Kok, Jadi Nikah?

Kok, Jadi Nikah?
Mulai Terungkap


__ADS_3

Yusa yang menyadari jika Alesya terjatuh dan terbawa arus sungai, langsung panik. Dia berteriak-teriak dengan kencang dan meminta bantuan warga.


"Alesyaaaa! Toloonggg! Toloong!" Yusa tidak peduli lengan dan kakinya tergores. Dia langsung beranjak dan berlari sekuat tenaga menyusuri jalan setapak di tepi sungai tersebut.


"Yus! Tolongin! Aaarrgghh!" Alesya masih berusaha bertahan di atas permukaan air yang mengalir cukup deras tersebut.


Sebenarnya, Alesya bisa berenang. Namun, karena derasnya arus air, dia cukup kewalahan bertahan.


"Syaaa, bertahan Sya. Tolooongg! Toloonggg!" Yusa terus berteriak-teriak minta tolong.


Beruntung bagi Alesya saat itu ada segerombol batang bambu yang ambruk ke sungai. Secepat kilat Alesya berpegangan pada batang-batang bambu tersebut. Dia tidak peduli saat tubuhnya tertusuk batang maupun duri-duri. Saat itu yang dipikirkan Alesya adalah bertahan agar tidak terbawa arus.


"Sya, bertahan, Sya! Pegangan yang kuat! Jangan dilepas!" Yusa masih berteriak-teriak histeris. Dia masih terus meminta tolong di sela-sela tangisnya.

__ADS_1


Beruntung saat itu ada beberapa orang yang tengah memancing tak jauh dari lokasi Alesya dan Yusa berada. Ada sekitar empat orang yang saat itu memancing di sungai. Mereka segera berlari ke arah Yusa yang sedang menangis.


"Ada apa, Mbak?" Tanya laki-laki paling muda.


"Mas, Mas, tolongin teman saya! Tolongin ituuu!" Yusa memegangi lengan laki-laki itu sambil menjerit-jerit histeris.


Seketika empat orang laki-laki itu langsung terjun ke dalam sungai dan membantu menarik Alesya ke tepian. Beruntung saat itu Alesya masih sadar. Dengan lengan yang dipegangi warga, Alesya bisa naik dengan selamat ke tepian sungai.


Yusa langsung memeluk tubuh Alesya dan masih menangis histeris. Dia menangis sesenggukan saat Alesya terbatuk-batuk dan sempat muntah beberapa kali. Hingga tak berapa lama kemudian, beberapa warga datang berbondong-bondong. Mereka membantu Yusa dan Alesya untuk pergi ke klinik desa tersebut.


Yusa masih menangis saat teman-temannya tiba di klinik. Dia bahkan tidak terlalu memperdulikan luka yang ada pada tubuhnya. Hingga menjelang siang, Alesya dan Yusa sudah diperbolehkan untuk pulang kembali ke rumah. Siang itu, mereka dijemput oleh Gea dan juga Leon dengan mobil milik Yusa.


Sepanjang perjalanan menuju rumah, baik Gea maupun Leon tidak memberitahu Alesya dan Yusa tentang apa yang sedang terjadi di pos mereka. Dan, saat mobil yang mereka tumpangi memasuki halaman rumah, Alesya dan Yusa cukup terkejut dengan banyaknya warga yang ada di rumah.

__ADS_1


"Ada apa ini? Kenapa banyak sekali warga disini?" tanya Yusa bingung.


"Kalian tenang dulu ya, biar semua ditangani oleh Galih dan Nick." Gea berusaha menenangkan Yusa dan Alesya.


Keduanya hanya bisa menganggukkan kepala. Namun, saat mereka berempat hendak keluar dari mobil, terdengar suara bentakan dan teriakan dari dalam rumah. Ditambah lagi suara tangisan yang semakin keras. Hal itu membuat keempat orang yang baru saja tiba tersebut buru-buru berjalan memasuki rumah.


"Kuraaangg ajaaarrrr! Berani-beraninya kamu menyebarkan video tentang anak saya!" Teriak suara seorang laki-laki. Dan, tak lama kemudian terdengar suara tamparan dan disertai teriakan kesakitan.


"Kami sudah berjanji kepadamu untuk membuat Alesya dan Daniel malu. Tapi justru kamu yang ingkar janji dengan menyebar aib putrikuu!" 


Plak plak.


Aaarrgghhhhh!.

__ADS_1


Siapa sih itu? 


__ADS_2