
Alesya dan Gea hanya bisa melongo setelah mendengar jawaban itu. Mereka tidak habis pikir dengan berita yang baru saja mereka dengar tersebut.
"Risma? Kok bisa, sih?" kali ini Gea yang tampak penasaran.
Galih mendesahkan napas berat sebelum mulai bercerita.
"Awalnya, aku juga nggak tahu ada masalah apa. Tapi, setelah ada salah satu warga yang keceplosan bercerita, kami jadi bisa mengetahui inti masalah tersebut."
"Sekitar satu minggu yang lalu, kamu mungkin masih ingat ada perkumpulan karang taruna di balai desa. Saat itu, kita semua ikut berpartisipasi di sana. Beberapa anak muda juga ikut ambil bagian di sana. Namun, memang ada beberapa pemuda desa yang tidak bisa hadir."
"Dua orang diantaranya adalah Reno dan Beno. Mereka kakak beradik anak dari salah satu perangkat desa ini. Padahal kata beberapa orang, biasanya mereka cukup aktif di kegiatan karang taruna."
"Beberapa orang ada yang bilang jika mereka sedang ada urusan di kota. Ada juga yang bilang mereka sedang ke Jakarta mengunjungi pamannya. Namun ternyata, semua itu salah," ucap Galih sambil menghela napas berat.
Alesya dan Gea masih penasaran dengan cerita Galih. Sedangkan Nick, dia tidak terlalu antudias karena memang sudah mengetahui cerita sebenarnya.
__ADS_1
"Maksudnya bagaimana, Lih?" tanya Alesya yang semakin penasaran.
Galih menoleh sekilas ke belakang. Setelah itu, dia kembali melanjutkan cerita.
"Ternyata Reno sedang asyik bermain 'kuda jingkrak' dengan si Risma. Dan sialnya, perbuatan mereka diketahui oleh salah seorang anggota kelompok kita dan berhasil merekam aktivitas itu."
Kedua bola mata Alesya dan Gea langsung membulat. Mereka benar-benar tidak menyangka jika kejadiannya akan seperti itu.
"Serius, Lih? Risma? Kok bisa?" pekik Gea kaget.
Gea langsung memukul bahu Nick yang ada di depannya sambil menggerutu kesal. Sementara Alesya, masih berusaha mencerna informasi dari Galih.
"Kok bisa si Fani memergoki mereka sih, Lih?" tanya Alesya penasaran. "Dan, itu kenapa si Beno jadi ikut-ikutan?"
"Fani yang kebetulan saat itu kembali lagi ke pos untuk mengambil banner, tidak sengaja melihat keduanya memasuki rumah Risma. Dan, entah apa yang dipikirkan Fani saat itu, dia langsung mengikuti Risma dan Reno."
__ADS_1
"Hingga kejadian itu terjadi di kamar Risma. Entah bagaimana caranya Fani bisa mendapatkan video mereka dari jendela kamar Risma."
"Dan untuk Beno, dia ikut nimbrung sekitar satu jam setelahnya. Informasi itu yang aku dapat dari warga." Galih mengakhiri ceritanya.
Alesya dan Gea masih bergeming dengan pikiran mereka masing-masing. Dan setelahnya, masih tidak ada lagi obrolan di dalam mobil tersebut.
"Lalu, apa hubungannya kejadian itu dengan Alesya dan Daniel? Mengapa mereka digerebek?" tanya Gea penasaran.
Kali ini, Nick yang menjawab pertanyaan Gea.
"Karena Fani ternyata berniat untuk menyebarkan video Risma dan Beno ke masyarakat. Dia mengancam Risma akan membeberkan apa yang dilihatnya. Setelah mendapatkan ancaman itu, ayah Risma dan Reno, langsung menemui Fani dan mengajak berunding. Sepertinya, Fani meminta mereka merekayasa penggerebekan Alesya dan Daniel pagi-pagi."
"Dan, jika dilihat dari reaksi warga, sepertinya orang tua Risma dan Reno berhasil mempengaruhi warga untuk penggerebekan itu." Nick menjelaskan informasi yang diketahuinya.
Alesya dan Gea lagi-lagi mendesahkan napas berat. Mereka tidak habis pikir jika teman satu rumah mereka ada yang nekat berbuat seperti itu hanya karena sakit hati.
__ADS_1
"Sya, jika sudah seperti ini, gue takut si kunti Fani akan nekad sama lo. Dia bahkan sampai nekad merencanakan penggerebekan untuk menjatuhkan kalian. Dan, karena hal itu gagal, gue takut dia akan semakin nekad, Sya." Gea menoleh ke arah Alesya dengan ekspresi khawatir.