
Alesya mendorong tubuh Daniel agar pelukannya terlepas. Dia menatap wajah Daniel dengan ekspresi kesalnya.
"Apa-apaan sih, Da. Kamu kan tau sendiri tugas kelompokku banyak. Nggak usah aneh-aneh dulu, deh." Alesya langsung menggerutu kesal.
Daniel yang melihat tingkah sang istri, hanya bisa mencebikkan bibir. Bohong jika dia tidak ingin bermanja-manja dengan Alesya. Sejak sebelum menikah saja Daniel sudah cukup manja kepada Alesya, apalagi sudah menikah. Bisa dipastikan tingkat 'ngalem' Daniel akan meningkat dua kali lipat.
"Terus kapan kamu bisa pulang, Le?" tanya Daniel dengan ekspresi kesal.
"Aku juga belum tau, Da. Nanti deh aku kasih tau jika sudah dapat pembagian jadwal."
Mau tidak mau, Daniel hanya bisa menganggukkan kepala. Dia mengikuti saja apa ucapan Alesya. Hingga beberapa saat kemudian, Alesya berpamitan untuk kembali ke pos. Dia tidak enak meninggalkan pos ungu terlalu lama.
Alesya tiba di pos ungu sekitar sepuluh menit kemudian. Dia segera memasuki rumah yang masih tampak sepi tersebut. Rupanya, teman-teman kelompoknya sudah menyebar untuk mulai mengerjakan program yang telah dibuat.
Alesya hanya menemukan Yusa, Rachel, Sheina, dan Nick. Mereka tampak berdiskusi di ruang tengah dengan televisi yang masih menyala. Nick langsung menoleh ke arah Alesya setelah mengetahui kedatangannya.
__ADS_1
"Kok lama, Sya?" tanya Nick saat Alesya mendudukkan diri disamling Rachel.
"Tadi fotocopy proposal dulu, sama mampir di tempat Daniel sebentar," jawab Alesya santai.
Nick dan Yusa yang memang sudah mengetahui status Alesya dan Daniel, hanya mengangguk-anggukkan kepala. Namun, hal berbeda justru ditampilkan oleh Rachel dan Sheina. Mereka berdua belum tahu status Alesya dan Daniel. Keduanya hanya mengetahui jika Alesya dan Daniel berteman. Namun, keduanya tidak menanyakan hal itu kepada Alesya.
Selama diskusi berlangsung, Alesya tidak menyadari jika ada yang memperhatikannya sejak tadi. Alesya dan Yusa bahkan masih fokus menjelaskan apa yang tadi didapatnya dari sekolah.
Hingga beberapa saat kemudian, Alesya dan teman-temannya mulai mendiskusikan apa yang bisa mereka kerjakan selanjutnya. Obrolan mereka berlangsung sekitar satu jam kemudian. Hingga beberapa orang yang sudah bertugas di luar pun kembali ke pos.
Siang itu, yang mendapat giliran membuat makan siang langsung berkutat di dapur. Kebetulan, siang itu Sheina dan Fani mendapat tugas memasak bersama. Sheina bergeser mendekat ke arah Fani sambil berbisik.
Kening Fani berkerut. Dia cukup bingung dengan pertanyaan Sheina tersebut.
"Dekat bagaimana maksud lo? Mereka kan memang sudah dekat dari dulu. Bahkan setahuku, rumah mereka tetanggaan." Fani menjawab tak kalah lirihnya.
__ADS_1
"Benarkah?" Shiena yang baru mengetahui hal itu tampak terkejut.
Fani menganggukkan kepala. Kalau untuk hal itu, dia cukup mempercayai ucapan Alesya dulu.
"Lalu, apa kamu percaya jika mereka punya hubungan lebih dari seorang tetangga?" bisik Sheina lagi.
Lagi-lagi kening Fani berkerut. Dia sedikit menoleh ke arah Sheina.
"Hubungan yang lebih dari tetangga itu yang bagaimana maksudnya?" tanya Fani penasaran.
Sheina terlihat menghela napas dalam-dalam sebelum menghembuskannya secara perlahan dan menjawab pertanyaan Fani.
"Tadi, setelah pulang dari sekolah, Alesya bilang dia mampir ke tempat Daniel lebih dulu. Dan, lo tahu apa yang gue lihat setelah dia kembali?"
Fani menggelengkan kepala sambil menatap ke arah Sheina.
__ADS_1
"Memangnya ada apa?"
"Gue nggak sengaja lihat ada kissmaark pada leher Alesya. Coba saja lo bayangin siapa yang buat stempel di situ kalau bukan Daniel. Dan kira-kira, apa hubungan mereka jika sampai mereka berani melakukan hal itu?"