Kok, Jadi Nikah?

Kok, Jadi Nikah?
Pengakuan


__ADS_3

Seketika Alesya dan Galih langsung menoleh ke arah pintu dapur. Terlihat dua orang yang sudah berdiri di sana. Keduanya sama-sama terkejut setelah mendengar obrolan Alesya dan Galih tersebut.


"Beneran kalian sudah menikah, Sya?" tanya Gea masih dengan ekspresi terkejutnya.


Ya, orang yang tidak sengaja mendengar obrolan Alesya dan Daniel tersebut adalah Gea dan Astri, teman satu kamar Alesya. Mereka berdua hendak mengambil air minum dan tidak sengaja mendengar obrolan tersebut.


Seketika Alesya langsung berbalik dan menghadap ke arah kedua orang teman sekamarnya tersebut.


"Ge, ka-kalian dengar obrolan kami?" tanya Alesya. Entah mengapa dia menjadi merasa tidak enak kepada kedua temannya tersebut.


Gea dan Astri sama-sama menganggukkan kepala. Mereka masih menunggu jawaban Alesya tentang kebenaran tentang pernikahannya itu.


Alesya mendesahkan napas berat. Mau tidak mau, dia harus menjelaskan hal itu kepada Astri dan Gea. Setidaknya, setelah ini dia tidak akan merasa canggung atau harus sembunyi-sembunyi jika menghubungi Daniel di dalam kamar.


"Iya, benar. Kami memang sudah menikah sekitar dua minggu yang lalu," jawab Alesya.


Tentu saja hal itu membuat Gea dan Astri kaget.


"Serius, Sya? Kok nggak bilang-bilang, sih? Atau setidaknya, ngundang kita-kita gitu?" Gea langsung memberondong Alesya.


"Acaranya juga dadakan, Ge. Kami bahkan tidak sempat ngabarin keluarga besar yang lainnya," jelas Alesya.


"Memang kenapa acaranya harus dadakan? A-apa kalian…?" Kali ini Astri yang bertanya.

__ADS_1


Alesya segera menggelengkan kepala dan tangannya. Dia sudah bisa menebak maksud pertanyaan Astri tersebut.


"Tentu saja tidak. Bukan seperti itu, As."


Belum sempat Gea dan Astri bertanya kembali, Galih sudah lebih dulu menyahut.


"Daniel nggak mau Alesya berangkat KKN tanpa ada ikatan dengannya. Daniel khawatir jika Alesya ada yang dekepin di sini," ujar Daniel sambil terkekeh.


Sontak saja ucapan tersebut membuat Alesya mengerucutkan bibir. Namun, dia tidak bisa mengatakan apa-apa karena kedua temannya pun sudah ikut terkekeh.


"Ternyata, Pak Refan kalah gercep, ya." Gea langsung bergumam di sela-sela kekehan tawanya.


Galih yang mendengar gumaman itu langsung mengerutkan kening dengan ekspresi bingung.


Gea segera menganggukkan kepala dengan cepat.


"Iya. Kemarin setelah acara pembukaan, Pak Refan deketin Alesya untuk berkenalan. Ya, dari gelagatnya sih, Pak Refan demen sama Alesya," jelas Gea.


Alesya langsung mencebikkan bibir sambil menatap tajam ke arah Gea.


"Cckkk. Apaan sih, Ge. Orang cuma kenalan doang," ucap Alesya. Dia segera berbalik saat menyadari air yang direbusnya audah mendidih.


"Yyee, kenalan lama-lama juga bisa kenalin ke ortu. Beruntung si Daniel sudah gercep duluan. Jadi, nggak bakal punya kesempatan tuh Pak Refan," ujar Gea.

__ADS_1


Alesya tidak ambil pusing ucapan Gea. Dia kembali fokus pada aktivitasnya untuk membuatkan kopi Galih. Hingga beberapa saat kemudian, kopi tersebut sudah jadi. Galih membawa dua cangkir kopi yang sudah jadi ke depan. Sementara Gea dan Astri sudah kembali ke kamar.


Alesya segera membereskan dapur dan langsung bergegas kembali ke kamar setelah semua aktivitasnya selesai. Begitu masuk ke dalam kamar, kedua teman Alesya sedang fokus pada aktivitas masing-masing. Mereka mendapatkan tugas yang berbeda-beda.


Alesya pun juga melakukan hal yang sama. Namun, sebelum melanjutkan pekerjaannya, Alesya menyempatkan diri untuk memeriksa ponselnya. Masih belum ada pesan atau panggilan dari Daniel. Entah mengapa Alesya menjadi sedikit tidak nyaman dengan hal itu.


Ketika Alesya hendak mulai membuka laptopnya, tiba-tiba pintu kamar mereka di ketuk. Alesya yang saat itu berada di dekat pintu langsung beranjak berdiri untuk membuka pintu.


Ceklek.


Terlihat Nick berdiri di depan pintu kamar Alesya sambil mengeratkan sarung. Entah dapat dari mana sarung tersebut, padahal Nick adalah non muslim.


"Ada apa?" tanya Alesya.


"Keluar dulu, gih. Di depan ada suami lo."


Kedua bola mata dan mulut Alesya langsung membulat setelah mendengar ucapan Nick. 


"Da-Daniel? Ngapain dia kesini hampir tengah malam begini?" gumam Alesya tapi masih bisa didengar oleh Nick.


"Mungkin minta charger kali."


"Eh,"

__ADS_1


Jika masih punya jatah vote, bagi-bagi buat DaneSya, ya. Mohon bantu promosi cerita ini juga biar rame. 🤗


__ADS_2