Kok, Jadi Nikah?

Kok, Jadi Nikah?
Hari H Bagian 1


__ADS_3

Pagi itu, keluarga Alesya dan Daniel sudah lumayan sibuk. Mereka mempersiapkan segala keperluan yang diperlukan untuk acara resepsi pernikahan Daniel dan Alesya esok hari.


Menjelang petang, seluruh keluarga Alesya dan Daniel berangkat menuju hotel tempat diselenggarakannya acara resepsi tersebut. Malam itu, mereka akan menginap di hotel tersebut.


Setelah makan malam, Daniel dan yang lainnya memeriksa persiapan acara untuk esok hari. Alesya juga menyempatkan diri mengikuti Daniel menuju aula tempat diadakannya resepsi mereka esok hari.


"Kalian nggak mengundang teman-teman kalian?" tanya papa Daniel yang saat itu juga ikut memeriksa persiapan acara.


"Nggak sempat, Pa. Acaranya juga dadakan sekali," kali ini Daniel yang menjawab.


"Benar. Dan, papa minta maaf untuk itu," ucap papa dengan ekspresi penuh penyesalan. Papa hanya merasa tidak enak karena baik Daniel maupun Alesya tidak sempat menyiapkan pesta pernikahan yang sesuai dengan keinginan mereka.


"Tidak apa-apa, Pa. Yang terpenting kan syarat sahnya pernikahan sudah lengkap. Jadi, yang lainnya bisa menyesuaikan," jawab Alesya sambil menoleh ke arah papa mertuanya.


Papa Daniel mengulas senyuman bahagianya. Dia mengusap kepala Alesya dengan penuh kasih sayang.


"Terima kasih, Ca. Kami benar-benar bersyukur kamu mau menerima pernikahan ini. Jika tidak, kami bahkan tidak tahu harus berbuat apa."


"Sama-sama, Pa. Mungkin, memang ini sudah menjadi garis takdir kami. Kami sudah berusaha ikhlas menerima semua ini. Kami yakin, akan ada hikmah dibalik semua peristiwa," jawab Alesya sambil mengulas senyumannya.

__ADS_1


Setelah perbincangan singkat itu, Alesya dan Daniel kembali melanjutkan niatnya memeriksa persiapan acara. Hingga menjelang pukul sepuluh malam, Daniel dan Alesya memutuskan untuk kembali ke kamar. Mereka harus beristirahat untuk menghadapi acara esok hari.


Keesokan hari, Alesya sudah siap di rias. Sejak jam enam pagi, Alesya sudah duduk manis di depan MUA yang sudah dipersiapkan oleh keluarga Daniel. Alesya yakin jika MUA pilihan mertuanya tersebut, tak kalah dengan MUA yang kemarin meriasnya saat acara ijab kabul.


Ketika Alesya sudah mulai dirias, Daniel tampak masih mondar mandir di sekitar Alesya sambil memainkan ponselnya. Alesya yang melihat tingkah suaminya, langsung menoleh dan menegur laki-laki yang tampak cuek meski hanya mengenakan kaos oblong dan celana boxer tersebut.


"Da, ngapain sih mondar-mandir dari tadi. Duduk, kek. Sarapan dulu, tuh." Alesya melirik sarapan Daniel yang masih utuh belum tersentuh.


"Bentar lagi. Masih nanggung, nih," jawab Daniel yang masih fokus pada permainan online yang ada di ponselnya.


Alesya mencebikkan bibir mendengar jawaban Daniel. Sementara MUA yang sedang meriasnya, hanya bisa terkekeh geli. 


"Rasa? Rasa apa, Mbak?" tanya Alesya bingung.


"Rasa yang sudah kedut-kedut ingin dikeluarkan sama 'leher angsa' suami Mbak Alesya," jawab Mbak Feni sambil tergelak.


Alesya yang masih belum mengerti pun hanya bisa melirik ke arah Mbak Feni. Alesya hanya menjawab sambil mengedikkan bahu. Entah apa maksud ucapan wanita yang berusia tiga puluh sembilan tahun tersebut.


Sekitar jam setengah sembilan pagi, Alesya sudah selesai di make up. Kini, dia sudah dibantu oleh salah satu asisten Mbak Feni untuk berpakaian. Sementara Daniel, dia juga sudah bersiap-siap.

__ADS_1


Acara resepsi akan dimulai pukul sepuluh pagi. Seluruh keluarga Daniel dan Alesya, juga sudah selesai bersiap-siap. Hingga tiba waktunya Daniel dan Alesya segera beranjak menuju tempat acara.


Daniel dengan telaten membantu Alesya berjalan dengan gaunnya yang memiliki ekor yang lumayan panjang tersebut. Sesekali, Daniel tampak melirik ke arah Alesya. 


Alesya bukannya tidak menyadari jika Daniel beberapa kali melirik ke arahnya. Namun, dia pura-pura tidak tahu. Hingga saat mereka memasuki lift, Alesya benar-benar tidak tahan untuk menegur sang suami.


"Ada apa sih, Da? Kenapa sejak tadi lihat-lihat terus, ih. Ada yang salah dengan make up ku?" tanya Alesya sambil menatap ke arah Daniel. Entah mengapa Alesya menjadi khawatir jika ada yang tidak sesuai dengan penampilannya.


Daniel masih tak bergeming menatap ke arah Alesya. Tatapan matanya seakan bisa menerkam Alesya saat itu juga. Daniel bahkan masih diam tidak menjawab ucapan Alesya. Dan, hal itu semakin membuat Alesya khawatir.


"Da?" Alesya menggoyang-goyangkan lengan Daniel hingga membuat laki-laki tersebut mengerjap-ngerjapkan kedua matanya.


"Iya, ada."


Kedua bola mata Alesya langsung membulat setelah mendengar jawaban Daniel. Sontak saja jawaban tersebut membuat Alesya khawatir.


"A-apa yang salah, Da? Apa ada yang berantakan? Mumpung belum mulai acaranya, aku mau benerin make up dulu," ucap Alesya dengan ekspresi khawatir.


"Bukan make up kamu yang berantakan, Le, tapi hatiku. Kenapa aku baru sadar jika kamu cantik banget, Le. Rasanya, aku mau nutupin wajah kamu pakai sarung biar tidak dilihat orang," jawab Daniel sambil tidak mengalihkan tatapannya pada wajah Alesya.

__ADS_1


Sarung? Oh, maksudnya nutupin wajah pakai sarung seperti model ninja-ninja itu kan, ya?. Bukan sarung yang sedang dipakai oleh Daniel, kan? Masa iya nutupin pakai sarung yang sedang dipakai. 🙄


__ADS_2