
Mendengar sebuah suara, sontak saja Ferdian dan Desi langsung menoleh ke arah sumber suara. Kedua bola mata mereka langsung membulat saat mendapati papa sudah berdiri di belakang Ferdian sambil membawa sebuah kardus kosong di tangannya.
"Eh, Pa?" Ferdian kikuk saat mendapati papa mertuanya menatap ke arah mereka dengan senyum menggoda. Tak lupa juga Ferdian mengulurkan tangan untuk menyalami papa.
"Baru datang, Fer?" Papa Daniel berbasa basi. Dia tidak ingin menggoda anak dan menantunya lebih jauh agar mereka tidak semakin canggung.
"I-iya, Pa." Ferdian masih menjawab dengan gugup. Entah mengapa dia merasa malu kepada sang papa mertua karena kepergok tadi.
"Des, ajak suami kamu masuk. Sebentar lagi makan malam. Pasti mama kamu sudah siapkan makan malam untuk kita, kan?" ucap papa sambil berjalan memasuki rumah.
"Eh iya, Pa."
Desi menoleh ke arah sang suami yang masih berdiri kikuk. Entah mengapa dia masih merasa canggung berdekatan dengan istrinya itu.
"Ayo, Mas. Aku antar ke kamar dulu. Setelah itu, makan malam. Mama sudah siapkan makan malam untuk kita. Sepertinya, sebentar lagi sudah siap."
"Eh, iya."
Ferdian berjalan mengekori Desi menuju kamarnya di lantai dua. Ada tiga kamar di lantai dua tersebut. Satu kamar Daniel, satu kamar Desi, dan satu lagi kamar tamu. Kamar kedua orang tuanya ada di lantai satu.
Desi berjalan menuju kamarnya yang ada di sebelah barat di lantai dua tersebut. Meskipun masih merasa canggung, Ferdian yang masih menarik kopernya tetap mengikuti langkah kaki Desi.
__ADS_1
Ceklek.
Pintu kamar Desi pun terbuka. Desi mempersilahkan Ferdian memasuki kamarnya dan akan menjadi kamar mereka berdua nantinya.
"Maaf masih berantakan, Mas," ucap Desi sambil membantu Ferdian membawa masuk kopernya.
"Nggak berantakan kok ini. Malah rapi sekali." Ferdian mengedarkan pandangan ke seluruh kamar berukuran 4 x 5 meter tersebut. Bahkan menurut Ferdian, kamar Desi benar-benar rapi.
"Lama nggak ditempati, Mas. Tadi, aku siap-siapnya juga di kamar tamu di lantai bawah. Jadi, tidak ada bekas-bekas acara tadi pagi," ucap Desi menjelaskan.
Ferdian mengangguk-anggukkan kepala. Dia masih melihat aktivitas Desi yang membawa koper Ferdian memasuki walk in closet yang berada di samping kamar mandi.
"Ini bajunya dikeluarkan semua atau bagaimana, Mas?" tanya Desi.
Desi mengangguk mengerti.
"Kalau begitu, aku keluarkan baju yang biasa saja, ya. Yang baju formal biar tetap di dalam koper. Toh, sebentar lagi mas Ferdi harus kembali ke Jogja, kan."
Kening Ferdian berkerut mendengar ucapan Desi.
"Maksudnya apa? Kamu nggak mau kembali bareng nanti?" tanya Ferdian sambil berjalan menghampiri Desi.
__ADS_1
Sontak saja Desi yang tengah memasukkan baju Ferdian ke dalam lemari pun kaget karena Ferdian muncul tiba-tiba di belakangnya.
"Eh, ya kembali kok, Mas. Tapi rencananya aku kembali hari minggu. Kalau mas Ferdi kan harus kembali beberapa hari lagi."
"Nggak, kok." Ferdian buru-buru menjawab.
"Nggak bagaimana maksudnya?" Desi mengerutkan kening bingung.
"Kita berangkat hari minggu saja ke Jogja. Aku masih mau berada di Jakarta satu minggu ini. Ya, sekalian mengenal lebih dekat keluarga kamu."
"Serius, Mas?" Desi tampak terkejut sekaligus bahagia mendengar ucapan Ferdian.
"Tentu saja serius. Aku bahkan sudah nikahin kamu masa masih diragukan keseriusanku," Ferdian sedikit menggerutu kesal.
"Hehehe, maaf Mas. Aku kan nggak tahu rencana kamu bagaimana." Desi menjawab sambil nyengir kuda.
Ferdian yang melihat tingkah istrinya itu langsung beringsut mendekat ke arah Desi. Tanpa aba-aba, dia menarik tubuh Desi hingga menempel pada tubuhnya.
"Eh, eh. Ma-mau apa?" tanya Desi gugup.
"Kita sudah halal, kan?"
__ADS_1
Hayyaahhh, emang mau apa tanya sudah halal segala, Fer?