Kok, Jadi Nikah?

Kok, Jadi Nikah?
Sensasi Penutup


__ADS_3

Daniel yang melihat reaksi sang istri, menjadi tidak tega. Dia menarik Dj keluar perlahan-lahan, dan kembali mengulangi aksinya beberapa kali. Alesya mendesis tertahan saat merasakan gesekan di bawah sana. Rasanya, ah sudahlah. 


Hingga beberapa saat kemudian, Daniel memposisikan tubuhnya siap untuk mengeksekusi aktivitas mereka malam itu. Dengan sekali hentakan, si Dj berhasil membobol gawang pertahanan Alesya. Dan, malam itu menjadi gol permulaan bagi Daniel.


Ccckkk. Mentang-mentang sudah mulai piala dunia pakai gol-golan segala, ih. 🤧


Alesya langsung terpekik saat merasakan bagian bawahnya terasa seperti terbelah. Air mata Alesya juga sudah mulai mengalir di kedua ujung matanya.


Daniel yang melihat hal itu, langsung mulai memberikan beberapa kecupan untuk menenangkan sang istri. Kecup sana kecup sini. Daniel juga masih mendiamkan si Dj untuk beradaptasi di rumah barunya tersebut.


Entahlah, si Dj mungkin masih kebingungan beradaptasi di rumah baru. Tempatnya sempit dan gelap, ditambah lagi licin-licin seret. Rasanya juga sangat sesak karena terjepit. Semoga si Dj mampu bertahan lama dan tidak langsung nyembur saat itu juga.


"Eeuugghh, Da. Se-sesak, ih. Rasanya ada yang mengganjal," cicit Alesya di tengah-tengah gempuran kecupan Daniel.


"Mau aku gerakin sekarang?" tanya Daniel setelah mengangkat wajahnya menjauh dari wajah Alesya.


Sambil menahan nyeri, Alesya pun menganggukkan kepala perlahan. Dan, saat melihat hal itu, seketika sebuah senyuman langsung terbit dari wajah Daniel. 


Seperti mendapat lampu hijau, Daniel langsung mulai bergerak di bawah sana. Awalnya, dia bergerak perlahan-lahan untuk membiarkan Alesya beradaptasi. Namun lama kelamaan, Alesya mulai mengimbangi gerakan Daniel.


Tak butuh waktu lama, keduanya sudah mulai mahir bergerak. Gerakan keduanya cukup membuat tubuh masing-masing tersengat aliran listrik. Hingga tak berapa lama kemudian, Alesya kembali menyerah untuk pelepasan ketiganya malam itu.

__ADS_1


Daniel sempat memberikan waktu untuk Alesya menikmati sisa-sisa pelepasannya. Dan, saat sudah gilirannya, Daniel kembali menggempur lahan pribadi istrinya tersebut.


Saat sudah merasakan sesuatu hendak keluar, Daniel bergerak semakin cepat. Geraman dan dengusan sudah mulai terdengar memburu. Rupanya, Alesya kembali merasakan hal yang sama.


"Sa-sayang, a-aku mau lepas," cicit Daniel di tengah-tengah gempurannya.


"A-apa yang lepas?" Alesya balik bertanya. Entah apa yang ada dalam otaknya saat itu hingga Alesya tidak bisa menangkap maksud ucapan Daniel.


"Pasukan putih."


"Aaahhh, a-apa itu? Auuhhh Daaa, a-aku mau lagi," Alesay bergerak tak mau kalah.


"Ba-barengan. Kita bertempur di dalam. Aaahhhh."


Keduanya sama-sama melakukan pelepasan pasukan. Tubuh mereka masih kelojotan dengan peluh sudah membanjiri seluruh tubuh. Napas keduanya juga masih memburu di sela-sela sisa-sisa sensasi yang baru saja mereka rasakan.


Setelah itu, Daniel mulai melepaskan diri dari tubuh sang istri. Daniel bisa melihat bukti jika dia adalah orang pertama yang berhasil membobol pertahanan istrinya tersebut.


Sebuah senyuman langsung terbit pada wajah Daniel. Dia juga langsung memberikan beberapa kecupan bertubi-tubi pada wajah Alesya hingga membuat istrinya tersebut kewalahan.


"Auuhhh, Da. Jauhan dikit, ih. Capek tau," ucap Alesya sambil memindahkan tangan Daniel yang sudah kembali mulai menggurita.

__ADS_1


"Capek?" tanya Daniel sambil mengusap peluh yang menempel pada kening Alesya.


"Sudah jelas masih saja tanya," Alesya memutar kedua bola matanya sambil menarik selimut dengan tangan kanannya.


Daniel tertawa sambil membantu Alesya menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka yang masih polos. Mereka mengurungkan niat untuk membersihkan diri agar sisa-sisa keringat mereka sudah hilang.


"Istirahat dulu. Setelah ini  babak kedua, ya?" ucap Daniel sambil mulai ndusel pada ceruk leher Alesya.


"Astaga, ini keringat masih belum kering sudah minta nambah lagi? Emang si torpedo masih kuat ngebor?" Alesya mendelik menatap ke arah Daniel. Dia masih merasa ngeri-ngeri sedap.


Dengan semangat empat lima, Daniel menyingkap selimut dan menunjukkan apa yang dimaksud Alesya.


"Tuh, lihat. Dia sudah melambai-lambai kegirangan karena tidak sabar mau jelajah gua sempit yang menggigit," ucap Daniel sambil tersenyum jahil.


Kedua bola mata Alesya langsung mendelik. Dia benar-benar tidak menyangka jika benda itu sudah mulai on lagi.


"Gi-gigit? Emang ada giginya?" tanya Alesya gagal fokus.


"Mau coba yang ada giginya?" tanya Daniel bersemangat sambil menaik turunkan alisnya.


Embuh Da, maksudmu piye? 🤧

__ADS_1


Jangan lupa kasih hadiah vote yang banyak ya. Sudah tidak digantung lagi nih. 🤗


__ADS_2