
Alesya masih diam membeku saat Daniel berjalan ke arah kamar mandi sambil berdendang riang. Kepalanya bahkan sampai menggeleng ke kanan dan ke kiri.
Alesya yang menatap tingkah suaminya tersebut, hanya bisa membulatkan mulutnya. Entah mengapa suaminya menjadi aneh seperti itu. Dan, apa tadi maksudnya dengan cicil mencicil? Dikira kredit panci keliling apa pakai cicilan segala, gerutu Alesya dalam hati.
Meskipun begitu, jantung Alesya masih berdegup dengan kencang setelah tindakan tiba-tiba Daniel tersebut. Setelah memastikan Daniel benar-benar berada di dalam kamar mandi, Alesya langsung bergegas menuju dapur. Dia harus menghangatkan makan malam untuknya dan juga untuk Daniel.
Karena sama-sama belum makan malam, alhasil Alesya menyiapkan dua porsi makan malam. Alesya juga membuatkan kopi untuk Daniel. Seperti biasa, Daniel pasti akan merengek untuk minta kopi.
Dan, benar saja. Tak sampai dua puluh menit kemudian, Daniel sudah terlihat turun dari lantai dua rumah Alesya. Dia sudah berganti baju dengan kaos polos tipis berlengan pendek serta celana boxer. Daniel langsung berjalan menghampiri Alesya yang sedang menata makan malam di atas meja.
"Kamu juga belum makan, Le?" tanya Daniel sambil menarik kursi dan mendudukkan diri di sana.
"Belum."
"Kenapa belum makan malam? Ini bahkan sudah lewat jam makan malam. Ehm, jangan bilang kamu menungguku, ya?" tanya Daniel sambil tersenyum ke arah Alesya. Jangan lupakan kedua alis Daniel sudah naik turun saat menggoda Alesya.
"Cckkk, enggak lah. Tadi masih belum lapar," elak Alesya. Tentu saja dia mengelak tuduhan Daniel. Bisa sangat malu sekali jika Alesya mengaku belum makan malam karena menunggu Daniel.
Daniel hanya mencebikkan bibir setelah mendengar ucapan Alesya. Dia bisa langsung paham jika Alesya mengelak mengakui.
"Ya, ya, ya. Asal jangan sampai telat makan terlalu sering, Le. Nanti perut kamu sakit lagi seperti dulu," ucap Daniel.
"Hhmmm."
Setelahnya, acara makan malam yang terlambat tersebut dilakukan. Sesekali, Daniel menceritakan apa yang dilakukannya tadi bersama dengan Iqbal. Alesya juga tak canggung lagi bertanya ini itu kepada Daniel. Mereka seolah kembali ke kebiasaan lama mereka yang saling suka bercerita.
Hingga menjelang pukul sepuluh malam, aktivitas makan malam tersebut selesai. Alesya segera merapikan meja makan. Daniel, tak mau tinggal diam. Dia segera membantu Alesya merapikan meja makan. Alesya yang mencuci piring, sedangkan Daniel yang mengeringkan dan menyimpannya di tempat penyimpanan piring.
__ADS_1
Hingga tak sampai lima menit kemudian, aktivitas Daniel dan Alesya sudah selesai. Mereka segera beranjak menuju kamar untuk beristirahat.
Alesya langsung merebahkan diri di atas tempat tidur setelah menggosok gigi. Sementara Daniel, masih berada di dalam kamar mandi. Tak berapa lama kemudian, Daniel sudah keluar dari kamar mandi dan berjalan menuju tempat tidur.
Alesya yang saat itu sudah tidur dengan posisi miring membelakangi Daniel, merasakan gerakan pada belakangnya. Entah mengapa lagi-lagi jantungnya terasa berdegup kencang.
Hal yang sama pun dirasakan oleh Daniel. Dia yang langsung merebahkan diri di belakang Alesya, hanya bisa menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan.
Rupanya, baik Daniel maupun Alesya juga masih belum bisa tidur. Kedua pasang mata mereka masih sama-sama terjaga.
"Le?" gumam Daniel. Namun, karena kamar tersebut sunyi, Alesya bisa dengan jelas mendengar suara Daniel tersebut.
"Hhhmmm?" Alesya menyahuti hanya dengan gumaman.
"Belum ngantuk?"
"Belum. Kamu?"
Hening. Kali ini, tidak ada lagi obrolan di antara mereka. Sementara itu, posisi Ales masih miring membelakangi Daniel. Sedangkan Daniel sendiri, masih tidur terlentang dengan kedua tangan menyangga belakang kepalanya.
Hingga beberapa saat kemudian, Daniel kembali bersuara. Namun kali ini, Daniel mengubah posisi tidurnya hingga miring menghadap ke arah Alesya.
"Le?" Daniel memanggil sambil menoel-noel bahu Alesya.
"Apa, Da?"
"Menurut kamu, apa yang sebaiknya kita lakukan untuk mengawali pernikahan ini?"
__ADS_1
Alesya masih bergeming. Dia masih belum mengerti maksud ucapan Daniel.
"Maksudnya bagaimana, Da?"
"Ehm, kita kan menikah dadakan. Umumnya, orang yang menikah kan di awali dengan pacaran dan merencanakan pernikahan. Sedangkan kita, sama sekali tidak menjalani step-step seperti itu."
Alesya mencerna ucapan Daniel. Dan, memang benar apa yang dikatakan oleh Daniel.
"Iya, kamu benar, Da. Lalu, menurutmu kota harus bagaimana?" tanya Alesya.
Daniel tamoak berpikir. Namun, tatapan matanya tak lepas dari punggung Alesya yang masih terbuka sebagian, karena Alesya hanya menggunakan selimut sebatas perut.
"Ehm, bagaimana jika kita mulai pacaran halal. Biasanya, kalau kita pacaran harus ada yang ditahan-tahan untuk tidak di langgar. Tapi, kita sudah menikah. Jadi, kita sah mau ngapa-ngapain, kan?"
"Eh, memang mau ngapain? Lagian, pacaran halal itu yang seperti apa? Aneh-aneh, saja kamu, Da."
"Ya, ada dong. Mau tahu?" ucap Daniel penuh semangat.
"Boleh."
Tanpa menunghu lebih lama lagi, Daniel beringsut mendekat hingga kini tubuhnya sudah menempel pada punggung Alesya. Tak tanggung-tanggung, kini tangan kanan Daniel sudah mulai menyusup pada perut istrinya tersebut. Tentu saja hal itu membuat Alesya kaget. Tubuhnya langsung kaku dan meremang.
"Eh, D-Da?" Alesya mendadak gugup.
"Jangan gugup begitu, Le. Tarik napas, dan hembuskan perlahan-lahan. Mulai malam ini, kita belajar untuk melakukan skinship. Kalau perlu, melakukan ini," ucap Daniel sambil memberikan beberapa kecupan pada bahu hingga leher bagian belakang Alesya. Bahkan, Daniel tidak segan-segan memberikan kecupan basah di sertai permainan lidah di sana.
Tak bisa menahan, akhirnya pertahanan Alesya langsung ambrol juga.
__ADS_1
"Aaahhhhhh, Da."
Ramaikan yuk, bantu promosi cerita ini biar rame. 🤗