
Sejak subuh, aktivitas di rumah orang tua Daniel sudah sangat ramai. Beberapa orang sedang sibuk menyiapkan tempat untuk acara di halaman, sedangkan beberapa yang lainnya tengah sibuk memindahkan dan mengatur kursi dan dekorasi sederhana di dalam rumah.
Acara ijab kabul akan di selenggarakan pada pukul sepuluh pagi itu. Dan, semua persiapan harus sudah siap sebelum para tamu undangan hadir. Ya, meskipun keluarga Daniel hanya mengundang beberapa tetangga terdekat mereka.
Mama Daniel dan ibu Alesya, sudah berkutat dengan persiapan makanan untuk menjamu para tamu undangan. Beruntung sekali ada ibu Alesya yang dengan sigap membantu persiapan acara dadakan tersebut.
Sejak pukul enam pagi, MUA yang semalam dihubungi oleh Alesya pun sudah datang. Ada dua orang MUA yang sedang bersiap-siap untuk melakukan tugasnya pagi itu. Dan, salah satunya adalah tante Anika, ibu dari teman Alesya. Kebetulan, Alesya sudah cukup lama mengenal beliau.
"Apa kabar, tante? Lama tidak berjumpa," sapa Alesya setelah mengecup tangan wanita tersebut.
"Baik, Sya. Kamu kok lama nggak mampir ke rumah? Mentang-mentang sudah menikah jadi ngerem terus di rumah, ya." Tante Anika langsung menggoda Alesya. Ya, tante Anika memang mengetahui jika Alesya sudah menikah dari Afika, sang putri.
Alesya langsung tergelak mendengar godaan ibu sahabatnya itu.
"Apaan sih, Tan. Nggak begitu, ih. Aku baru selesai KKN ini, Tan. Jadi, masih menikmati istirahat di rumah," ucap Alesya menjelaskan.
__ADS_1
"Halah, mana mungkin bisa istirahat di rumah, Sya. Yang ada pasti di buat capek terus sama suami kamu. Hihihi."
Wajah Alesya langsung tersipu saat mendengar godaan tante Anika. Setelah mengobrol sebentar, aktivitas make up pun segera dimulai. Alesya meninggalkan kamar kakak iparnya itu dan langsung membantu persiapan acara di depan.
"Sayang, aku lupa belum hubungi fotografer, nih. Bagaimana ini," tiba-tiba Daniel langsung menggelendot pada lengan Alesya.
Kedua bola mata Alesya langsung membulat saat mendapati tingkah Daniel. Dia cukup malu saat suara Daniel terdengar oleh beberapa orang pemuda yang ada di sekitar mereka. Bahkan, beberapa diantara mereka langsung bersiul menggoda melihat tingkah Daniel.
"Mas, apaan, sih? Malu dilihat orang, tuh." Alesya langsung mencubit pinggang Daniel agar sedikit menjauh.
Alesya hanya menggelengkan kepala sambil beranjak meninggalkan Daniel. Entah mengapa setelah pulang dari Jogja, Daniel menjadi semakin manja kepada Alesya. Daniel yang melihat kepergian sang istri, langsung buru-buru mengekorinya.
"Yang, ini aku belum dapat fotografer, loh. Kamu punya kenalan siapa gitu yang bisa dimintai tolong dadakan?" tanya Daniel.
Alesya berpikir sebentar sebelum kemudian merogoh ponselnya yang ada di saku celananya.
__ADS_1
"Aku coba hubungi Nick dulu. Siapa tahu dia bisa membantu. Hasil jepretannya cukup bagus."
Setelahnya, Alesya mencoba menghubungi Nick dan menjelaskan kondisinya. Beruntung hari itu Nick sedang tidak ada agenda penting. Dia menyanggupi permintaan Alesya dan sekaligus ingin membicarakan sesuatu. Jadilah hari itu semua keperluan bisa disiapkan.
Setelah sarapan, Alesya dan Daniel pulang ke rumah orang tua Alesya untuk bersiap-siap. Beberapa tamu undangan di sekitar rumah pun sudah ada yang datang untuk membantu persiapan acara.
"Kamu mandi dulu, Mas. Aku siapkan baju untuk kamu pakai nanti." Alesya berjalan ke arah lemari baju untuk menyiapkan pakaian Daniel.
Namun, belum sempat Alesya membuka pintu lemari baju tersebut, tiba-tiba dia merasakan tubuhnya melayang di udara. Rupanya, dengan tidak tahu malunya Daniel membopong tubuh Alesya dan membawanya ke atas tempat tidur.
"Mas! Kamu mau apa, ih." Alesya langsung memberontak.
"Sebentar saja. Aku butuh penghilang stress, Yang. Si Dj butuh kehangatan. Kamu erami sebentar ya, ya, ya," ucap Daniel sambil mengerjap-ngerjapkan kedua matanya.
Dikira mengerami telur kali, ya. 🤧
__ADS_1