Kok, Jadi Nikah?

Kok, Jadi Nikah?
Pelan-pelan


__ADS_3

Malam itu, seluruh anggota KKN Alesya sedang berkumpul diruang tengah. Mereka menggelar karpet besar sebagai tempat untuk berdiskusi. Malam itu, mereka akan membahas pembukaan kegiatan KKN yang akan digelar besok malam.


Sesekali Alesya membalas pesan yang dikirimkan oleh Daniel. Daniel yang baru saja kembali ke tempat sewanya langsung mengeluh dingin.


20.11


Le, dingin, ih. Mana masih jam 8 lagi. Apa kabar nanti tengah malam. ☹️ ~ Daniel.


20.13


Kan sudah ada selimut, Da. Sudah aku masukkan di tas kamu. Ada 2 malahan. ~ Alesya.


20.14


Maunya selimut kulit, Le. 😏 ~ Daniel.


20.14


Kulit sapi? ~ Alesya.


Daniel yang membaca pesan balasan Alesya langsung mendengus kesal.


20.15


Bukan. Kulit onta. 🐫 


Tuh, dia punya punuk dua. ~ Daniel.


Alesya hanya bisa menahan kekehan tawanya setelah membaca balasan pesan dari Daniel.


20.16


Emang ada ya onta punya dua punuk? ~ Alesya.


20.17


Ada. Kalaupun nggak ada, ya diada-adain. ~ Daniel.


Alesya hanya bisa menggelengkan kepala sambil menahan senyuman. Ternyata, aktivitas Alesya tersebut menarik perhatian salah satu temannya. Siapa lagu jika bukan Fani. 


Fani yang saat itu duduk bersila lurus dengan posisi Alesya, langsung mengerutkan kening. Dia melihat Alesya senyum-senyum sendiri saat berbalas pesan. Namun, aktivitas tersebut tidak lama karena Alesya sudah kembali fokus pada diskusi.


Menjelang pukul sepuluh, diskusi telah selesai. Semua teman-teman Alesya yang perempuan memilih untuk beristirahat. Hal berbeda di lakukan oleh para anggota laki-laki. Mereka memilih untuk membuat kopi dan ngobrol di 'angkringan' depan rumah yang terbuat dari bambu.

__ADS_1


Sementara Daniel yang nampak gelisah di rumah sewanya, memutuskan untuk mengunjungi tempat kos Alesya dan kawan-kawan. Beruntung Daniel sudah cukup mengenal para anggota laki-laki tersebut.


Di dalam kamar, Alesya masih belum tidur. Dia masih mengobrol dengan teman satu kamarnya. Kebetulan, mereka memang mendapat tugas yang sama selama KKN nanti.


Tak berapa lama kemudian, ponsel Alesya bergetar menandakan sebuah lesan telah masuk. Alesya mengambil ponsel tersebut dan langsung memeriksa pesan yang masuk.


22.48


Le? Tidur? Aku di depan sama anak-anak. ~ Daniel.


Kening Alesya berkerut. Dia cukup kaget mengetahui jika Daniel ada di depan.


22.48


Ngapain kembali lagi kesini? Balik deh, Da. Badan kamu nggak fit. Tadi hidung kamu tersumbat gitu. Nanti sakit. ~ Alesya.


22.50


Iya, habis gini. ~ Daniel.


22.51


Jangan lama-lama di luarnya. ~ Alesya.


Iya, Sayang. Iya. ~ Daniel.


Alesya membulatkan kedua bola matanya saat membaca pesan balasan dari Daniel. Entah mengapa jantungnya langsung ngereog ketika Daniel memanggilnya dengan panggilan Sayang.


Selama ini, Daniel memang belum pernah memanggil Alesya dengan panggilan seperti itu. Hal yang sama juga dilakukan oleh Alesya. Dia juga belum mengganti panggilan untuk Daniel sejak menikah.


Alesya sempat memikirkan hal itu sebelum rasa kantuk yang tiba-tiba menyerang. Tak butuh waktu lama, Alesya pun langsung tertidur. Daniel yang sempat menunggu pesan balasan dari Alesya sempat beberapa kali memeriksa ponselnya. Namun, setelah beberapa saat tidak mendapati pesan balasan, Daniel meyakini jika Alesya pasti sudah tertidur.


Hingga sekitar dua puluh menit kemudian, Daniel berpamitan. Dia segera kembali ke rumah sewanya dan bersiap mengistirahatkan diri.


🌴


Keesokan hari, para peserta KKN sudah bersiap dengan tugas masing-masing. Hal yang sama juga dilakukan oleh Alesya dan Yusa. Kali ini, mereka kebagian jadwal untuk belanja ke pasar.


Yusa yang memang membawa mobil, langsung bergegas menuju pasar yang terletak di kecamatan bersama dengan Alesya. Namun, mereka berhenti di rumah sewa Daniel yang berada tak jauh dari balai desa.


"Maaf ya, Yus. Gue bangunin Daniel dulu. Biasanya, dia suka males bangun kalau dingin begini," ucap Alesya sambil membuka pintu mobil Yusa.


"Santai saja, Sya. Kita punya waktu sampai siang untuk belanja." 

__ADS_1


Yusa yang sudah mengetahui status Alesya dan Daniel, bisa mengerti keadaan mereka.


"Makasih, Yus. Mau ikut turun?" tawar Alesya.


Yusa langsung menggelengkan kepala sambil mencebikkan bibir.


"Nggak, ah. Ya kali gue jadi obat nyamuk pasangan pengantin baru yang mau aktivitas pagi," jawab Yusa.


Entah mengapa wajah Alesya langsung merah begitu mendengar ucapan Yusa. Tak mau terlalu lama digoda, Alesya buru-buru berjalan menuju pintu rumah sewa Daniel.


Alesya yang memang punya kunci cadangan, langsung membuka pintu tersebut. Dia berjalan memasuki rumah dan langsung menuju kamar tidur. 


Seperti biasa, kamar Daniel memang jarang dikunci jika dia tidur sendiri. Alesya langsung membuka pintu tersebut dan mendapati Daniel masih bergelung di dalam selimut.


Alesya hanya bisa mendesahkan napas beratnya. Dia berjalan menuju jendela dan langsung membuka gorden serta jendela tersebut agar udara bisa langsung masuk. Setelah itu, Alesya menghampiri Daniel untuk membangunkannya.


"Da, bangun. Sudah pagi ini." Alesya menggoyang-goyang bahu Daniel.


Merasakan tidurnya terganggu, Daniel menggeliat sambil berusaha membuka kedua matanya. Begitu kedua netra tersebut terbuka, Daniel langsung disuguhkan wajah Alesya di depannya. Sebuah senyuman langsung terbit pada bibir Daniel.


"Pagi, Sayang. Cium dulu, dong." Tanpa aba-aba Daniel langsung menarik lengan Alesya hingga jatuh menimpanya.


Alesya hendak protes namun bibirnya langsung dibungkam oleh bibir Daniel. Tak ayal, pertemuan benda kenyal tersebut langsung terjadi dengan menggebu-gebu.


"Eehhmmmmmppohh. Eehhmmmmpphh. Aauuhhhmmpphhh."


Tak hanya pertemuan bibir yang dilakukan oleh Daniel, namun tangannya sudah langsung menyusup pada kaos yang dipakai oleh Alesya. Secepat kilat dia menemukan boba alami Alesya dan memelintirnya hingga membuat Alesya melenguh ditengah cumbuannya.


Alesya mendorong bahu Daniel saat merasakan napasnya sudah habis. Dia segera menghirup pasokan oksigen banyak-banyak. Sementara Daniel yang belum puas, langsung mencebikkan bibir kesal.


"Kenapa dilepas, sih? Aku sudah sikat gigi tadi saat subuh. Nggak bau jigong amat," protes Daniel.


Hah hah hah hah.


Alesya masih mengatur napasnya. Dia menatap Daniel dengan tatapan kesal.


"Kamu itu semangat sekali sih, Da. Bisa nggak jangan ngagetin gitu. Aku kan belum siap," ucap Alesya.


"Eh, berarti kalau pelan-pelan bisa, kan?"


"Eh, i-itu…,"


Jangan lupa kasih dukungan buat cerita ini ya, biar rame. Terima kasih. 🤗

__ADS_1


__ADS_2