Kok, Jadi Nikah?

Kok, Jadi Nikah?
Cicilan Daniel


__ADS_3

Setelah berbicara sebentar dengan ayah Alesya, Daniel langsung beranjak menuju kamar Alesya yang berada di lantai dua. Ketika tengah berjalan, entah mengapa Daniel merasa sedikit was-was. Daniel khawatir jika Alesya marah dengannya.


Setelah tiba di depan pintu, Daniel menarik napas dalam-dalam dan langsung membuka pintu kamar Alesya. Begitu pintu tersebut terbuka, Daniel melongokkan kepala ke dalam kamar. Namun, dia tidak mendapati keberadaan Alesya. Mungkin, Alesya sedang berada di kamar mandi.


Daniel melihat barang-barangnya tadi yang dibawa oleh Alesya sudah diletakkan di atas sofa. Setelah beberapa saat kemudian, Daniel langsung beranjak masuk ke dalam kamar.


Ketika Daniel sedang berbalik dan menutup pintu kamar, tiba-tiba sebuah suara mengagetkannya. 


"Baju ganti sudah aku siapkan di dalam. Setelah ini, aku siapkan makan malam dulu. Aku yakin kamu belum makan malam," ucap Alesya. Dia bahkan tidak melihat ke arah Daniel. Alesya langsung berjalan menuju ke arah pintu.


Alesya tampak biasa-biasa saja. Dan, tentu saja tingkah Alesya tersebut langsung membuat Daniel ketar-ketir. Daniel sudah sangat hafal jika Alesya sedang kesal atau marah, dia pasti akan langsung mendiamkan orang tersebut. Bahkan, Alesya tidak akan memperdulikan apapun yang berkaitan dengan orang itu.


Daniel yang sudah sangat mengerti dengan sikap Alesya, mendadak semakin khawatir. Secepat kilat, Daniel mencengkram pergelangan tangan Alesya dan sedikit menariknya.


"Le," ucap Daniel sambil menatap wajah Alesya dengan wajah sendu.


Alesya memutar kepala dan balas menatap Daniel dengan kening berkerut.


"Ada apa?" tanya Alesya.


"Kamu marah?"


Alesya menggelengkan kepala. "Nggak, Da. Mana mungkin aku marah," jawab Alesya sambil berusaha mengulas senyuman. Namun, seberapa besar usaha Alesya untuk tersenyum, Daniel masih bisa menebak jika Alesya terpaksa melakukannya.


"Le, aku akan menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Tapi, aku mohon jangan marah. Aku nggak mau kamu diemin begini, Le. Nggak enak," ucap Daniel sambil tetap memasang wajah memelas.

__ADS_1


Alesya terpaksa memutar tubuhnya hingga menghadap ke arah Daniel. 


"Aku nggak marah, Da. Aku percaya kamu. Kita sudah kenal dari kecil. Apapun yang kamu lakukan, kamu pasti punya alasan di balik itu semua,"


Daniel masih menatap wajah Alesya dengan ekspresi tidak tenang. Apalagi, saat Alesya berbalik dan berjalan menuju ke arah tempat tidur. Tanpa menunggu lebih lama, Daniel berjalan menyusul Alesya dan langsung memeluk tubuh perempuan tersebut dari belakang.


Grep.


Daniel memeluk erat tubuh Alesya dari belakang. Dan, tentu saja tindakan Daniel tersebut membuat tubuh Alesya membeku. 


Sebenarnya, bukan hal baru lagi bagi Alesya dan Daniel berbagi pelukan. Hal itu biasanya dilakukan sebagai ungkapan rasa bahagia ketika mendapatkan atau mencapai suatu tujuan tertentu. 


Namun, pelukan kali ini terasa berbeda bagi Alesya. Entah mengapa hal itu terjadi. Apa mungkin, karena status mereka saat ini sudah menjadi suami istri? 


"Mau tidak mau, aku dan Iqbal langsung meluncur kesana. Aku menggeber motor dengan kecepatan maksimal yang bisa dicapai oleh motorku. Dan, beruntung kami datang tepat sebelum utusan perusahaan itu pulang. Kami sempat mengobrol untuk menjelaskan proyek kami, dan ternyata mereka juga cukup tertarik."


"Kami beruntung mendapatkan kerjasama dengan perusahaan tersebut, Le. Jadi, tidak terlalu kesusahan untuk mencarikan donatur."


"Dan, setelah sholat maghrib, aku baru sadar jika ponselku mati karena baterai habis. Naasnya lagi, saat aku akan memasukkan ponsel kembali ke dalam saku jaket, ponsel itu jatuh ke jalanan yang berbatu dalam posisi tengkurap. Ponselku yang sudah mati, tambah semakin mengenaskan, Le. Layarnya sampai retak malah," ucap Daniel sambil salah satu tangannya menunjukkan ponselnya yang sudah tidak bernyawa kepada Alesya. Sementara tangan Daniel satunya, masih memeluk perut Alesya dengan erat.


Alesya menatap ponsel Daniel yang sudah mengenaskan tersebut, hanya bisa mendesahkan napas berat. Setelah mendengar cerita Daniel, rasa kesalnya pun sudah mulai menghilang.


"Lalu, kamu langsung pulang setelah itu?" kali ini Alesya mulai menanggapi cerita Daniel.


"Iya. Setelah sholat maghrib, aku dan Iqbal memutuskan untuk langsung pulang. Aku baru menyadari jika belum menghubungi kamu sejak siang. Mau pinjam ponsel Iqbal, ponselnya juga sudah mati. Maka dari itu, kami memutuskan untuk langsung pulang."

__ADS_1


Alesya mendesahkan napas berat setelah mendengar ucapan Daniel.


"Kalau begitu, aku siapkan makan malam dulu. Kamu mandi saja sana. Setelah mandi, kamu bisa langsung makan malam," ucap Alesya sambil berusaha melepaskan belitan tangan Daniel.


Namun, tangan Alesya langsung membeku saat tiba-tiba Daniel justru malah melingkarkan kedua tangannya membelit perut Alesya semakin erat. Jangan lupakan wajah Daniel yang langsung menyusup pada ceruk leher sebelah kiri Alesya.


Tindakan Daniel tersebut benar-benar membuat tubuh Alesya meremang. Ada semacam rasa menggelitik di perutnya. Namun, Alesya tidak tahu itu apa.


"Ehm, Da?" Alesya bahkan hanya mampu bercicit lirih.


"Kamu mau maafin aku kan, Le?" tanya Daniel sambil mengecup bahu kiri Alesya.


"Eh, ehm, i-iya." Alesya langsung gagap saat mendapati tindakan Daniel tersebut.


Mendengar jawaban Alesya, sebuah senyuman langsung muncul pada wajah Daniel. Sambil melepaskan belitan tangannya dari perut Alesya, Daniel memberikan sebuah kecupan apada pipi Alesya.


Cup.


"Nyicil dulu. Dilunasin nanti jika sudah resepsian ya, Le," ucap Daniel sambil melangkahkan kaki menuju kamar mandi.


"Hah?"


Hhhmmm mau dilunasi? Memangnya mau lunasin apanya?


Jangan lupa tinggalkan jejak ya, biar tambah rame. 🤗

__ADS_1


__ADS_2