
Daniel tidak melepaskan sang istri begitu saja. Dia langsung mengangkat tubuh Alesya menuju tempat tidur. Alesya hendak memprotes tindakan Daniel yang tiba-tiba itu, namun niatnya langsung terhenti saat Daniel sudah membungkam bibir Alesya dengan bibirnya.
Bahkan, hingga Daniel sudah merebahkan tubuh sang istri di atas tempat tidur mereka, Daniel masih tidak melepaskan tautan bibirnya. Ditambah lagi, gerakan tangan Daniel yang sudah bergerilya kesana kemari hingga membuat Alesya blingsatan tidak karuan.
"Eehhmmnn, aaahhh." Alesya hanya bisa merem melek saat Daniel sudah mulai menyusuri rahang hingga leher istrinya itu. Jangan lupakan gigitan-gigitan kecil Daniel pada leher dan bahu Alesya yang meninggalkan jejak petualang nya disana.
Cup cup cup.
Serangan bibir dan tangan Daniel tak henti-hentinya bergerilnya hingga membuat bathrobe yang masih dikenakan Alesya terlepas. Daniel langsung melempar bathrobe istrinya tersebut ke belakang hingga nangkring di atas meja rias Alesya.
"Ehhhmmm, Maasssshhhh." Alesya langsung kelojotan saat tangan Daniel mulai menjelajah di bagian bawah tubuhnya.
Tak tinggal diam, Daniel kembali menggoda bagian yang sudah mulai becheks itu dengan menggesek, mencubit, bahkan menusuk dengan jari besarnya.
"Aaahhhh, eehhhmmmmhhh."
__ADS_1
Alesya bahkan tak bisa diam. Tubuhnya sudah menggelinjang hebat dengan kepala mendongak sambil membusungkan dada. Daniel yang melihat tingkah sang istri, benar-benar sudah sangat mupeng. Namun, dia terus menggoda Alesya hingga membuat jalan iya-iya nya nanti lancar jaya.
Dan, benar saja. Setelah beberapa saat Daniel berusaha membuat Alesya melepaskan dorongan dari dalam tubuhnya, seketika langsung merasa lemas dengan napas memburu. Daniel memberikan kesempatan kepada Alesya untuk beristirahat sambil mengatur napas.
Cup cup cup.
Daniel memberikan beberapa kecupan pada wajah istrinya yang sudah berkeringat tersebut.
"Masih capek?" tanya Daniel.
"Hah hah huh huh. Kok ngos-ngosan ya, Mas? Padahal belum ngapa-ngapain," jawab Alesya sambil mengusap peluh di keningnya. Dia sama sekali tidak protes saat Daniel sudah mulai menginvasi ceruk lehernya.
Belum sempat Alesya menyahuti ucapan Daniel, bibirnya sudah kembali dibungkam oleh Daniel. Tak bisa protes, Alesya hanya bisa menerima dan berusaha mengimbangi segala tingkah Daniel. Tak hanya itu, Alesya juga merasakan sesuatu mulai mendesak perlahan-lahan di bawah sana. Keras, besar, dan panjang.
"Heegghhh, euughhh. Eehhmmm."
__ADS_1
Alesya langsung mengejang begitu merasakan sesak yang ah, sudahlah.
Sementara itu, tangan Daniel juga sudah mulai bekerja. Dia sudah menemukan pegangan yang bisa membuatnya berpacu dengan kecepatan pinggulnya. Namun, tidak seperti pembalap yang terus melaju semakin ke depan, Daniel justru hanya bisa maju dan mundur berulang-ulang. Entah mengapa seperti itu. 🙄
Alesya yang juga sudah semakin mupeng, hanya bisa merintih keenakan. Kedua tangannya hanya bisa mencengkram sprei dengan kuat, dengan kepala menggeleng ke kiri dan ke kanan. Kedua mata Alesya bahkan terpejam dengan erat untuk merasakan kecepatan gerakan Daniel yang sudah mulai menggila.
"Eehhmmm, Ma-maasss. Aduuhhhhh. Mentok, ih."
Alesya menatap Daniel sambil menggigit bibir bawahnya. Ekspresi wajah Alesya benar-benar berkebalikan dengan apa yang diucapkannya. Tatapan matanya sayu seperti memancing Daniel untuk terus bergerak.
"Kurang? Tambah lagih? Beginih?"
Heghh heegghhh heeggghhh.
"Aaahhhhh. Eeehhmmm. Iyaahh."
__ADS_1
Alesya hanya bisa menggeliat gelisah di tengah gempuran Daniel yang seolah enggan untuk berhenti. Meskipun begitu, dia tetap menikmati apa yang dilakukan oleh suaminya itu. Bahkan, Alesya bisa terpuaskan berkali-kali hingga pelepasan terakhir keduanya bisa bersama-sama selesai.
Malam itu, Alesya tidak bisa tidur dengan nyenyak. Daniel selalu punya cara dan alasan untuk membuat Alesya menuruti keinginannya.