Kok, Jadi Nikah?

Kok, Jadi Nikah?
Balik ke Jakarta


__ADS_3

Tak terasa hari kepulangan Daniel dan Alesya kembali ke Jakarta sudah tiba. Mereka baru saja check out dari hotel dan sedang menunggu jemputan dari kak Desi. Rencananya, kak Desi akan ikut ke Jakarta untuk menemui kedua orang tuanya dan menceritakan apa yang terjadi.


Selain itu, kak Desi juga masih terbebani dengan rencana kedua orang tua dosennya itu yang mengajak temu keluarga. Mau tidak mau, kak Desi harus menceritakan hal itu kepada orang tuanya. Ya, meskipun dia sendiri tidak tahu apa sebenarnya hubungannya dengan pak Ferdian.


Tak berapa lama kemudian, sebuah taksi berhenti di depan lobi hotel. Kak Desi terlihat turun dari taksi tersebut. Alesya dan Daniel langsung bergegas menghampirinya sambil menarik koper dan barang bawaan mereka.


"Ini kita langsung ke bandara atau mau mampir kemana dulu, Kak?" tanya Daniel begitu mereka bertiga sudah berada di dalam taksi.


"Ehm, langsung aja gimana? Nanti sekalian makan di sana saja nggak apa-apa, kan?"


"Oke deh, Kak. Lagian, kita juga sudah cukup puas menjelajah Jogja selama satu minggu ini."


Setelahnya, obrolan ringan pun kembali dilakukan hingga mereka tiba di bandara. Karena masih ada cukup banyak waktu sebelum jadwal keberangkatan pesawat mereka, kak Desi mengajak Alesya dan Daniel untuk makan siang terlebih dahulu.


Hingga saat mereka bertiga sudah selesai dengan aktivitas makan mereka, tiba-tiba ponsel kak Desi menyala. Ada beberapa pesan masuk yang muncul pada notifikasi di layar ponsel tersebut. Alesya yang kebetulan ada di samping kak Desi, bisa melihat sekilas pesan tersebut berasal dari pak Ferdian.


Kak Desi buru-buru mengambil ponsel tersebut dan mengetikkan beberapa pesan balasan di sana. Alesya yang sebenarnya cukup penasaran, memilih untuk tidak bertanya. Dia tidak ingin kakak iparnya itu menjadi tidak nyaman.


Hingga tak berapa lama kemudian, mereka bertiga sudah disibukkan dengan aktivitas sebelum pesawat take off. Kali ini, kak Desi duduk bersisian dengan Alesya. Sedangkan Daniel berada di deretan kursi di samping mereka.

__ADS_1


Kak Desi yang sudah cukup gatal ingin bercerita, langsung menarik lengan Alesya agar mendekat ke arahnya. Mau tidak mau, Alesya langsung menundukkan kepala ke arah kak Desi yang kebetulan saat itu duduk di dekat jendela.


"Ada apa, Kak?" tanya Alesya dengan suara lirih.


"Ssttt. Jangan keras-keras. Aku nggak mau Daniel sampai dengar," bisik kak Desi.


Alesya hanya bisa menganggukkan kepala. Dia berusaha mengatur posisi duduknya agar tidak terlihat oleh Daniel jika dia sedang mendengarkan cerita kak Desi.


"Ehm, tadi sebelum kita berangkat pak Ferdian kirim pesan ke kakak."


Alesya yang tadi sempat melihat pesan masuk pada ponsel kak Desi pun hanya bisa mengangguk. Dia masih diam mendengarkan apa yang akan disampaikan oleh kakak iparnya itu.


"Ehm, tadi dia tanya apa aku jadi pulang ke Jakarta. Dan, aku memang balas iya."


"Terus?"


"Dia sebenarnya sedang ada seminar di Bandung sejak hari Kamis kemarin, dan harusnya Sabtu ini sudah selesai. Tadi, dia bilang jika akan mampir ke Jakarta dulu  sebelum kembali ke Jogja," jawab Kak Desi. Dia tampak gelisah saat mengatakan hal itu kepada Alesya.


Alesya tentu saja terkejut setelah mendengar penjelasan kakak iparnya itu. Namun, dia tidak mau membuat kak Desi semakin khawatir.

__ADS_1


"Apa yang mau pak Ferdian lakukan di Jakarta, Kak?" tanya Alesya.


Kak Desi tidak langsung menjawab pertanyaan Alesya. Dia justru diam beberapa saat kemudian sebelum bersuara.


"Ehm, dia, dia mau mampir ke rumah untuk bertemu papa dan mama."


"Eh, langsung ke rumah begitu?" Kali ini, Alesya benar-benar terkejut. Dia sama sekali tidak menyangka jika dosen kakak iparnya itu akan mampir ke rumah. Alesya tadi hanya berpikir jika pak Ferdian akan mengunjungi suatu tempat di Jakarta dan bukan ke rumah mertuanya.


"Iya. Makanya ini aku bingung harus bagaimana. Aku khawatir jika membuat papa dan mama terkejut nanti."


Alesya tampak memikirkan sesuatu sebelum kembali bersuara.


"Ehm, sepertinya nggak begitu deh, Kak. Siapa tau papa dan mama justru malah bahagia jika kakak bisa cepat move on."


"Cckkk. Move on apaan coba. Orang aku nggak ada hubungan apa-apa sama pak Ferdian, kok. Sebel!"


"Lhah, jadi ini ceritanya kaka Desi lagi kesel karena nggak ada hubungan apa-apa dengan pak Ferdian begitu, ya?"


"Eh, e-enggak gitu, Ca. Aduuh!"

__ADS_1


__ADS_2