakan keluarga ini. Saya berjanji akan benar-benar menikahi Desi dan akan berusaha semaksimal mungkin untuk membahagiakan dan menjaganya," ucap Ferdian dengan yakin.
"Kamu serius mau menikahi puyri saya dan tidak akan mengingkarinya?" Papa Daniel masih mencoba untuk meminta kepastian.
"Saya serius, Pak." Lagi-lagi Ferdian menjawab dengan yakin dan mantab.
"Kalau begitu, buktikan. Besok pagi langsung nikahi putri saya."
__ADS_1
"Baik, Pak," jawab Ferdian spontan sambil mengangguk mantap. Namun, seketika dia tersadar dengan pertanyaan papa Daniel. "Eh, apa?!"
Bagi yang masih punya jatah vote, bagi buat Desi, dong. 🤗