Kok, Jadi Nikah?

Kok, Jadi Nikah?
Bertemu Teman


__ADS_3

Alesya menatap horor ke arah Daniel setelah mendengar ucapan absurd suaminya tersebut. Sebuah pukulan langsung dilayangkan oleh Alesya dan mendarat dengan sempurna pada bahu kiri Daniel.


"Apaan sih, Da? Nggak usah aneh-aneh, deh." Alesya langsung mencebikkan bibir.


Daniel yang masih meringis sambil mengusap-usap bahunya, langsung mendengus kesal.


"Ya, masa kamu nggak ngerti sih, Le? Biasanya pengantin baru kan main gesek gesekkan, tubruk tubrukan, terus tusuk tusukan. Masa kita hanya main hompimpah, Le?" ucap Daniel sambil memasang ekspresi melas. 


Namun, meski ucapan Daniel terdengar biasa saja, jantungnya berdegup dengan kencang. Daniel tidak menyangka jika dia berani ngomong seperti itu kepada Alesya. Daniel khawatir jika Alesya akan langsung marah kepadanya setelah mengucapkan hal itu.


"Apaan main tusuk tusukan? Dikira kita mau buat sate, apa?" ucap Alesya sambil berbalik dan berjalan menuju kamarnya. 


Hal itu dilakukan Alesya untuk menghindari perdebatan absurd dengan Daniel. Alesya bukannya tidak mengerti maksud ucapan Daniel. Namun, dia merasa belum siap melakukan hal itu sekarang. Dan, Alesya juga yakin Daniel tidak akan memaksanya untuk melakukan itu.


Melihat Alesya yang sudah berjalan meninggalkannya, Daniel hanya bisa mendesahkan napas beratnya. Setelah itu, dia langsung bergegas menyusul Alesya menuju kamar mereka.


Malam itu, Alesya dan Daniel memutuskan untuk makan malam di luar. Daniel yang tidak membawa kendaraan, mengajak Alesya mencari makan dengan menggunakan taksi online. Namun, usulan Daniel tersebut segera ditolak oleh Alesya.


Alesya justru mengajak Daniel berjalan menyusuri trotoar. Alesya yakin di sekitar sana ada pedagang nasi goreng. Dulu, Alesya pernah mampir di tempat tersebut saat baru pulang dari Bogor dengan sang ayah.

__ADS_1


Dan, benar saja. Alesya melihat penjual nasi goreng yang berjualan tak jauh dari lokasi hotel tempat mereka menginap. Tanpa menunggu lama, Alesya dan Daniel segera berjalan menghampiri penjual nasi goreng tersebut.


Namun, saat Alesya dan Daniel hendak memesan, mereka dikagetkan dengan seseorang yang baru saja selesai menerima pesanan nasi goreng yang dibungkus. Ketiga orang yang saling pandang tersebut cukup terkejut.


"Lho, Fan? Lo ada di sini juga?" tanya Alesya yang cukup kaget bisa bertemu dengan Fani, teman satu kelompok KKN nya.


Hal yang sama juga dirasakan oleh Fani. Dia cukup terkejut saat mendapati Alesya dan Daniel ada di sana malam itu.


"Eh, Sya. Iya, nih. Tadi kebetulan lewat sini. Jadi, mampir sekalian beli nasi goreng," jawab Fani sambil mengulas senyuman. Sesekali, Fani melirik ke arah Daniel. 


Alesya mengangguk-anggukkan kepala.


"Eh, iya. Ka-kalian mau makan di sini?"


"Iya, nih. Kebetulan juga tadi mau makan nasi goreng. Dan, ketemunya disini," jawab Alesya sambil mengulas senyuman.


Fani balas tersenyum. Dan, lagi-lagi Fani melirik ke arah Daniel. Namun, dia harus merasa kecewa karena Daniel sama sekali tidak melihat ke arahnya. Bahkan, sejak mereka datang, Daniel sudah merogoh saku jaketnya dan mengambil ponsel. Setelah itu, dia mengotak atik ponselnya dan tidak berkomentar apa-apa sama sekali.


Setelah cukup berbasa basi, akhirnya Fani undur diri. Alesya dan Daniel langsung memraan nasi goreng setelah melihat Fani beranjak dari tempat tersebut.

__ADS_1


Alesya dan Daniel langsung menyantap sajian makan malam sederhana tersebut. Meskipun makan di warung pinggir jalan, mereka tetap lahap. Beruntung Daniel dan Alesya bukan tipe orang yang suka pilih-pilih makanan.


Setelah menyelesaikan makan malam tersebut, Daniel dan Alesya memutuskan untuk berjalan-jalan di taman sekitar hotel. Ada beberapa spot foto yang dipenuhi lampu-lampu taman. Tak lama. Hingga menjelang pukul sembilan malam, Daniel dan Alesya memutuskan untuk kembali ke kamar.


Alesya mendapat giliran membersihkan diri lebih dulu. Sementara Daniel, harus menerima panggilan telepon dari Iqbal.


Alesya tidak membutuhkan waktu lama untuk membersihkan diri. Sekitar dua puluh menit kemudian, dia sudah terlihat keluar dari kamar mandi dengan memakai baju tidur yang cukup minim. 


Baju tidur terusan tanpa lengan dan dengan panjang beberapa sentimeter di atas lutut tersebut, mampu membuat Daniel bertanya-tanya. Dia cukup gagal fokus saat melihat baju tidur yang dipakai oleh Alesya tersebut. Pasalnya, selama ini Daniel tahu jija Alesya suka memakai baju tidur potongan dengan model berlengan dan celana pendek.


"Kamu kenapa pakai baju tidur model begini?" tanya Daniel saat Alesya lewat di dekatnya.


Alesya menghentikan langkah kakinya dan menoleh ke arah Daniel.


"Aku nggak tahu jika baju tidurku nggak ada. Kata mama, semua baju ganti sudah disiapkan di dalam tas. Dan, aku baru tahu jika baju tidurku model begini," jawab Alesya sambil mencebikkan bibir.


Kening Daniel berkerut. Dia berusaha mencerna ucapan Alesya tersebut.


'Apa benar mama yang merencanakan semua ini? Apa mama berpikir jika memberikan baju tidur model begitu, bisa mempermudah aktivitas 'emah-emahan' karena tinggal singkap, peelorotin, dan tusukk?' batin Daniel.

__ADS_1


Sek sebentar, ini maksudnya apa Kuda?


__ADS_2