Kok, Jadi Nikah?

Kok, Jadi Nikah?
Cerita Gea 1


__ADS_3

Di dalam kamar, Alesya langsung rebahan. Tubuhnya masih terasa lelah dan sedikit pusing. Gea sudah membawakan teh hangat untuknya.


"Ge, kok bisa kejadiannya seperti ini?" Alesya menoleh saat Gea meletakkan segelas teh hangat diatas meja yang berada di samping jendela.


Gea mendesahkan napas berat sebelum berjalan menuju tempat tidur dan duduk di tepi tempat tidur Alesya. Dia ragu apa harus jujur atau tidak kepada Alesya. Namun, jika dia tidak berkata jujur, Gea khawatir jika Fani akan melakukan perbuatan yang lebih nekad lagi. Setidaknya, jika dia mengatakan apa yang diketahuinya, Alesya bisa sedikit waspada lagi.


"Gue nggak tau harus cerita atau enggak, Sya. Tapi, jika gue cerita setidaknya lo dan Daniel bisa jaga-jaga jika nanti Fani akan lebih nekad lagi," ucap Gea sambil menatap Alesya lekat-lekat.


Kening Alesya berkerut. Dia masih belum bisa menangkap maksud ucapan Gea.


"Apa maksudnya, Ge?"


Lagi-lagi terdengar helaan napas berat dari Gea. Namun, setelah itu Gea memposisikan dirinya agar nyaman untuk bercerita. Dan, mulailah dia menceritakan apa yang diketahuinya.


"Tadi selepas subuh pas gue nyapu halaman depan, gue kaget saat melihat Nick dan Galih berjalan buru-buru dari arah mushola. Sepertinya, Galih baru ikut jamaah sholat subuh disana, karena dia masih pakai sarung. Awalnya, gue kaget kok Nick bisa ikut si Galih. Selain dia non muslim, tidak biasanya dia bangun subuh-subuh begini, kan?" Gea menjeda ceritanya sambil membenahi ikat rambutnya.

__ADS_1


Alesya masih setia mendengarkan cerita Gea karena dia memang penasaran. Dia berusaha tidak menyela cerita Gea hingga selesai.


"Nah, setelah mereka sampai di depan rumah, entah bagaimana ceritanya si Leon dan Jo tiba-tiba juga muncul dari teras. Mereka langsung berkumpul di teras L, noh yang di depan." Gea menunjuk ke arah teras yang memang berbentuk L tersebut.


"Ternyata, mereka sedang mendiskusikan sesuatu. Dan, berhubung saat itu ada gue di dekat mereka yang sedang nyapu, si Nick tarik gue untuk ikut bergabung. Di sana lah gue denger cerita sebenarnya."


Kening Alesya berkerut. Dia mulai menerka-nerka cerita apa yang dimaksud si Gea tersebut.


"Cerita apa, Ge?" tanya Alesya semakin penasaran.


"Cerita tentang Fani, Sya. Dan, itu masih ada katanya sama lo dan Daniel."


"Eh, gue dan Daniel? Kenapa lagi memangnya?" Alesya semakin penasaran.


"Galih bilang, dia dapat informasi jika Fani itu ternyata sangat terobsesi dengan Daniel. Dia bahkan menyimpan banyak sekali foto Daniel. Baik di ponsel, laptop, maupun di buku catatannya."

__ADS_1


Kedua bola mata dan mulut Alesya langsung membulat saat mendengar cerita Gea. Dia benar-benar tidak menyangka jika Fani melakukan hal seperti itu.


"Se-serius, Ge?"


"Ccckkk. Serius, Sya. Kalau nggak percaya, lo bisa tanya langsung tuh sama Galih dan Nick."


"Kok sampai segitunya sih, Ge? Gue benar-benar nggak nyangka jika Fani bisa melakukan hal seperti itu." Alesya menggelengkan kepala sambil memijat pelipisnya. Entah mengapa kali ini dia mendadak was-was.


"Kami pun awalnya juga nggak percaya kali, Sya. Tapi, setelah Nick menunjukkan bukti gambar, baru kami percaya."


Alesya benar-benar bingung harus melakukan apa. Entahlah, kali ini dia benar-benar tidak bisa berpikir dengan jernih.


"Lalu, apa yang terjadi setelah itu? Kalian membicarakan apa lagi?" tanya Alesya setelah beberapa saat kemudian. 


"Galih menceritakan informasi yang diperolehnya tentang niat si Reno, Beno dan juga ayahnya si Risma. Rupanya, mereka bekerja sama untuk menuruti permintaan Fani agar mencelakai lo dan Daniel."

__ADS_1


"Hah?!"


__ADS_2